PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #9

Langkah Jam Tiga Pagi

Teror pindah dari pita ke tubuh.

Ratna tidak tidur lagi malam itu.

Begitu mendengar nama Rahman keluar dari mulut Laras, ia langsung menyalakan semua lampu rumah.

Tape recorder di meja diperiksa.

Kosong.

Kabelnya bahkan belum terpasang.

“Jadi kamu dengar dari sini?” tanya Ratna.

Laras mengangguk.

“Jelas?”

“Iya.”

“Suara siapa?”

“Yang dari kaset.”

Ratna menatap mesin itu lama.

Damar sudah pulang sejak sore. Tidak ada orang lain di rumah.

“Bu.”

Ratna menoleh.

“Rahman pernah ketemu aku waktu kecil?”

“Ibu enggak tahu.”

“Di buku itu ada catatan.”

Laras membuka halaman yang ia baca tadi.

Rahman — gagal. Masih ingat dirinya ketika mendengar suara anak.

Ratna membacanya.

Wajahnya makin tegang.

“Ini buku dari rumah itu?”

“Iya.”

“Kamu mencuri?”

“Bukan itu yang penting.”

“Buat Ibu penting.”

Ratna menutup buku.

“Besok kembalikan.”

“Enggak.”

“Laras.”

“Kalau dikembalikan, kita enggak punya apa-apa.”

“Kita?”

Laras terdiam.

Ratna menatapnya.

“Kamu bukan polisi.”

“Aku tahu.”

“Kamu juga bukan keluarga orang-orang itu.”

“Ayah terlibat.”

“Itu justru alasan kamu berhenti.”

Laras hendak membalas ketika terdengar bunyi dari lorong.

Tap.

Keduanya diam.

Tap.

Seperti langkah kaki.

Pelan.

Laras melihat jam dinding.

03.07.

Ratna berdiri.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Langkah terdengar lagi.

Tap.

Tap.

Datang dari arah kamar Laras.

Ratna mengambil sapu.

Laras hampir tertawa kalau situasinya tidak terasa aneh.

Mereka berjalan ke lorong.

Lampu menyala.

Pintu kamar Laras terbuka.

Tidak ada siapa-siapa.

Ratna masuk lebih dulu.

Jendela tertutup.

Lemari tertutup.

Kolong ranjang kosong.

“Tikusan mungkin,” kata Ratna.

“Langkah tikus?”

“Rumah tua bunyi macam-macam.”

Laras mengangguk.

Masuk akal.

Lalu Ratna melihat lantai.

Ada bekas telapak kaki.

Bukan jejak lumpur.

Lebih seperti tapak basah.

Satu.

Dua.

Tiga.

Mulai dari dekat jendela.

Berakhir di samping ranjang.

Laras mendekat.

Ukuran kaki orang dewasa.

Ratna tidak bicara.

“Bu.”

“Ambil kain.”

Laras menatapnya.

“Buat apa?”

“Bersihkan.”

“Siapa yang masuk?”

Ratna tidak menjawab.

Ia mengambil kain sendiri.

Saat hendak mengusap jejak pertama, Laras memegang tangannya.

“Tunggu.”

“Apa lagi?”

Laras melihat pola jejak itu.

Tidak menuju keluar.

Semua menghadap ke ranjang.

Seolah seseorang masuk dari jendela—

lalu berhenti tepat di tempat Laras biasa tidur.

“Ini bukan dari kita.”

Ratna menarik tangannya.

“Makanya dibersihkan.”

Laras menatap ibunya.

“Kenapa Ibu kayak sudah pernah lihat?”

Ratna berhenti.

Tidak menjawab.

Laras makin curiga.

“Bu.”

Ratna akhirnya duduk di tepi ranjang.

“Waktu kamu kecil, pernah ada begini.”

Laras merasakan tengkuknya dingin.

“Kapan?”

“Setelah dari rumah Jalan Sawo.”

“Jejak kaki?”

Ratna mengangguk.

“Setiap malam?”

“Enggak.”

“Jam berapa?”

Ratna melihat jam dinding.

“Selalu sekitar jam tiga.”

Laras tidak bergerak.

“Terus?”

“Kamu bangun.”

“Ngapain?”

Ratna menunduk.

“Jalan.”

“Tidur sambil jalan?”

“Awalnya Ibu kira begitu.”

“Terus?”

“Kamu enggak tidur.”

Laras merasa dadanya mengeras.

“Kamu buka mata. Kamu jawab kalau ditanya.”

“Terus aku ke mana?”

Ratna menatap pintu kamar.

“Ke ruang tengah.”

“Buat apa?”

“Berdiri depan tape recorder.”

Laras terdiam.

Ratna melanjutkan pelan,

“Kadang sampai satu jam.”

“Terus?”

“Kamu sebut nama.”

“Tiga belas?”

“Ibu enggak pernah hitung.”

Laras duduk.

“Kenapa Ibu baru cerita sekarang?”

Ratna terlihat lelah.

“Karena setelah dua minggu berhenti.”

“Dan Ayah?”

“Dia bawa kamu ke dokter.”

“Dokter apa?”

“Dokter biasa.”

“Terus?”

“Katanya mungkin stres.”

Laras tertawa hambar.

“Anak enam tahun stres karena apa?”

Ratna tidak menjawab.

“Karena rumah itu?”

“Entah.”

Hening.

Lalu dari ruang tengah terdengar suara.

Klik.

Laras langsung berdiri.

Ratna menahannya.

“Jangan.”

Namun Laras sudah keluar.

Tape recorder masih di atas meja.

Kosong.

Tapi tombol play turun sendiri.

Tidak ada pita.

Tidak ada suara.

Hanya putaran roda kecil.

Laras mendekat.

Tombol itu naik kembali.

Klik.

Ratna berdiri di belakangnya.

Lihat selengkapnya