PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #7

Setelah Tengah Malam

Laras mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Laras tiba di rumah sebelum malam.

Ratna sedang menyapu teras.

Begitu melihat anaknya, ia berhenti.

“Kamu dari mana?”

“Toko.”

“Bohong.”

Laras membuka pagar.

“Kok Ibu tahu?”

“Kalau dari toko, kamu enggak pulang sama muka begitu.”

Laras melepas sandal.

“Cuma capek.”

Ratna menaruh sapu.

“Kamu ketemu siapa?”

Laras diam sebentar.

“Rukmini.”

Wajah Ratna langsung berubah.

“Ibu bilang jangan.”

“Ibu enggak pernah bilang jangan ketemu Rukmini.”

“Kalau Ibu bilang jangan cari, artinya jangan cari siapa pun yang ada hubungannya.”

Laras masuk ke ruang tengah.

Ratna mengikuti.

“Dia ngomong apa?”

“Banyak.”

“Kaset?”

“Iya.”

Ratna menatapnya.

“Dia ngaku?”

“Enggak.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Kalau dia enggak ngaku, berarti kamu enggak punya alasan buat datang lagi.”

Laras mengeluarkan buku catatan.

Ia membuka halaman tiga belas nama.

Tulisan asing itu masih ada.

Jangan datang lagi setelah gelap.

Ratna membaca.

“Ini siapa yang nulis?”

“Enggak tahu.”

“Rukmini?”

“Mungkin.”

Ratna menutup buku itu.

“Buang.”

“Kenapa semua orang maunya buang?”

“Karena enggak semua yang ditemukan harus disimpan.”

Laras mengambil kembali bukunya.

“Bu Rukmini kenal Ayah.”

Ratna diam.

“Lebih dari sekali.”

Ratna duduk.

“Ayahmu dulu keras kepala.”

“Itu juga yang dia bilang.”

“Kamu enggak perlu ikut.”

“Ibu selalu jawab begitu.”

“Karena kamu mulai mirip dia.”

Laras menatap ibunya.

“Mirip gimana?”

“Kalau sudah merasa ada yang disembunyikan, enggak bisa berhenti.”

Ratna berdiri lalu masuk dapur.

Laras mengikuti.

“Bu.”

Ratna membuka lemari.

“Apa?”

“Rukmini bilang jangan mulai dari nama.”

Tangan Ratna berhenti.

“Dia bilang mulai dari orang yang paling membutuhkan laki-laki itu menjadi seseorang.”

Ratna perlahan menoleh.

“Apa maksudnya?”

“Aku juga belum tahu.”

“Dia nyebut Marni?”

“Enggak.”

Ratna langsung terlihat lega.

Terlalu jelas.

Laras menangkapnya.

“Ibu kenal Marni.”

Ratna menutup lemari.

“Sudah malam.”

“Bu.”

“Besok.”

“Kenapa setiap ada nama, Ibu selalu bilang besok?”

Ratna menatapnya tajam.

“Karena kalau semua dibuka sekaligus, kamu belum tentu siap.”

“Siap buat apa?”

Tidak ada jawaban.

Ratna mengambil gelas dan menuang air.

Laras menunggu.

Akhirnya ibunya berkata,

“Marni pernah datang ke rumah.”

Laras membeku.

“Kapan?”

“Lama.”

“Sebelum Rahman hilang?”

“Sesudah.”

“Buat apa?”

Ratna menggeleng.

“Cari ayahmu.”

“Kenapa?”

“Katanya mau tanya soal Jaka.”

Laras merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

“Ayah kenal Jaka?”

“Enggak tahu.”

“Ibu dengar mereka ngomong?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Marni datang dua kali.”

“Setelah itu?”

“Enggak pernah.”

Laras mendekat.

“Kenapa Ibu tadi pagi pura-pura enggak kenal?”

Ratna menatapnya.

“Karena semakin banyak kamu tahu, semakin banyak yang kamu cari.”

“Dan kalau aku cari?”

Ratna menjawab pelan,

“Takutnya kamu menemukan sesuatu yang dulu seharusnya dibiarkan selesai.”

Laras ingin bertanya lagi.

Tapi Ratna sudah masuk kamar.

Malam itu mereka makan tanpa banyak bicara.

Laras mencoba membaca setelahnya, lalu menyerah.

Jam sepuluh malam ia masih terjaga.

Jam sebelas, ia masih memikirkan tiga belas nama.

Jam dua belas lewat, suara motor di jalan mulai berkurang.

Laras mematikan lampu kamar.

Ia berbaring.

Beberapa menit kemudian—

Tuk.

Matanya terbuka.

Tidak ada apa-apa.

Tuk.

Laras duduk.

Suara dari teras.

Ia melihat jam.

00.17.

Tuk.

Bukan ketukan pintu.

Lebih seperti benda kecil mengenai kaca.

Laras keluar kamar.

Ruang tengah gelap.

Lampu teras masih menyala.

Ratna tidur.

Laras mendekati jendela.

Tidak ada orang.

Ia membuka tirai sedikit.

Halaman kosong.

Pagar tertutup.

Kemudian—

Tuk.

Sesuatu mengenai kaca lagi.

Laras melihat ke bawah.

Sebuah batu kecil jatuh di lantai teras.

Ia menahan napas.

Seseorang ada di luar.

Laras mematikan lampu teras.

Gelap.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada apa-apa.

Lalu dari luar terdengar suara laki-laki.

Pelan.

“Rahman.”

Laras membeku.

Suara itu hanya sekali.

“Rahman.”

Laras mendekat ke pintu.

Tangannya hampir menyentuh kunci.

Kemudian ia teringat satu kalimat dari kaset.

Tidak perlu berpikir. Jawab ketika dipanggil.

Laras mundur.

Tidak membuka.

Tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian tidak terdengar suara lagi.

Pagi harinya, batu kecil masih ada di teras.

Tapi tidak ada orang yang tahu dari mana datangnya.

Laras tidak menceritakan kejadian itu kepada Ratna.

Ia juga tidak menceritakannya kepada Damar.

Setidaknya belum.

Pagi itu ia datang ke toko dan langsung bekerja.

Damar terlihat lebih segar.

“Tumben diam.”

“Biar kamu senang.”

“Justru curiga.”

Pak Seno belum datang.

Laras membuka buku catatan.

Di halaman baru ia menulis:

00.17 — suara dari luar rumah. Memanggil Rahman dua kali.

Damar melihat dari belakang.

“Apa itu?”

Laras cepat menutup buku.

“Enggak ada.”

“Mulai rahasia-rahasiaan.”

“Kerja.”

Damar menatapnya beberapa detik.

“Semalam ada apa?”

Laras menghela napas.

“Dengar suara.”

“Kaset?”

“Enggak.”

“Telepon?”

“Enggak.”

“Terus?”

Laras menceritakan singkat.

Wajah Damar berubah.

“Kamu buka pintu?”

“Enggak.”

“Bagus.”

“Bisa saja orang lewat.”

“Jam dua belas malam manggil Rahman?”

Laras mengangkat bahu.

“Nama biasa.”

Damar tertawa pendek.

“Kamu sekarang yang bilang nama biasa?”

Laras tidak menjawab.

Pak Seno datang sebelum percakapan lanjut.

Lihat selengkapnya