PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #6

Perempuan di Balik Mikrofon

Suara lembut tidak selalu datang untuk menenangkan.

Alamat Suara Pulang membawa Laras dan Damar ke sebuah bangunan dua lantai di ujung jalan yang mulai dipenuhi pertokoan kecil.

Tidak ada papan nama.

Lantai bawah sekarang menjadi toko alat tulis. Bagian atas tampak kosong, dengan jendela kayu tertutup dan cat putih yang sudah menguning.

Damar melihat catatan alamat di tangannya.

“Benar ini?”

Laras mencocokkannya dengan buku telepon lama.

“Nomornya sama.”

Mereka masuk.

Seorang laki-laki berkacamata sedang menyusun buku tulis di rak.

“Cari apa?”

Laras tersenyum.

“Pak, dulu tempat ini pernah jadi jasa rekaman?”

Laki-laki itu berpikir.

“Rekaman?”

“Namanya Suara Pulang.”

Wajahnya langsung menunjukkan pengenalan.

“Oh.”

Laras dan Damar saling pandang.

“Bapak tahu?”

“Dulu.”

“Yang punya Bu Rukmini?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Sudah lama tutup.”

“Sejak kapan?”

“Sekitar tiga tahun lalu.”

Laras menghitung cepat.


Tak lama setelah kasus Setiabudi.

“Kenapa tutup?”

Laki-laki itu tertawa.

“Mana saya tahu. Saya baru sewa tempat ini setelah kosong.”

“Bu Rukmini pindah?”

“Katanya.”

“Ke mana?”

Ia mengangkat bahu.

“Coba tanya Bu Aminah.”

“Siapa?”

Laki-laki itu menunjuk warung di seberang jalan.

“Yang jual nasi. Dia dari dulu di sini.”

Laras mengucapkan terima kasih.

Sebelum keluar, Damar berhenti di dekat pintu.

Pada bagian atas kusen terdapat bekas warna yang berbeda.

Seperti sesuatu pernah dipasang cukup lama di sana.

“Papan nama,” katanya.

Laras melihat.

Cat yang terlindungi papan masih berwarna putih bersih. Bentuknya memanjang.

Di sudut kiri masih ada dua paku berkarat.

Damar tersenyum kecil.

“Berarti benar.”

Mereka menyeberang.

Warung Bu Aminah tidak terlalu besar. Ada etalase berisi lauk, beberapa kursi kayu, dan radio kecil yang memutar lagu pelan.

Perempuan tua di belakang meja menyambut mereka.

“Makan?”

“Enggak, Bu. Mau tanya.”

“Kalau tanya sambil makan lebih enak.”

Damar langsung duduk.

“Dua es teh.”

Laras menatapnya.

“Apa?”

“Biar sopan.”

Bu Aminah tertawa.

“Pintar yang ini.”

Setelah dua gelas datang, Laras mengeluarkan kertas alamat.

“Ibu dulu kenal Suara Pulang?”

Bu Aminah diam beberapa detik.

“Bu Rukmini?”

“Iya.”

“Kenapa cari dia?”

“Dulu keluarga saya pernah pakai jasanya.”

Jawaban itu setengah bohong.

Bu Aminah tidak terlihat curiga.

“Banyak yang pakai.”

“Orang sering kirim kaset dari sana?”

“Dulu iya.”

Bu Aminah duduk.

“Belum semua rumah punya telepon. Telepon jauh juga mahal. Orang kirim surat suara.”

“Surat suara?”

“Ya ngomong ke kaset.”

Laras mengangguk.

“Bu Rukmini yang merekam?”

“Kadang.”

“Kadang?”

“Ada pegawai.”

Laras langsung tertarik.

“Siapa?”

Bu Aminah mencoba mengingat.

“Ganti-ganti.”

“Laki-laki?”

“Ada.”

“Namanya Rahman?”

Bu Aminah memandang Laras.

“Rahman…”

Ia mengulang nama itu beberapa kali.

Lalu menggeleng.

“Enggak ingat.”

“Jaka?”

“Banyak Jaka.”

“Anton?”

Bu Aminah tertawa.

“Kalau kamu sebut nama satu Jakarta, nanti ada yang cocok.”

Damar menahan senyum.

Laras menyerah.

“Ada yang aneh dari tempat itu?”

Bu Aminah mengangkat alis.

“Aneh gimana?”

“Misalnya orang datang malam.”

“Ya ada.”

“Sering?”

“Kadang.”

Laras mencondongkan tubuh sedikit.

“Buat rekaman?”

Bu Aminah mulai terlihat tidak yakin.

“Kayaknya.”

“Kenapa malam?”

“Orang kerja siang.”

Masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Damar meminum es tehnya.

Laras bertanya lagi,

“Bu Rukmini seperti apa?”

Bu Aminah tersenyum.

“Baik.”

Jawabannya datang cepat.

“Ramah?”

“Ramah. Sabar.”

“Pernah marah?”

Bu Aminah tertawa.

“Orang kok ditanya pernah marah.”

“Penasaran.”

“Enggak pernah lihat.”

Ia mengambil sendok dan mulai merapikan lauk di etalase.

“Kalau ada orang datang nangis, pulangnya biasanya lebih tenang.”

Laras melihat Damar.

“Datang nangis?”

“Namanya juga orang kirim pesan. Ada yang suaminya pergi. Anak merantau. Saudara enggak pulang.”

Bu Aminah melanjutkan,

“Bu Rukmini itu enak diajak bicara.”

“Dia psikolog?”

“Bukan.”

“Dokter?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Ya orang biasa.”

Bu Aminah tertawa kecil.

“Kadang orang cuma butuh didengar.”

Kalimat itu sederhana.

Namun Laras teringat kaset.

Dengar suara saya.

Ia menahan diri agar tidak menunjukkan reaksi.

“Bu Rukmini sekarang di mana?”

Bu Aminah berpikir.

Kemudian menunjuk sebuah jalan.

“Masih dekat.”

Laras terkejut.

“Masih di Setiabudi?”

“Iya.”

“Alamatnya?”

Bu Aminah terlihat ragu.

“Buat apa?”

“Cuma mau tanya soal rekaman keluarga.”

Damar ikut berkata,

“Sebentar saja, Bu.”

Akhirnya Bu Aminah mengambil kertas pembungkus bekas dan menulis alamat.

Sebelum menyerahkannya, ia berkata,

“Kalau Bu Rukmini enggak mau ngomong, jangan dipaksa.”

“Kenapa?”

Bu Aminah mengangkat bahu.

“Sejak tempatnya tutup, dia enggak suka membahas Suara Pulang.”

Laras menerima kertas.

“Terima kasih.”

Mereka berdiri.

Saat hendak pergi, Bu Aminah memanggil.

“Mbak.”

Laras menoleh.

“Kalau mau tanya soal orang yang pernah rekam di sana…”

“Iya?”

“Jangan terlalu percaya nama.”

Laras berhenti.

Damar juga.

Bu Aminah tampak tidak sadar bahwa kalimatnya punya arti lebih besar.

“Dulu banyak orang malu kasih nama asli.”

“Kenapa?”

“Macam-macam. Utang. Masalah keluarga. Selingkuh.”

Ia tertawa.

“Orang kalau bicara sama kaset kadang lebih jujur daripada bicara sama manusia.”

Laras tersenyum tipis.

“Baik, Bu.”

Mereka keluar.

Damar baru bicara setelah cukup jauh.

“Jangan terlalu percaya nama.”

Laras mengangguk.

“Dengar.”

“Dengar.”

“Mulai cocok.”

Damar langsung menoleh.

“Jangan senang dulu.”

“Aku enggak senang.”

“Wajahmu kayak dapat hadiah.”

Laras memasukkan alamat Rukmini ke tas.

“Sekarang kita lihat orangnya.”

Rumah Rukmini lebih sederhana dari bayangan Laras.

Tidak ada pagar tinggi.

Tidak ada ruangan gelap.

Tidak ada tanda-tanda aneh.

Rumah satu lantai dengan dinding hijau muda, halaman kecil, beberapa tanaman bunga, dan tirai putih di jendela.

Damar berdiri di depan pagar.

“Kalau dia tanya kita siapa?”

“Nama asli.”

“Berani.”

“Kalau pakai nama palsu malah lucu.”

Mereka mengetuk.

Tidak ada jawaban.

Laras mengetuk lagi.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Seorang perempuan muncul.

Usianya sekitar pertengahan lima puluhan.

Rambutnya disanggul sederhana. Ia mengenakan blus krem dan rok panjang. Wajahnya tidak terlihat keras.

Justru lembut.

“Ya?”

Laras membuka mulut.

Namun kata-katanya terlambat keluar.

Lihat selengkapnya