PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #12

Kaset untuk Orang-Orang Kesepian

Ada orang yang tidak membutuhkan jawaban. Mereka hanya membutuhkan seseorang tetap bicara.

Kaset tidur

Pertanyaan tentang siapa yang membawa Laras pulang dari Jalan Sawo tidak langsung mendapat jawaban.

Ratna menolak membicarakannya.

Pagi itu, sebelum Laras berangkat kerja, ibunya hanya berkata, “Ayahmu pulang lebih dulu. Kamu menyusul beberapa jam kemudian.”

“Sama siapa?”

“Laras.”

“Bu, sama siapa?”

Ratna memasukkan pakaian ke lemari.

“Seorang perempuan.”

“Rukmini?”

“Bukan.”

“Siapa?”

Ratna menutup pintu lemari.

“Ibu enggak ingat namanya.”

Laras menatap ibunya.

“Perempuan datang ke rumah tengah malam bawa anak Ibu, tapi Ibu lupa namanya?”

“Sudah empat tahun.”

“Empat tahun bukan empat puluh.”

Ratna berbalik.

“Dia bilang kerja di Suara Pulang. Ibu enggak pernah ketemu lagi.”

“Wajahnya?”

“Masih muda.”

“Nama?”

Ratna menggeleng.

Laras tidak percaya sepenuhnya, tetapi tidak memaksa.

Belum.

Di toko, Damar masih memeriksa buku penghuni ketika Pak Seno datang membawa sebuah kardus kecil.

“Ini gara-gara kalian.”

Damar melihat kardus itu.

“Apa?”

“Saya jadi bongkar gudang semalam.”

Pak Seno meletakkannya di meja.

Di dalam ada kuitansi, katalog lama, kertas karbon, dan beberapa kaset tanpa kotak.

Laras langsung mendekat.

“Dari mana?”

“Barang lama toko.”

“Kenapa ada Suara Pulang?”

Pak Seno mengangkat alis.

“Belum lihat sudah tahu?”

Laras menunjuk salah satu kertas.

Logo kecil tercetak di sudut.

SUARA PULANG

Pak Seno duduk.

“Dulu tempat itu pernah pesan duplikasi kaset ke sini.”

Laras menatapnya.

“Bapak bilang cuma pernah ketemu Ayah beberapa kali.”

“Memangnya saya bilang enggak pernah kerja sama Suara Pulang?”

“Pak.”

“Saya lupa.”

Damar tertawa pendek.

“Kalau semua saksi kasus kriminal jawabnya lupa, polisi pensiun.”

Pak Seno menatapnya.

“Kamu mau gaji bulan depan lupa juga?”

Damar langsung diam.

Laras membongkar isi kardus.

Ada beberapa kuitansi tahun 1979 sampai 1981.

Jumlahnya tidak sedikit.

Dua puluh kaset.

Lima puluh.

Seratus.

“Banyak juga.”

Pak Seno mengangguk.

“Waktu itu saya kira buat pesan pelanggan.”

Laras membaca salah satu pesanan.

MASTER 04 — TENANG MALAM

Pesanan: 30 salinan.

Pesanan lain:

MASTER 07 — RUMAH MASIH ADA

Pesanan: 50 salinan.

Damar mengambil kertas berikutnya.

“Ini bukan pesan pribadi.”

Laras menggeleng.

Ada judul lain.

JANGAN TAKUT TIDUR

SUARA IBU

UNTUK YANG BELUM PULANG

MALAM PERTAMA SENDIRI

Semua terdengar seperti judul kaset.

“Bapak pernah dengar?” tanya Laras.

“Enggak.”

“Bikin lima puluh salinan tapi enggak dengar?”

“Kerjaan saya menggandakan.”

Pak Seno mengambil salah satu kaset dari kardus.

“Orang pesan master, kita salin.”

Kaset itu berwarna krem kusam.

Labelnya hampir lepas.

TENANG MALAM — 4

Damar melihat Laras.

“Jangan.”

Laras sudah mengambilnya.

“Cuma sebentar.”

Pak Seno menghela napas.

“Kalian memang enggak bisa lihat kaset diam.”

Mereka memasukkannya ke deck.

Klik.

Desis.

Kemudian suara Rukmini muncul.

Lebih muda.

Lebih ringan.

“Kalau malam terasa terlalu panjang, tidak perlu melawannya.”

Laras dan Damar saling pandang.

Tidak ada musik.

Hanya suara.

“Duduk atau berbaring dengan nyaman.”

Jeda.

“Tidak perlu menutup mata kalau belum ingin.”

Nada Rukmini tenang, tetapi tidak terdengar seperti suara di Pita Hitam.

Di sini ia lebih hangat.

“Dengarkan suara di sekitar.”

“Jam.”

“Kipas.”

“Kendaraan dari jalan.”

“Tidak ada yang perlu dihilangkan.”

Damar menurunkan volume sedikit.

“Kaset relaksasi.”

Pak Seno mengangguk.

“Tuh.”

Rekaman berlanjut.

“Sekarang bayangkan orang yang ingin kamu dengar.”

Laras berhenti.

Rukmini berkata,

“Tidak perlu wajahnya.”

“Cukup suaranya.”

Jeda cukup panjang.

“Kalau kamu sudah lupa seperti apa suaranya, tidak apa-apa.”

Laras menatap speaker.

“Ingatan tidak harus sempurna untuk membuat seseorang terasa dekat.”

Damar perlahan duduk.

Suara Rukmini tetap tenang.

“Pikirkan satu kalimat yang paling ingin kamu dengar darinya.”

Jeda.

“Kamu sudah makan?”

“Jangan lupa istirahat.”

“Aku akan pulang.”

“Atau mungkin hanya…”

Rukmini berhenti sebentar.

“…aku masih ada.”

Laras menekan stop.

Pak Seno menoleh.

“Kenapa?”

“Kaset ini buat siapa?”

“Mana saya tahu.”

Laras melihat labelnya.

“Orang yang kehilangan seseorang.”

Damar mengambil kuitansi lain.

“Lihat ini.”

Di bagian belakang terdapat tulisan tangan.

Target: janda, keluarga perantau, orang tua tinggal sendiri.

Pak Seno langsung mengambil kertas.

“Target?”

Laras membaca tulisan berikutnya.

putar minimum 7 malam

jangan ganti suara

gunakan nama jika tersedia

Damar mengernyit.

“Ini bukan catatan duplikasi.”

“Berarti datang dari Suara Pulang,” kata Laras.

Pak Seno memeriksa kardus lagi.

Di dasar ada sebuah lembar katalog.

Judul besar:

Di bawahnya beberapa pilihan.

Untuk Kesulitan Tidur

Untuk Anak yang Merantau

Untuk Suami/Istri yang Jauh

Untuk Kehilangan

Untuk Rumah yang Terlalu Sepi

Laras membaca kalimat promosi di bawahnya.

Suara yang akrab membantu rumah terasa berpenghuni.

Damar bersandar.

“Agak menyeramkan kalau dibaca sekarang.”

Pak Seno menggeleng.

“Dulu enggak.”

“Bapak pernah jual?”

“Enggak.”

Laras menunjuk satu tulisan kecil.

Versi pribadi tersedia sesuai kebutuhan.

Ia teringat Marni.

Kaset dari Jaka.

Elisabeth dan suara Anton.

Ratna dan kaset Rahman.

“Mereka mulai dari ini,” katanya.

Damar menatapnya.

“Kaset relaksasi?”

“Orang datang karena kesepian.”

Laras mengambil katalog.

“Setelah mereka cerita, Suara Pulang tahu siapa yang mereka rindukan.”

Pak Seno mulai memahami.

“Terus?”

“Mereka punya nama. Panggilan. Kebiasaan.”

Damar melanjutkan,

“Lalu seseorang merekam pesan sebagai orang itu.”

Sunyi.

Pak Seno menatap kaset TENANG MALAM.

“Kalau begitu kenapa keluarga percaya suara palsu?”

Laras melihatnya.

“Karena sebelum suara palsu datang…”

Ia menunjuk kaset relaksasi.

“…mungkin mereka sudah berminggu-minggu mendengar Rukmini bilang kalau lupa suara seseorang itu tidak apa-apa.”

Tidak ada yang menjawab.

Untuk pertama kalinya, bentuk bisnis Suara Pulang mulai terlihat.

Bukan sekadar studio rekaman.

Mereka menjual rasa ditemani.

Dan kepada orang tertentu—

mereka mungkin menjual sesuatu yang jauh lebih besar.

Kepulangan.

Ada satu alamat pelanggan lama di belakang kuitansi.

Namanya Sari Wibowo.

Pak Seno mengenalnya karena perempuan itu pernah beberapa kali mengambil hasil duplikasi sendiri.

Alamatnya masih dekat.

Laras dan Damar datang sore hari.

Rumah Sari kecil dan rapi. Perempuan itu kini berusia sekitar enam puluh tahun. Rambutnya pendek, sebagian sudah putih.

“Suara Pulang?”

Ia tersenyum ketika Laras menyebut nama itu.

“Sudah lama sekali.”

“Ibu dulu pelanggan?”

“Pelanggan setia.”

Sari mempersilakan masuk.

Di ruang tamu terdapat radio, rak buku, dan sebuah tape recorder National yang masih terawat.

Damar langsung melihatnya.

“Masih hidup, Bu?”

“Masih.”

Sari tertawa.

“Barang sekarang belum tentu tahan begini.”

Laras duduk.

“Ibu dulu pesan kaset apa?”

Lihat selengkapnya