Semua jalan mengarah kepada perempuan yang sama.
Perempuan yang selalu ada
Foto dari Foto Lestari diletakkan Laras di meja makan malam itu.
Empat orang di depan kamera.
Rukmini.
Sri Yani.
Anton.
Jaka.
Dan satu laki-laki lain yang hanya terlihat melalui pantulan cermin.
Ratna berdiri cukup lama tanpa menyentuh foto.
Laras memperhatikannya.
“Ibu kenal Yani?”
Ratna tidak langsung menjawab.
Damar, yang ikut pulang, memilih duduk agak jauh.
Ratna akhirnya mengambil foto.
“Ini perempuan yang bawa kamu pulang.”
Laras menahan napas.
“Yani?”
Ratna mengangguk.
“Yakin?”
“Sekarang lihat wajahnya, Ibu ingat.”
“Kenapa kemarin bilang enggak ingat namanya?”
“Karena memang enggak ingat.”
Ratna menyerahkan kembali foto.
“Wajah lebih gampang.”
“Dia bilang apa waktu antar aku?”
“Cuma bilang kamu kecapekan.”
“Jam empat pagi?”
“Kurang lebih.”
“Ayah di mana?”
Ratna menatap meja.
“Di rumah.”
Laras mengernyit.
“Tapi buku Jalan Sawo bilang Ayah keluar sendiri.”
“Iya.”
“Terus kapan Ayah pulang?”
“Sekitar satu jam sebelum kamu.”
“Dia pulang sendiri?”
“Iya.”
“Ngomong apa?”
“Enggak banyak.”
Laras duduk.
“Bu, coba ingat.”
Ratna mulai kesal.
“Ibu sudah bilang yang Ibu ingat.”
“Ayah pulang tanpa anaknya jam tiga pagi dan Ibu enggak marah?”
“Tentu marah.”
“Terus?”
“Dia bilang kamu masih di sana.”
“Kenapa?”
Ratna diam.
“Bu.”
“Ayahmu bilang sedang ada percobaan.”
Ruangan sunyi.
Damar mengangkat kepala.
“Percobaan apa?”
Ratna langsung menatapnya, lalu Laras.
“Ibu juga tanya begitu.”
“Jawaban Ayah?”
“Dia bilang bukan apa-apa yang berbahaya.”
Laras hampir tertawa.
“Aku pulang terus dua minggu minta dipanggil Rahman.”
Ratna menunduk.
“Makanya setelah itu kami bertengkar.”
“Karena Ayah bawa aku?”
“Iya.”
“Terus Ayah berhenti ketemu Rukmini?”
Ratna tidak menjawab.
Laras sudah tahu jawabannya.
“Enggak.”
Ratna menggeleng pelan.
“Justru makin sering.”
Damar menghela napas.
Laras menatap foto Rukmini.
“Kenapa?”
“Karena ayahmu merasa ada yang salah.”
“Dengan aku?”
“Dengan tempat itu.”
Ratna menarik kursi.
“Awalnya Herman percaya Rukmini cuma membantu orang.”
Laras langsung teringat Sari.
Orang-orang kesepian.
Kaset tidur.
Suara pengganti.
“Terus?”
“Setelah kejadian kamu, dia mulai curiga.”
“Curiga apa?”
Ratna menggeleng.
“Dia enggak mau cerita.”
“Kenapa?”
“Katanya semakin sedikit Ibu tahu, semakin aman.”
Laras tertawa hambar.
“Ternyata sifat rahasia itu turunan.”
Ratna tidak menanggapi.
Damar menunjuk foto.
“Bu, Yani pernah datang lagi?”
Ratna berpikir.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Beberapa bulan kemudian.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Cari Herman?”
Ratna mengangguk.
“Ngomong apa?”
“Mereka bicara di luar.”
“Ibu dengar?”
“Sedikit.”
“Apa?”
Ratna memejamkan mata, mencoba mengingat.
“Yani marah.”
“Karena?”
“Dia bilang, ‘Saya enggak mau lagi.’”
Laras dan Damar saling pandang.
“Ayah jawab apa?”
“Entah.”
“Terus?”
“Yani bilang…”
Ratna berhenti.
“Apa?”
“‘Kalau satu orang mati, semua ini selesai.’”
Laras diam.
Damar pun tidak bergerak.
Ratna melanjutkan,
“Ayahmu langsung suruh dia pulang.”
“Ini kapan?”
“Pertengahan 1981.”
Beberapa bulan sebelum jasad ditemukan.
“Yani takut sama siapa?”
“Ibu enggak tahu.”
“Rukmini?”
Ratna langsung menjawab,
“Jangan bikin jawaban sendiri.”
Laras terdiam.
Kalimat itu benar.
Masalahnya, hampir semua jawaban yang mereka punya tetap kembali ke nama yang sama.
Rukmini.
Yani bekerja untuk Rukmini.
Ayah Laras mencari Rahman lewat Rukmini.
Marni mengenal Rukmini.
Elisabeth mendapat kaset melalui jaringan Rukmini.
Sari diselamatkan oleh Rukmini.
Foto Anton dan Jaka dibuat atas permintaan orang-orang Rukmini.
Buku Jalan Sawo berada di rumah keluarga Rukmini.
Bahkan Laras sendiri pernah dibawa ke sana saat berusia enam tahun.
Terlalu banyak.
Damar tampaknya memikirkan hal yang sama.
“Kalau semua jalan ke Bu Rukmini, berarti salah satu dari dua hal.”
Laras menatapnya.
“Apa?”
“Dia pusatnya.”
“Yang kedua?”
“Kita cuma cari hal-hal yang memang berhubungan sama dia.”
Laras mengernyit.
“Bedanya?”
“Besar.”
Damar menunjuk foto.
“Kalau kita mulai dari Suara Pulang, ya wajar semua yang kita temukan ada hubungannya dengan Suara Pulang.”
Ratna mengangguk.
“Itu yang dari awal Ibu bilang.”
Laras tidak suka jawabannya.
Bukan karena salah.
Justru karena masuk akal.
“Berarti kita cari sesuatu yang enggak mulai dari Rukmini.”
Damar menatapnya.
“Apa?”
Laras mengambil potongan koran kasus 1981.
“Korban.”
Mereka kembali ke arsip surat kabar keesokan harinya.
Kali ini Laras tidak mencari berita utama.
Ia mencari berita kecil.
Kesaksian warga.
Orang pertama yang menemukan kardus.
Pedagang yang melihat kendaraan.
Warga yang memberi keterangan.
Damar membaca edisi berbeda di sebelahnya.
Setelah hampir satu jam, ia berkata,
“Ini.”
Laras mendekat.
Sebuah berita pendek dua hari setelah penemuan jasad.
Polisi disebut masih mencari identitas korban.
Di bagian bawah terdapat keterangan bahwa sebelum polisi menyebarkan gambar rekonstruksi secara luas, seorang perempuan datang mengaku mungkin mengenali korban.
“Nama?”
“Enggak disebut.”
Laras membaca.
Perempuan tersebut kemudian menarik keterangannya setelah melihat ciri-ciri korban secara langsung.
Katanya salah orang.
“Tanggal?”
“Dua puluh lima.”
Laras langsung teringat pesanan Foto Lestari.
Yani mencetak tiga belas pembesaran wajah tanggal 27.
“Kalau perempuan ini Yani…”
Damar langsung memotong.
“Jangan.”
Laras mengangguk.
“Cari sumber lain.”
Mereka membuka koran lain.
Di surat kabar berbeda terdapat versi lebih panjang.
Perempuan itu diperkirakan berusia dua puluhan.
Datang sendiri.
Mengatakan korban mungkin seorang kenalan yang sudah beberapa minggu tidak terlihat.
Nama kenalannya—
tidak dipublikasikan.
Damar membaca satu bagian.
“Dia bilang pernah lihat bekas luka di telinga.”
Laras langsung menatapnya.
“Apa?”
Damar menggeser koran.
Saksi menyebut pria yang dikenalnya memiliki luka kecil di bagian telinga kiri.
Laras merasa tengkuknya dingin.
Catatan Herman.
Lelaki dalam cermin.
Bekas luka.
“Ayah tahu ini?”
“Bisa dari koran.”
“Catatannya mungkin setelah berita.”
“Bisa.”
Laras menulis tanggal.
Kemudian ia menemukan kalimat berikutnya.
Setelah pemeriksaan lebih lanjut, saksi menyatakan korban bukan orang yang ia maksud karena ada perbedaan pada bentuk jari tangan kiri.
Laras dan Damar langsung terdiam.
“Kelingking.”
Damar melihat foto Anton dan Jaka yang mereka bawa.
Keduanya mempunyai kelingking bengkok.
“Korban enggak?”
“Kalau berita ini benar, enggak.”
Laras merasa satu pijakan hilang.
Laki-laki dalam cermin punya bekas luka telinga.
Anton dan Jaka punya kelingking bengkok.
Korban mungkin punya luka telinga—