Nama boleh hilang, bekas tekanannya tetap ada.
Bekas tulisan
Damar datang pagi-pagi membawa kaca pembesar, dua pensil, dan sepotong arang gambar.
Laras yang sedang membuka toko menatap barang-barang itu.
“Mau gambar saya?”
“Mau cari orang mati.”
Pak Seno yang baru turun dari becak langsung menggeleng.
“Pagi-pagi ngomongnya sudah enggak bagus.”
Damar masuk ke meja belakang.
“Bukunya mana?”
Laras mengeluarkan buku penghuni dari tas.
Sejak membawanya dari rumah Jalan Sawo, mereka lebih banyak membaca nama yang masih terlihat. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan halaman yang dicoret, dihapus, atau ditimpa tinta.
Damar membuka halaman tahun 1979.
Beberapa nama terlihat jelas.
Beberapa lainnya dicoret sampai hampir tidak bisa dibaca.
“Semalam saya kepikiran,” katanya.
“Jarang.”
“Kalau mau ganggu, nanti saja.”
Damar menunjuk satu baris.
Nama Hadi ditulis dengan tinta biru.
Tetapi tepat di bawahnya ada bekas tekanan lain pada kertas.
“Lihat?”
Laras mendekat.
“Kayak ada tulisan.”
“Iya.”
Damar meletakkan selembar kertas tipis di atas halaman, lalu menggosokkan sisi pensil dengan pelan.
Perlahan muncul garis-garis.
Huruf.
Nama.
Laras membaca.
“...Sukardi?”
Damar mengangguk.
Nama itu tidak sama dengan tulisan yang sekarang terlihat.
Mereka mencoba baris berikutnya.
Di bawah Rudi, muncul nama lain.
Mulyono.
Di bawah Yusuf:
Kasim.
Laras duduk lebih dekat.
“Jadi nama-nama ini ditulis di atas nama lama?”
“Kelihatannya.”
Pak Seno datang membawa kopi.
“Ngapain?”
Laras menunjukkan hasilnya.
Pak Seno melihat.
“Buku bekas.”
“Bukan.”
Damar membuka halaman lain.
“Semua nama dari Pita Hitam ditulis belakangan.”
Pak Seno menaruh kopi.
“Yakin?”
“Tekanan tulisan bawahnya lebih dulu.”
Laras membuka halaman yang mencatat Rahman.
Nama Rahman ditulis dengan tinta hitam.
Damar menggunakan cara yang sama.
Muncul satu nama di bawahnya.
Tidak terlalu jelas.
Laras membaca perlahan.
“Sa...”
Damar menambah arsiran.
SATRIO.
Laras terdiam.
“Rahman bukan nama penghuni asli.”
Damar mengangguk.
“Setidaknya bukan nama pertama yang ditulis di buku.”
Mereka lanjut.
Anton ternyata menutupi nama Yosef Latuheru.
Jaka menutupi Sutrisno.
Marwan menutupi Mukhlis.
Satu per satu, nama dari Pita Hitam ternyata berada di atas nama orang lain.
Pak Seno akhirnya duduk.
“Berarti bukan daftar penghuni?”
“Bisa tetap daftar penghuni,” kata Damar. “Tapi namanya diganti.”
Laras menatap halaman itu.
“Untuk apa?”
Pak Seno menjawab,
“Biar orang yang baca kemudian percaya nama itu memang pernah tinggal di sana.”
Laras menoleh.
“Berarti seseorang sengaja mengubah buku.”
“Ya.”
“Rukmini?”
Pak Seno langsung mengangkat tangan.
“Saya enggak bilang siapa.”
Laras membuka halaman namanya.
LARAS — Kamar 6 — 1 malam.
Ia memperhatikan lebih dekat.
“Coba ini.”
Damar mengarsir halaman.
Tidak ada nama lain di bawah Laras.
Tulisan itu memang pertama.
Laras merasa sedikit lega.
Lalu Damar berhenti.
“Ada sesuatu.”
“Apa?”
Di bawah keterangan 1 malam, muncul tulisan yang pernah dihapus.
Bukan nama.
Sebuah kalimat pendek.
Damar terus mengarsir.
contoh suara anak
Laras tidak bergerak.
Pak Seno membaca dari belakang.
“Contoh?”
Damar mengangguk.
Laras menatap tulisan itu.
“Aku bukan penghuni.”
“Ya.”
“Aku dibawa ke sana buat direkam.”
Damar tidak menjawab.
Laras membuka halaman berikutnya.
Di situ terdapat sejumlah nama yang dicoret dengan tinta hitam tebal.
Bukan ditimpa.
Benar-benar dicoret.
Satu nama dicoret dua garis.
Nama lain sampai lima kali.
Ada pula yang seluruh barisnya dilapisi tinta.
Laras menunjuk.
“Coba yang ini.”
Damar mulai mengarsir.
Tidak muncul apa-apa.
“Tintanya terlalu tebal.”
Pak Seno mengambil buku.
Ia memiringkan halaman ke cahaya.
“Jangan lihat tintanya.”
Laras mengernyit.
“Terus?”
“Lihat belakang.”
Ia membalik halaman.
Tekanan pena masih tampak.
Damar menggunakan pensil dari sisi belakang.
Huruf mulai muncul terbalik.
Mereka membaca dengan bantuan cermin kecil.
Nama pertama:
BUDI SANTOSO
Di sampingnya ada catatan:
menolak sesi kedua
Nama berikutnya:
AGUS PRANOTO
Catatan:
keluarga datang langsung
Lalu:
FARIDA
Catatan:
tidak cocok suara pria
Laras berhenti.
“Perempuan juga?”
“Berarti ini bukan daftar penghuni biasa,” kata Damar.
Mereka membuka halaman berikutnya.
Lebih banyak catatan aneh.
tak punya keluarga
surat kembali
tidak pernah dilihat langsung
hanya kenal lewat suara
Laras merasakan pola mulai terbentuk.
“Mar.”
Damar menatapnya.
“Ini bukan daftar orang yang tinggal di sana.”
“Terus?”
Laras menunjuk catatan-catatan.
“Ini daftar orang yang bisa dipakai.”
Pak Seno langsung berkata,
“Jangan terlalu jauh.”
“Tapi lihat.”
Laras membaca keras-keras.
“Tidak pernah dilihat langsung. Hanya kenal lewat suara. Keluarga tidak punya foto terbaru.”
Damar mulai mengerti.
“Orang-orang yang gampang digantikan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Seno mengambil rokok tetapi tidak langsung menyalakannya.
Laras menatap nama-nama yang ditulis ulang.
Jaka.
Anton.
Rahman.
Hadi.
Nama-nama itu bukan penghuni.
Mungkin bukan identitas asli siapa pun di rumah Jalan Sawo.
Nama-nama itu adalah sesuatu yang ditempelkan pada orang lain.
Damar berkata,
“Kalau begitu kita butuh tahu siapa nama asli laki-laki di Pita Hitam.”
Laras menunjuk nama di bawah Rahman.
“Satrio?”
“Belum tentu dia.”
“Anton menutupi Yosef. Jaka menutupi Sutrisno. Bisa jadi semua nama bawah adalah orang berbeda.”
“Berarti satu laki-laki di pita meniru banyak orang.”
“Kenapa?”
Tak ada yang menjawab.
Pak Seno akhirnya menyalakan rokok.
“Cari orang yang masih hidup.”
Laras melihatnya.
“Dari nama asli?”
“Iya.”
“Untuk apa?”
“Kalau salah satu masih hidup, berarti jelas nama di buku bukan identitas laki-laki kaset.”
Damar mengangguk.
“Kita mulai dari yang alamatnya ada.”