Satu kata terasa lebih akrab daripada seharusnya.
Laras hampir tidak tidur.
Setiap kali matanya terpejam, ia teringat suara dari telepon.
Bukan.
Satu kata itu terus berulang.
Pukul enam pagi ia sudah duduk di meja makan, memandangi teh yang tidak disentuh.
Ratna keluar dari kamar sambil mengikat rambut.
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Matamu kayak orang habis nangis.”
“Kurang tidur.”
Ratna mengambil roti dari meja.
“Damar telepon lagi?”
Laras mengangkat kepala.
“Enggak.”
“Semalam siapa?”
“Damar.”
“Terus kenapa kamu larang Ibu angkat telepon?”
Laras diam sebentar.
“Mungkin sambungannya rusak.”
Ratna menatap putrinya.
“Kalau rusak, teleponnya diperbaiki. Bukan ditakuti.”
Laras tersenyum tipis.
“Iya.”
Ia berangkat lebih pagi.
Sepanjang perjalanan menuju toko, pikirannya hanya tertuju pada Damar.
Begitu sampai, pintu Seno Audio masih tertutup.
Pak Seno belum datang.
Damar juga belum.
Laras berdiri di depan toko beberapa menit.
Jam delapan lewat sepuluh.
Biasanya Damar datang paling lambat pukul delapan.
Ia mencoba menenangkan diri.
Mungkin kesiangan.
Mungkin motornya mogok.
Mungkin ia sengaja tidak datang karena kejadian semalam.
Pak Seno muncul dari ujung jalan sambil membawa koran.
“Ngapain berdiri?”
“Nunggu.”
“Nunggu siapa?”
“Damar.”
Pak Seno membuka gembok.
“Belum datang?”
“Belum.”
“Bagus.”
Laras menoleh.
“Bagus?”
“Sekali-kali biar kamu tahu rasanya nunggu orang telat.”
Mereka membuka toko.
Pak Seno langsung menyalakan kipas.
Laras menuju laci tempat kaset hitam disimpan.
Masih terkunci.
Ia membukanya.
Kaset itu tetap di sana.
Tidak berpindah.
Tidak berubah.
Entah kenapa ia merasa sedikit lega.
“Pak.”
Pak Seno membuka koran.
“Apa?”
“Kaset ini jangan diputar dulu.”
Pak Seno menurunkan korannya.
“Kemarin saya sudah bilang buang.”
“Bukan itu.”
“Terus?”
Laras ragu.
“Semalam saya ditelepon Damar.”
Pak Seno menunggu.
“Dia bawa salinannya.”
“Iya.”
“Katanya ada bagian yang berubah.”
Pak Seno mengerutkan kening.
“Berubah gimana?”
“Bagian yang nyebut nama Damar hilang.”
“Ya mungkin kalian salah dengar.”
“Terus ada bagian lain.”
“Apa?”
Laras tidak langsung menjawab.
Pak Seno mulai tidak sabar.
“Ras.”
“Di telepon... saya dengar suara laki-laki dari kaset.”
Pak Seno menatapnya lama.
Lalu melipat koran.
“Damar ngerjain kamu.”
“Enggak.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Dia suka iseng.”
“Enggak sampai begitu.”
Pak Seno berdiri.
“Kalau begitu tunggu dia datang.”
Laras melihat jam.
08.32.
Pintu toko terbuka.
Damar masuk.
Wajahnya pucat.
Ia membawa tas yang sama seperti semalam.
Laras langsung berdiri.
“Mar.”
Damar tidak menjawab.
Ia berjalan ke meja belakang lalu meletakkan tasnya.
Pak Seno ikut mendekat.
“Kamu kenapa?”
Damar menarik napas.
“Kasetnya ada.”
“Yang salinan?”
“Iya.”
Ia mengeluarkan kotak kaset.
Label tulisan tangannya masih jelas:
SALINAN XIII — 18/6/85
Laras mengambilnya.
“Kamu telepon lagi semalam?”
Damar menggeleng.
“Setelah putus?”
“Enggak.”
“Terus telepon rumah saya bunyi lagi.”
Damar menatap Laras.
“Saya enggak telepon.”
Pak Seno menghela napas.
“Kalian berdua jangan mulai.”
Damar membuka kotak kaset.
“Putar.”
Laras menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Kaset salinan dimasukkan.
Mereka mendengarkan.
Sisi pertama normal.
Tiga belas nama.
Tidak ada tambahan.
Tidak ada suara aneh.
Mereka membalik sisi kedua.
Bagian yang menyebut Laras tetap ada.
“Siapa?”
“Laras.”
Pak Seno memandang Laras sekilas.
Rekaman berlanjut.
Namun kalimat yang semalam didengar Damar tidak muncul.
Tidak ada:
Jangan dengarkan setelah lampu padam.
Tidak ada:
Damar datang terlambat.
Tidak ada apa-apa.
Setelah kalimat terakhir, hanya desis.
Damar menekan stop.
Pak Seno bersandar ke meja.
“Nah.”
Damar tidak bicara.
Pak Seno menunjuk kaset.
“Sekarang jelas. Kamu capek, dengar yang enggak ada.”
Damar mengambil kaset.
“Saya dengar jelas.”
“Jam berapa?”
“Sekitar sembilan.”
“Sendirian?”
“Enggak.”
“Siapa?”
“Kakak saya di rumah.”
“Dia dengar?”
Damar diam.
“Enggak?”
“Dia di kamar.”
Pak Seno tersenyum tipis.
“Sudah.”
Laras memperhatikan Damar.
“Terus telepon?”
Damar menatapnya.
“Saya memang telepon.”
“Terus?”
“Setelah sambungan putus, saya enggak telepon lagi.”
Laras merasa perutnya mengeras.
Pak Seno memotong.
“Cukup. Kerja.”
Ia mengambil kaset hitam dari laci.
“Dan ini saya simpan.”
Laras langsung menahan tangannya.
“Pak.”
“Biar kalian enggak main-main lagi.”
“Jangan dibuang.”
Pak Seno menatapnya.
“Kenapa?”
Laras tidak tahu.
Akhirnya ia berkata,
“Belum tahu asalnya.”
Pak Seno menggeleng.
“Kamu ini kalau penasaran suka lupa batas.”
Ia memasukkan kaset hitam ke dalam laci meja kasir miliknya.
Mengunci.
“Mulai sekarang enggak ada yang putar.”
Damar tidak protes.