Alamat lama yang masih menyimpan napas.
Tidak ada yang langsung bicara setelah Ratna menyebut nama itu.
Rahman.
Laras masih berdiri dekat pintu. Damar berada beberapa langkah di belakangnya, seolah merasa dirinya tidak seharusnya mendengar percakapan itu tetapi juga tidak mungkin pergi begitu saja.
Ratna duduk perlahan.
Laras mendekat.
“Aku umur berapa?”
“Enam.”
“Kenapa aku dibawa Ayah ke rumah itu?”
Ratna menggeleng.
“Waktu itu Ayahmu bilang cuma sebentar.”
“Buat ketemu siapa?”
“Rahman.”
Laras mengernyit.
“Rahman masih ada?”
“Waktu Ayah membawa kamu ke sana, iya.”
“Kapan?”
Ratna mencoba mengingat.
“Awal 1981. Mungkin Februari atau Maret.”
Beberapa bulan sebelum jasad tanpa identitas ditemukan di Setiabudi.
Laras langsung menghitung dalam kepala.
“Terus kenapa aku ikut?”
“Ibu enggak tahu.”
“Bohong.”
Ratna mengangkat wajah.
“Kali ini Ibu benar-benar enggak tahu.”
“Ayah pulang bawa aku?”
“Iya.”
“Terus aku minta dipanggil Rahman?”
“Bukan langsung.”
Ratna menarik napas.
“Malamnya kamu demam. Besok pagi Ibu panggil Laras, kamu enggak jawab.”
Damar akhirnya duduk.
Ratna melanjutkan.
“Ibu kira kamu ngambek. Tapi setiap dipanggil Laras, kamu bilang itu bukan nama kamu.”
Laras merasakan tangannya dingin.
“Aku bilang nama aku Rahman?”
“Iya.”
“Dua minggu?”
“Hampir.”
“Kenapa Ibu enggak pernah cerita?”
“Karena setelah itu kamu lupa.”
Ratna menatapnya.
“Kami juga mau lupa.”
Laras menggeleng pelan.
“Anak umur enam tahun enggak tiba-tiba pilih nama laki-laki dewasa.”
Ratna tidak membantah.
Damar berkata hati-hati,
“Bu, waktu Laras pulang dari sana... ada sesuatu yang dia bawa?”
Ratna berpikir.
“Kaset.”
Laras langsung menatapnya.
“Kaset apa?”
“Enggak tahu.”
“Masih ada?”
“Sudah lama hilang.”
“Siapa yang buang?”
Ratna tidak menjawab.
Laras sudah tahu.
“Ayah?”
Ratna mengangguk.
“Setelah kamu mulai minta dipanggil Rahman, ayahmu ambil kaset itu dan pergi.”
“Ke mana?”
“Rumah Jalan Sawo.”
Laras merasa semua kembali mengarah ke tempat yang sama.
“Setelah itu aku normal?”
“Beberapa hari kemudian.”
“Begitu saja?”
“Enggak.”
Ratna menunduk.
“Kamu bangun tengah malam, duduk di depan tape recorder yang mati, lalu bicara sendiri.”
Laras menahan napas.
“Ngomong apa?”
Ratna tampak ragu mengingatnya.
“Nama-nama.”
Damar dan Laras saling pandang.
“Berapa nama?” tanya Laras.
“Ibu enggak tahu.”
“Coba ingat.”
“Laras.”
“Bu.”
Ratna menutup mata sebentar.
“Banyak.”
Laras membuka tas dan mengeluarkan buku catatan.
Ia menunjukkan tiga belas nama.
“Pernah dengar?”
Ratna langsung melihat daftar.
Wajahnya perlahan berubah.
Jaka.
Anton.
Rahman.
Seno.
Bambang.
Hadi.
Rudi.
Yusuf.
Daniel.
Wawan.
Darsono.
Imam.
Marwan.
Ratna menunjuk satu.
“Anton.”
Laras duduk.
“Ibu kenal?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Kamu pernah bilang itu.”
“Kapan?”
“Waktu kecil.”
Laras merasa jantungnya mulai berdetak lebih keras.
Ratna menunjuk nama lain.
“Dan ini.”
Jaka.
Laras tidak berkedip.
“Kamu ingat?”
Ratna menggeleng.
“Cuma dua itu.”
“Rahman?”
“Rahman paling sering.”
Damar mengambil buku itu.
“Berarti nama-nama di kaset sudah ada sejak Laras kecil.”
Ratna melihatnya.
“Kaset apa?”
Laras belum pernah mengatakan semuanya.
Sekarang ia tidak punya alasan menyembunyikannya.
Ia menceritakan Pita Hitam.
Tiga belas nama.
Suara laki-laki.
Suara perempuan.
Nama Laras.
Nama Damar.
Ratna mendengarkan sampai selesai tanpa memotong.
Setelah itu ia berkata,
“Buang.”
Laras hampir tertawa.
“Semua orang bilang begitu.”
“Karena mungkin semua orang selain kamu sadar itu enggak baik.”
“Aku mau tahu kenapa namaku ada di sana.”
“Untuk apa?”
“Karena mungkin jawabannya juga menjelaskan kenapa waktu kecil aku minta dipanggil Rahman.”
Ratna berdiri.
“Jangan balik ke rumah itu.”
“Aku harus.”
“Laras.”
“Aku cuma lihat.”
“Kamu sudah lihat.”
“Ada ruang bawah.”
Ratna diam.
Damar menangkapnya lebih dulu.
“Ibu tahu?”
Ratna tidak menjawab.
Laras berdiri.
“Bu.”
Ratna akhirnya berkata,
“Dulu bukan cuma tempat rekaman.”
“Apa?”
“Itu rumah kos.”
Keesokan harinya Laras dan Damar kembali ke Jalan Sawo.
Bukan malam.
Matahari masih tinggi.
Damar bahkan sengaja datang sebelum jam makan siang.
“Kalau ada suara manggil nama saya, saya pulang,” katanya.
Laras membuka pagar.
“Kalau nama orang lain?”
“Masih dipertimbangkan.”
Rumah itu terlihat lebih biasa di siang hari.
Cat terkelupas.
Jendela kusam.
Daun kering.
Tidak ada apa pun yang membuatnya terlihat seperti tempat yang menyimpan rahasia besar.
Justru itu yang membuat Laras tidak nyaman.
Malam membuat apa pun terlihat menakutkan.
Siang tidak memberi alasan semacam itu.
Di sebelah rumah terdapat bangunan kecil tempat seorang tukang reparasi payung bekerja.
Laras menghampiri.
“Pak, rumah ini dulu kos?”
Laki-laki itu mengangkat kepala.
“Dulu sekali.”
“Bapak ingat?”
“Saya dari tahun tujuh puluhan di sini.”
Damar langsung mengambil bangku kecil.
“Boleh tanya sebentar?”
“Tanya saja.”
“Yang punya siapa?”
“Dulu keluarga Sasmita.”
Laras langsung tahu.
“Rukmini Sasmita?”
“Kenal?”
“Pernah ketemu.”
Laki-laki itu mengangguk.
“Bu Rukmini yang urus.”
“Suara Pulang juga di sini?”
“Belakangan.”
Ia menunjuk lantai depan.
“Awalnya kos. Terus kamar depan dipakai rekaman.”
“Yang ngekos banyak?”
“Enggak. Paling enam, tujuh orang.”
Laras dan Damar saling pandang.
“Ada yang namanya Rahman?”
Laki-laki itu berpikir.
“Rahman...”
Lalu tertawa kecil.
“Saya enggak hafal.”
“Jaka?”
Ia menggeleng.
“Anton?”
Kali ini wajahnya berubah.
“Anton ada.”
Laras langsung mendekat.
“Bapak ingat?”
“Orang Ambon kalau enggak salah.”
“Masih hidup?”
“Mana saya tahu.”
“Kamarnya?”
Laki-laki itu menunjuk lantai samping rumah.
“Belakang.”
“Nomor berapa?”
“Tujuh.”
Laras menatap rumah.
“Tadi katanya paling enam tujuh orang.”
“Kamar tujuh bukan berarti tujuh orang.”
“Masih ada kamarnya?”
Laki-laki itu mengangguk.
“Kalau belum dibongkar.”
Damar bertanya,