PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #10

Mesin Pemutar Tua

Akal sehat ikut duduk di meja yang salah.

Pita yang pernah di potong

Foto itu dibawa Laras ke toko keesokan paginya.

Ia tidak memasukkannya ke tas.

Sejak keluar rumah, foto itu ia simpan di dalam sebuah amplop cokelat dan terus digenggam.

Damar sedang membuka rolling door ketika Laras datang.

“Pagi.”

Laras langsung menyerahkan amplop.

Damar mengangkat alis.

“Apa?”

“Lihat.”

Ia membuka amplop.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.

Foto Laras kecil.

Kursi kayu.

Laki-laki yang wajahnya digores.

Tulisan di belakang:

RAHMAN — LATIHAN KETIGA

Dan di bawah tanggal:

Besok mulai gunakan nama Laras lagi.

Damar membaca dua kali.

“Ini semalam?”

Laras mengangguk.

“Di depan rumah?”

“Iya.”

“Siapa yang taruh?”

“Enggak tahu.”

“Jejak kaki?”

“Tiga.”

Damar mengembalikan foto.

“Kita ke polisi.”

Laras hampir tertawa.

“Terus bilang apa?”

“Orang masuk halaman rumah.”

“Enggak ada yang lihat.”

“Ada foto.”

“Foto dua puluh empat tahun lalu.”

Damar menatapnya.

“Empat tahun.”

Laras diam sebentar.

Foto itu bertanggal 1981.

Ia sendiri tidak tahu kenapa angka dua puluh empat tadi hampir keluar dari mulutnya.

“Ya. Empat.”

Damar memperhatikannya.

“Kamu benar-benar butuh tidur.”

“Aku tidur.”

“Berapa jam?”

“Cukup.”

“Berapa?”

Laras tidak menjawab.

Damar membuka pintu toko sampai penuh.

“Mulai hari ini kaset itu jangan diputar dulu.”

“Katanya tiga hari.”

“Sekarang saya enggak peduli tiga hari.”

Laras masuk.

“Justru sekarang harus diputar.”

Damar menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku mau tahu satu hal.”

“Apa?”

Laras mengeluarkan buku penghuni.

“Catatan bilang aku pernah dengar sesuatu waktu kecil. Kalau suara yang sekarang kita dengar sama dengan kaset dulu, berarti—”

“Berarti kamu makin enggak tidur.”

“Mar.”

“Enggak.”

Damar masuk ke belakang toko.

Pak Seno belum datang.

Laras mengikuti.

“Kalau kita berhenti sekarang, kita enggak tahu apa-apa.”

“Bagus.”

“Bagus apanya?”

“Kita bisa hidup normal lagi.”

Laras mendengus.

“Setelah ada orang taruh foto aku kecil di depan rumah?”

Damar berhenti.

Itu argumen yang sulit dibantah.

Beberapa detik kemudian ia menghela napas.

“Oke.”

Laras tersenyum sedikit.

“Tapi bukan dengar biasa.”

“Maksudnya?”

“Kita periksa fisik pitanya.”

Damar menunjuk kursi.

“Duduk. Jangan sentuh apa-apa.”

Ia mengambil Pita Hitam dari laci Pak Seno menggunakan kunci cadangan yang mereka tahu disimpan di bawah kotak kuitansi.

Laras melihat.

“Kamu tahu kuncinya?”

“Kerja di sini sudah tiga tahun.”

“Pak Seno tahu?”

“Kalau tahu namanya bukan kunci cadangan rahasia.”

Damar membawa kaset ke meja servis.

Ia menyalakan lampu kecil dan mengambil obeng.

“Apa yang dicari?”

“Sambungan.”

“Kasetnya pernah putus?”

“Belum tahu.”

Damar membuka lima sekrup kecil pada cangkang.

Perlahan bagian atas kaset diangkat.

Dua reel hitam terlihat.

Pita magnetik tergulung rapi.

Damar memutar salah satunya menggunakan pensil.

“Lihat.”

Laras mendekat.

“Apa?”

“Yang ini.”

Damar menunjuk satu bagian pita.

Ada garis tipis melintang.

Nyaris tidak terlihat.

Seperti bekas lem.

“Disambung?”

“Iya.”

“Karena putus?”

“Bisa.”

Damar memutar lagi.

Beberapa putaran kemudian ia menemukan sambungan kedua.

Lalu ketiga.

Wajahnya mulai serius.

“Kenapa?”

Damar tidak menjawab.

Ia terus memutar.

Keempat.

Kelima.

Keenam.

“Mar.”

“Tunggu.”

Setelah hampir sepuluh menit, ia meletakkan pensil.

“Berapa?” tanya Laras.

“Dua belas.”

“Dua belas sambungan?”

Damar mengangguk.

“Normal?”

“Kalau kaset direkam biasa? Enggak.”

“Berarti?”

“Kaset ini diedit.”

Laras melihat pita tersebut.

“Tiga belas nama.”

“Bisa saja tiap bagian berasal dari rekaman berbeda.”

“Suara laki-lakinya sama.”

“Belum tentu satu hari.”

Damar kembali memutar reel.

“Ada tiga belas bagian utama.”

Laras menatapnya.

“Dipotong jadi satu.”

“Kelihatannya.”

“Kenapa?”

“Kalau saya tahu, saya buka praktik ramal di depan toko.”

Pintu depan berbunyi.

Pak Seno masuk.

Ia berhenti begitu melihat meja.

Wajahnya langsung berubah.

“Kalian bongkar apa?”

Damar menunduk.

“Kaset.”

“Saya lihat.”

Pak Seno mendekat.

“Siapa suruh?”

Laras menunjuk Damar.

Damar langsung menatapnya.

“Pengkhianat.”

Pak Seno melihat isi kaset.

“Ada apa?”

Damar menunjukkan sambungan.

Pak Seno diam.

Lalu mengambil kaca pembesar kecil.

Ia memeriksa.

“Sambungan rapi.”

“Makanya.”

“Bukan kerjaan amatir.”

Laras bertanya, “Pak pernah bikin seperti ini?”

“Dulu.”

“Untuk apa?”

“Edit lagu. Iklan radio. Rekaman.”

Pak Seno melihat sambungan lain.

“Tapi orang biasanya pakai reel kalau banyak edit.”

“Kenapa ini kaset biasa?”

Pak Seno mengangkat bahu.

“Mungkin supaya gampang dibawa.”

Laras menunjuk foto.

Pak Seno membacanya.

Ia langsung melihat Laras.

“Ini dari mana?”

“Depan rumah.”

“Siapa yang antar?”

“Enggak tahu.”

Pak Seno menyerahkan foto.

“Sekarang saya setuju sama Damar.”

“Ke polisi?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Berhenti.”

Laras menatap dua laki-laki itu.

“Kalian serius?”

Pak Seno menunjuk Pita Hitam.

“Kalau ini cuma barang lama, saya enggak peduli. Kalau ada orang sekarang tahu kamu nyari apa dan tahu alamat rumahmu, berarti ada orang hidup yang ikut main.”

Laras diam.

Kalimat itu lebih menakutkan daripada semua suara dari tape recorder.

Orang hidup.

Artinya seseorang tahu mereka menemukan kaset.

Seseorang tahu Laras pergi ke Jalan Sawo.

Seseorang tahu ia mencari Rahman.

Bahkan mungkin seseorang tahu apa yang mereka lakukan di toko.

Laras menoleh ke pintu depan.

Orang-orang berlalu seperti biasa.

Tidak ada yang terlihat mengawasi.

Pak Seno berkata,

“Mulai sekarang kalau mau cari sesuatu, cari yang bisa disentuh.”

Damar mengangguk.

“Makanya kita mulai dari kaset.”

Pak Seno melihatnya.

“Bukannya tadi mau berhenti?”

Damar tersenyum kecil.

“Saya berubah pikiran setelah lihat sambungannya.”

Pak Seno menghela napas.

“Dua orang keras kepala dalam satu toko.”

Laras tersenyum.

“Bapak tiga.”

“Jangan bawa saya.”

Damar kembali melihat pita.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Kalau tiap bagian disambung, kita bisa tahu urutannya mungkin memang sengaja dibuat seperti ini.”

Laras mengernyit.

“Bukannya sudah jelas?”

“Belum.”

Damar menunjuk salah satu sambungan.

“Kalau kita putar pelan dan tandai posisi tiap potongan, kita bisa dengar apa yang terjadi tepat sebelum dan sesudah sambungan.”

Pak Seno menatapnya.

“Mau cari bagian yang dibuang?”

Damar mengangguk.

Laras tersenyum.

Untuk pertama kali pagi itu, ia merasa mereka sedang melakukan sesuatu yang masuk akal.

Bukan mengikuti suara.

Bukan mengejar ingatan.

Mereka sedang memeriksa sebuah benda.

Benda nyata.

Pita nyata.

Sambungan nyata.

Dan untuk beberapa saat, itu terasa aman.

Mereka menggunakan deck tua yang bisa diperlambat secara manual.

Pak Seno akhirnya ikut membantu, meski sepanjang waktu ia mengeluh.

“Satu kaset ini kalau rusak, jangan salahkan saya.”

Damar memasang headphone besar.

Laras duduk dengan buku catatan.

“Mulai.”

Kaset berputar.

Suara laki-laki terdengar lebih berat karena kecepatannya diturunkan.

“Nama saya Jaka.”

Damar mengangkat tangan.

Lihat selengkapnya