PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #13

Lelaki yang Tak Sama di Cermin

Kesaksian pertama merusak logika.

Catatan Ayah

Laras mulai mencari barang-barang ayahnya malam itu juga.

Ratna tidak melarang.

Mungkin karena sudah lelah melarang, atau karena nama Herman sekarang muncul terlalu sering untuk terus dianggap kebetulan.

Kotak-kotak lama disimpan di lemari atas kamar belakang. Ada pakaian, buku rekening, kuitansi, beberapa perkakas, dan dua map plastik yang sudah menguning.

Laras menurunkannya satu per satu.

Ratna berdiri di pintu.

“Kalau enggak ketemu apa-apa, berhenti?”

Laras membuka map pertama.

“Enggak janji.”

Ratna menghela napas.

Damar ikut membantu. Ia datang membawa senter dan dua bungkus mi goreng, seolah mereka akan membongkar gudang sampai pagi.

Map pertama hanya berisi dokumen kerja.

Map kedua lebih berantakan.

Potongan koran.

Nomor telepon.

Kuitansi servis.

Beberapa foto tanpa keterangan.

Laras langsung duduk di lantai.

“Ini.”

Sebuah amplop bertuliskan:

S.P.

Damar melihat.

“Suara Pulang?”

“Bisa.”

Laras membuka.

Di dalamnya terdapat enam lembar kertas.

Tulisan tangan ayahnya.

Tidak rapi.

Sebagian hanya berupa kalimat pendek.

Rahman bukan Rahman.

Laras berhenti.

Damar duduk di sebelahnya.

“Lanjut.”

Catatan berikutnya:

Suara sama. Cerita berbeda.

Di bawahnya terdapat daftar nama.

Rahman.

Anton.

Jaka.

Hadi.

Hanya empat.

Ayah Laras belum mengetahui tiga belas nama.

Atau setidaknya belum menuliskannya.

Lembar kedua berisi tanggal.

12 Januari 1981 — Anton

19 Januari — Rahman

2 Februari — Jaka

Di samping tiap nama terdapat satu kata.

dengar

lihat

foto

Laras mengernyit.

“Dengar, lihat, foto.”

Damar mengambil lembar itu.

“Mungkin cara Ayahmu tahu orangnya.”

Laras membuka lembar berikutnya.

Ada sebuah gambar kasar wajah laki-laki.

Bukan gambar bagus. Hanya bentuk kepala, rambut, hidung, dan beberapa tanda.

Di samping telinga kiri terdapat lingkaran kecil.

Tulisan:

bekas luka?

Di bawah gambar:

Kalau satu orang, kenapa foto berbeda?

Laras menatap Damar.

“Foto apa?”

Mereka mencari lagi.

Di dasar amplop terdapat tiga foto ukuran kecil.

Foto identitas.

Laki-laki.

Laras menyusunnya di lantai.

Foto pertama diberi nama di belakang:

ANTON

Foto kedua:

JAKA

Foto ketiga:

RAHMAN

Damar terdiam.

Ketiganya memang laki-laki.

Usia kurang lebih sama.

Rambut pendek.

Bentuk wajah hampir serupa.

Namun tidak identik.

Jaka terlihat lebih kurus.

Anton mempunyai rambut sedikit bergelombang.

Rahman tampak lebih tua.

Laras mengambil ketiganya.

“Ini orang yang sama?”

Damar melihat cukup lama.

“Kalau sekilas, beda.”

“Kalau lama?”

“Justru makin bingung.”

Laras membandingkan hidung.

Rahang.

Alis.

Ada kemiripan tertentu, tetapi sulit disebut satu orang.

Ratna mendekat.

Begitu melihat foto Rahman, wajahnya berubah.

“Ini.”

Laras menoleh.

“Ibu kenal?”

Ratna mengambil foto.

“Ini yang ayahmu bilang Rahman.”

“Pernah ketemu langsung?”

“Sekali.”

“Di mana?”

“Depan rumah.”

“Kapan?”

“Enggak ingat.”

Laras menunjukkan foto Jaka.

“Ini?”

Ratna menggeleng.

“Anton?”

“Enggak.”

Damar mengambil kaca pembesar.

Ia melihat ketiga foto.

“Background sama.”

Laras mendekat.

Benar.

Semua diambil di depan kain abu-abu yang sama.

Pencahayaan sama.

Posisi kursi sama.

“Studio foto yang sama.”

Damar membalik salah satu foto.

Di sudut bawah ada cap yang hampir hilang.

FOTO LESTARI

Alamatnya di Jakarta Pusat.

Laras langsung mengambil buku catatan.

Ratna menatapnya.

“Kamu mau ke sana.”

“Besok.”

Ratna tidak mencegah.

Ia hanya mengembalikan foto Rahman.

Sebelum keluar, Ratna berkata,

“Ayahmu dulu juga mulai dari tiga foto itu.”

Laras menatapnya.

“Terus?”

“Semakin dia cari, semakin dia bilang semua orang berbohong.”

“Ayah nemu apa?”

Ratna menggeleng.

“Dia enggak pernah cerita lengkap.”

“Kenapa?”

Ratna tersenyum pahit.

“Mungkin karena dia sendiri sudah enggak tahu mana yang harus dipercaya.”

Pagi berikutnya, sebelum berangkat ke Foto Lestari, Laras membuka lembar terakhir dalam amplop.

Tulisan ayahnya hanya satu baris.

Jangan percaya orang yang mengenali wajah. Tanyakan apa yang tidak berubah.

Laras membaca dua kali.

Damar melihat dari belakang.

“Apa yang enggak berubah?”

Laras mengambil ketiga foto.

“Entah.”

Damar menunjuk telinga.

“Bekas luka?”

Mereka melihat foto satu per satu.

Pada foto Rahman, telinga kiri terlihat jelas.

Tidak ada bekas luka.

Pada Anton, telinganya tertutup rambut.

Pada Jaka, posisi kepala sedikit miring.

Seolah fotografer sengaja menghindari sisi itu.

Damar berkata,

“Menarik.”

Laras memasukkan semua foto ke amplop.

“Ayo.”

Untuk pertama kalinya mereka tidak sedang mencari suara.

Mereka sedang mencari wajah.

Dan Laras belum tahu bahwa wajah justru akan membuat semuanya lebih sulit.

Foto Lestari masih berdiri di alamat yang tercetak di belakang foto.

Tokonya sempit, berada di antara toko jam dan penjual kain.

Papan namanya sudah pudar.

Di etalase terdapat foto pengantin, pas foto, dan beberapa gambar keluarga.

Seorang perempuan tua sedang memotong kertas ketika Laras dan Damar masuk.

“Pas foto?”

“Enggak, Bu.”

Perempuan itu mengangkat kepala.

“Mau cetak?”

Laras mengeluarkan foto.

“Kami mau tanya foto lama.”

Perempuan itu memasang kacamata.

Ketika melihat cap tokonya di belakang foto, ia tersenyum.

“Wah. Lama.”

“Ibu yang punya tempat ini?”

“Dari dulu.”

Namanya Lestari Hartono.

Usianya hampir enam puluh.

Ia mengambil ketiga foto dan membawanya ke dekat jendela.

“Ini buatan sini.”

“Ibu ingat orangnya?”

Bu Lestari tertawa.

“Nak, orang pas foto sehari bisa puluhan.”

“Sekitar 1980 sampai 1981.”

“Tambah enggak ingat.”

Laras menunjuk latar belakang.

“Ketiganya diambil tempat sama.”

“Ya studio saya.”

“Orangnya sama?”

Bu Lestari berhenti tertawa.

Ia memperhatikan foto lebih dekat.

“Kenapa tanya begitu?”

“Karena kami juga enggak tahu.”

Damar berkata,

“Coba lihat bentuk wajah.”

Bu Lestari menyusun ketiganya.

Anton.

Jaka.

Rahman.

Ia tidak langsung menjawab.

Kemudian mengambil kaca pembesar dari laci.

“Ini dicetak dari negatif beda.”

“Berarti?”

“Ya fotonya diambil berbeda.”

“Bisa orang yang sama?”

“Bisa.”

Laras langsung menatapnya.

Bu Lestari menunjuk foto Anton.

“Rambut bisa diubah.”

Jaka.

“Berat badan bisa berubah.”

Rahman.

“Cahaya juga bikin muka beda.”

Damar berkata, “Berarti mungkin sama?”

Bu Lestari menggeleng.

“Saya bilang mungkin.”

Ia membawa foto ke meja belakang.

“Kalau negatifnya masih ada, lebih gampang.”

Laras langsung berdiri.

“Masih?”

“Jangan senang dulu.”

Bu Lestari membuka lemari besi kecil.

Ada puluhan amplop negatif.

Sebagian sudah rusak.

“Dulu kami simpan berdasarkan nomor pesanan, bukan nama.”

“Bisa cari?”

“Kalau tanggal ada.”

Laras menunjukkan catatan Herman.

12 Januari.

19 Januari.

2 Februari 1981.

Bu Lestari mulai membuka buku besar.

Damar tersenyum pada Laras.

“Kali ini ayahmu berguna.”

Laras menatapnya.

“Maksud saya catatannya.”

“Bagus.”

Sekitar dua puluh menit kemudian Bu Lestari menemukan tiga nomor.

Negatif pertama masih ada.

Kedua juga.

Yang ketiga hilang.

Ia membawa dua lembar film kecil ke lampu.

“Anton.”

Laras dan Damar mendekat.

Bu Lestari mengambil kaca pembesar.

Lihat selengkapnya