Wajah seseorang yang tidak pernah pulang.
Pagi itu Ratna bertingkah seolah percakapan semalam tidak pernah terjadi.
Ia menyiapkan teh, memotong tempe, lalu mengeluhkan harga beras yang naik. Tidak ada pembahasan tentang foto lama. Tidak ada nama Rahman.
Laras menunggu sampai ibunya duduk.
“Bu.”
“Hm?”
“Rahman siapa?”
Ratna tetap mengaduk teh.
“Sudah Ibu bilang. Teman ayahmu.”
“Teman dari mana?”
“Teman ya teman.”
“Kerja bareng?”
Ratna mengangkat wajah.
“Kamu kenapa tiba-tiba cari orang lama?”
Laras sebenarnya sudah menyiapkan jawaban.
Tapi ketika melihat wajah ibunya, ia mengubahnya.
“Namanya disebut orang kemarin.”
Ratna berhenti mengaduk.
“Siapa?”
“Pelanggan.”
“Kemudian?”
“Enggak ada.”
Ratna menatap Laras cukup lama.
“Kamu bohong?”
Laras tersenyum kecil.
“Ibu juga.”
Ratna meletakkan sendok.
Suasana meja makan berubah.
“Ibu cuma enggak mau kamu ikut campur hal yang sudah lama selesai.”
“Kalau selesai, kenapa Ibu takut?”
“Ibu enggak takut.”
“Semalam Ibu bilang jangan cari Rahman.”
Ratna bangkit membawa piring ke dapur.
“Karena orangnya sudah lama enggak ada.”
Laras mengikutinya.
“Meninggal?”
Ratna tidak menjawab.
“Bu?”
“Ayahmu kenal banyak orang.”
“Rahman salah satunya.”
“Iya.”
“Terus?”
Ratna membilas piring.
“Sudah.”
Laras bersandar di pintu dapur.
“Ibu masih simpan fotonya.”
Ratna mematikan keran.
“Bukan Ibu yang simpan.”
Laras mengernyit.
“Maksudnya?”
“Foto itu punya ayahmu.”
“Kenapa ada di album kita?”
“Mungkin terselip.”
“Dari kapan?”
Ratna mulai terlihat kesal.
“Laras, kamu mau berangkat kerja atau mau interogasi Ibu?”
Laras diam.
Ratna mengambil kain lap.
Beberapa detik kemudian suaranya melunak.
“Kalau ketemu nama orang lama, enggak semua harus dicari.”
“Kenapa?”
“Karena kadang kita cuma menemukan alasan kenapa orang itu hilang.”
Laras ingin bertanya lagi.
Namun Ratna sudah masuk kamar.
Percakapan selesai.
Setidaknya bagi ibunya.
Laras kembali ke kamar dan membuka album.
Foto itu tidak ada.
Ia memeriksa sela halaman.
Kosong.
“Ibu!”
Tidak ada jawaban.
Laras keluar kamar.
Ratna sudah berdiri dekat pintu depan dengan tas belanja.
“Foto Rahman mana?”
Ratna memakai sandal.
“Ibu simpan.”
“Kenapa?”
“Karena itu bukan punya kamu.”
“Bu.”
Ratna membuka pintu.
“Pergi kerja.”
Lalu keluar.
Laras berdiri sendirian di ruang tengah.
Ia kesal.
Tapi rasa kesal itu kalah oleh satu hal lain.
Ibunya tidak membuang foto itu.
Ratna menyimpannya.
Berarti foto itu penting.
Atau berbahaya.
Laras belum tahu mana.
Seno Audio sudah buka ketika Laras tiba.
Damar sedang mengganti karet pada tape recorder bongkaran.
Pak Seno duduk membaca koran.
Begitu melihat Laras, Damar berkata,
“Kamu kelihatan lebih jelek dari kemarin.”
“Terima kasih.”
“Kurang tidur lagi?”
Laras meletakkan tas.
“Ibuku kenal salah satu nama.”
Tangan Damar berhenti.
“Dari kaset?”
“Rahman.”
Pak Seno menurunkan korannya sedikit.
“Kenal gimana?”
“Ayahku punya foto sama dia.”
Damar menutup obeng.
“Kamu yakin orangnya sama?”
“Enggak.”
“Ya.”
“Tapi nama itu bikin Ibu aneh.”
“Orang tua kalau ditanya masa lalu memang suka aneh.”
Pak Seno menyela,
“Bukan orang tua. Kalian yang terlalu banyak tanya.”
Laras duduk di sebelah Damar.
“Foto itu dari 1978.”
“Terus?”
“Ibuku ambil lagi tadi pagi.”
Damar memandangnya.
“Nah, itu agak aneh.”
Pak Seno mengangkat koran.
“Tidak.”
Keduanya menoleh.
Pak Seno melanjutkan,
“Kalau ada anak saya tiba-tiba bongkar foto tujuh tahun lalu sambil nanya orang yang enggak jelas, saya juga ambil.”
Damar mengangguk.
“Masuk akal.”
Laras mendecakkan lidah.
“Kalian kompak sekali.”
“Karena kita masih waras,” jawab Pak Seno.
Damar hendak kembali bekerja ketika Laras memperhatikan koran di tangan Pak Seno.
“Ada arsip koran lama di sini?”
Pak Seno menatapnya dari balik kertas.
“Buat apa?”
“Cari sesuatu.”
“Kaset?”
Laras tidak menjawab.
Pak Seno melipat koran.
“Tidak ada.”
Damar berkata,
“Perpustakaan.”
Laras menoleh.
Damar menunjuk ke luar.
“Kalau mau koran lama, cari di perpustakaan. Atau kantor koran.”
Pak Seno menghela napas.
“Kamu malah kasih jalan.”
Damar tersenyum.
“Biar cepat selesai.”
Laras mengambil buku catatannya.
“Empat tahun lalu.”
Damar mengernyit.
“Apa?”
“Kasus Setiabudi.”
Pak Seno berhenti bergerak.
Tidak lama.
Tapi Laras melihatnya.
“Kamu tahu?” tanya Laras.
Pak Seno mengambil rokok.
“Tahu apa?”
“Mayat dalam kardus.”
Damar menoleh.
Wajahnya berubah.
“Oh.”
Laras melihatnya.
“Kamu tahu juga?”
“Orang Jakarta banyak yang tahu.”
Pak Seno menyalakan rokok.
“Berita besar waktu itu.”
“Korban laki-laki.”
“Iya.”
“Identitasnya enggak ketemu.”
Pak Seno menghembuskan asap.
“Terus kamu mau bilang suara kaset itu orangnya?”
“Belum.”
“Bagus.”
“Tapi rumah bongkarannya dari Setiabudi.”
“Setiabudi luas.”
“Nama Rahman ada.”
“Rahman juga luas.”
Damar menahan tawa.
Laras menatap tajam.
“Lucu?”
“Sedikit.”
Pak Seno berdiri.
“Kalau kamu mau cari koran, cari setelah jam makan. Tapi kerjaan selesai dulu.”
Laras melihatnya.
“Boleh?”
Pak Seno memasukkan rokok ke mulut.
“Saya enggak bisa larang orang keras kepala.”
Damar tersenyum.
“Itu izin.”
“Bukan.”
Namun kali ini Pak Seno tidak menghentikannya.
Siang hari Laras dan Damar pergi bersama.
Pak Seno awalnya hanya mengizinkan Laras, tetapi Damar ikut dengan alasan membeli komponen.
“Kalau Pak Seno tanya, saya ke toko elektronik,” katanya.
“Kalau ketahuan?”
“Ya saya memang nanti beli komponen.”
Mereka menuju sebuah perpustakaan yang menyimpan surat kabar lama.
Ruangan arsip lebih dingin daripada luar. Bau kertas tua bercampur dengan debu dan lem memenuhi udara.
Seorang petugas membantu mencarikan edisi akhir November 1981.
“Tanggal berapa?”
“Dua puluh tiga,” jawab Laras.
Petugas menggeleng.
“Kalau kejadian tanggal dua puluh tiga, beritanya mungkin besok.”
Mereka mulai dari tanggal 24.
Damar duduk di sebelah Laras.
Beberapa menit pertama mereka hanya membalik halaman.
Politik.
Harga kebutuhan.
Iklan mobil.
Film bioskop.
Olahraga.
Laras hampir melewati sebuah halaman ketika Damar menahan tangannya.
“Ini.”
Judul besar berada di bagian tengah.
Tentang penemuan potongan tubuh seorang laki-laki di kawasan Setiabudi.
Laras berhenti.
Ia membaca perlahan.
Damar ikut mendekat.