Dulu orang mengirimkan dirinya melalui kaset.
Alamat Marni ternyata hanya sekitar dua puluh menit dari toko.
Laras dan Damar datang menjelang sore dengan alasan mengantarkan hasil rekaman.
Kaset pesan untuk Jaka sebenarnya baru selesai pagi tadi. Tidak ada yang menyuruh mereka mengantar. Biasanya pelanggan mengambil sendiri.
Tapi Laras sudah memutuskan.
“Kalau dia tanya kenapa dianter?” tanya Damar.
“Bilang kebetulan lewat.”
“Kita enggak kebetulan lewat.”
“Dia enggak tahu.”
“Mulai pintar bohong.”
Laras menatapnya.
“Kalau takut, tunggu di luar.”
“Siapa bilang takut?”
“Kemarin kamu enggak mau pegang kaset.”
“Itu beda.”
Rumah Marni berdiri di ujung gang sempit.
Tidak besar.
Cat temboknya krem pucat. Ada pohon jambu di halaman dan sebuah mesin jahit terlihat dari jendela depan.
Laras mengetuk pintu.
Tak lama kemudian Marni muncul.
Wajahnya langsung cerah.
“Lho, Mbak Laras.”
“Siang, Bu.”
“Kok ke sini?”
Laras menunjukkan kaset.
“Pesan buat Mas Jaka sudah selesai. Kebetulan kami ada urusan dekat sini.”
Damar menoleh sedikit.
Laras pura-pura tidak melihat.
“Wah, repot-repot.”
Marni membuka pintu lebih lebar.
“Masuk dulu.”
Ruang tamunya sederhana.
Sofa kayu.
Televisi kecil.
Mesin jahit di sudut.
Beberapa foto keluarga memenuhi dinding.
Laras langsung melihat semuanya.
Tidak ada foto laki-laki muda yang bisa dikenali sebagai Jaka.
Marni membuat teh.
Damar duduk dekat pintu.
Laras memperhatikan meja kecil di sebelah lemari.
Ada beberapa kaset.
Semuanya tersusun rapi.
“Koleksi, Bu?”
Marni menoleh.
“Oh, itu.”
Ia tertawa kecil.
“Kaset lama.”
“Lagu?”
“Macam-macam.”
Marni kembali membawa teh.
Laras menyerahkan kaset pesanan.
“Kalau Mas Jaka balas, bisa direkam lagi.”
Marni mengusap kotaknya.
“Biasanya begitu.”
Laras menatapnya.
“Biasanya?”
“Iya.”
Marni duduk.
“Dulu sebelum telepon gampang, orang kirim suara pakai kaset.”
Damar mengangguk.
“Masih banyak.”
“Sekarang sudah enggak sebanyak dulu.”
Marni tersenyum.
“Dulu ada tempat khusus.”
Laras langsung tertarik.
“Tempat rekam?”
“Iya.”
“Di mana?”
Marni menunjuk ke arah jalan besar.
“Dulu tidak jauh dari sini.”
“Namanya?”
Marni berpikir sebentar.
“Suara Pulang.”
Laras dan Damar saling pandang.
Marni tidak melihat.
Ia sedang membuka kotak kaset kiriman Laras.
“Orang-orang datang ke sana kalau mau kirim pesan ke keluarga. Yang enggak bisa baca surat juga dibantu.”
“Siapa yang punya?” tanya Laras.
Marni mengangkat wajah.
“Bu Rukmini.”
Nama itu baru.
Laras menyimpannya dalam kepala.
“Masih ada tempatnya?”
“Sudah tutup.”
“Sejak kapan?”
Marni mengangkat bahu.
“Lama.”
Damar bertanya, “Ibu sering ke sana?”
Marni tersenyum kecil.
“Dulu.”
“Buat kirim pesan ke Jaka?”
Senyum Marni hilang sedikit.
Laras melihatnya.
Marni meletakkan kaset di meja.
“Jaka kerja jauh.”
“Di Surabaya?”
“Iya.”
“Dari dulu?”
Marni tidak langsung menjawab.
“Pindah-pindah.”
Laras mencoba terdengar santai.
“Berarti sudah lama merantau.”
“Lumayan.”
“Pernah enggak pulang lama?”
Marni menatapnya.
Pertanyaan itu terlalu jauh.
Laras sadar.
Ia segera tersenyum.
“Maaf, Bu. Jadi kepo.”
Marni tidak marah.
Justru tertawa kecil.
“Anak muda memang begitu.”
Ia mengambil satu kaset dari lemari.
Cangkangnya transparan.
Labelnya sudah menguning.
Tulisan tangan di depannya:
JAKA — 1979
Laras merasa dadanya menegang.
“Ini suara Mas Jaka?”
Marni mengangguk.
“Dulu dia kirim.”
“Boleh dengar?”
Damar langsung menoleh ke Laras.
Marni terlihat ragu.
Hanya sebentar.
Kemudian ia mengambil tape recorder kecil dari bawah meja.
“Sudah lama enggak diputar.”
Kaset dimasukkan.
Tombol play ditekan.
Desis.
Lalu suara laki-laki terdengar.
“Bu…”
Laras membeku.
Suara itu berat.
Sedikit lebih muda.
Kualitas rekamannya berbeda.
Tetapi—
ia mengenalnya.
Damar juga.
Laras bisa melihat dari wajahnya.
Suara dari Pita Hitam.
Laki-laki itu berbicara santai.
“Ini Jaka.”
Laras menahan napas.
“Maaf belum bisa pulang. Kerjaan masih banyak.”
Marni tersenyum sambil mendengarkan.
“Jangan khawatir. Saya sehat.”
Laras melihat Damar.
Damar menatap tape recorder.
“Kalau ada uang lebih saya kirim.”
Suara itu berhenti sejenak.
Kemudian:
“Bu jangan sering tunggu di depan rumah.”
Marni tertawa kecil.
“Dia tahu kebiasaan saya.”
Laras tidak ikut tertawa.
Kaset selesai sekitar dua menit kemudian.
Marni mengeluarkannya.
“Dulu saya putar hampir tiap malam.”
Laras bertanya pelan,
“Mas Jaka yang rekam sendiri?”
Marni mengangguk.
“Katanya.”
“Katanya?”
Marni melihat kaset di tangannya.
“Dikirim dari Suara Pulang.”
“Jadi Ibu enggak lihat waktu direkam?”
“Enggak.”
Damar tiba-tiba bertanya,
“Bu pernah ketemu Jaka setelah kaset ini?”
Marni menatapnya.
“Iya.”
Jawabannya cepat.
Laras menunggu.
Marni tidak melanjutkan.
“Kapan terakhir?” tanya Laras.
Wajah perempuan itu berubah.
“Sudah lama.”
“Masih ingat tahun?”
Marni berdiri.
“Saya ambil gorengan dulu.”
Ia pergi ke dapur.
Laras menatap Damar.
Damar berbisik,
“Suara yang sama.”
“Iya.”