PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #15

Kamar Belakang

Ada rak yang tidak pernah masuk buku pesanan.

Tiga belas kotak

Tidak ada yang langsung menyentuh kaset-kaset hitam itu.

Damar masih memegang kotak bertuliskan:

KHUSUS — JANGAN MASUK BUKU

Pak Seno berdiri di ambang pintu.

Laras menatap tiga belas kaset yang tersusun berdasarkan angka Romawi.

I sampai XIII.

Pita Hitam yang mereka temukan dari tape recorder bongkaran juga bertanda XIII.

Namun kaset XIII di dalam kotak masih utuh.

Berarti kaset mereka bukan satu-satunya.

“Pak,” kata Laras.

Pak Seno mengusap wajah.

“Jangan mulai.”

“Bapak benar-benar enggak tahu?”

“Kalau saya tahu, dari kemarin sudah saya bakar.”

Damar memeriksa rak.

Debunya tebal.

Beberapa kotak sudah dimakan lembap.

“Ruangan ini terakhir dibuka kapan?”

“Bertahun-tahun.”

“Siapa yang punya kunci?”

“Saya.”

“Yani?”

Pak Seno menatapnya.

“Dulu iya.”

Laras berjongkok di depan kotak.

“Berarti ini mungkin peninggalan dia.”

Pak Seno tidak menjawab.

Damar mengambil kaset I.

Cangkangnya hitam.

Tidak ada label.

Hanya goresan angka.

“Jangan diputar dulu,” kata Pak Seno.

Laras menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kalau tiga belas kaset ini sama pentingnya dengan yang kalian temukan, kita jangan asal-asalan.”

Damar mengangguk.

“Kali ini saya setuju.”

Laras mendesah.

“Terus?”

“Kita catat dulu.”

Mereka membawa satu meja kecil ke dalam kamar.

Damar membuat daftar.

Nomor.

Jenis kaset.

Kondisi.

Panjang pita.

Tulisan.

Pak Seno mengambil senter.

Laras membuka kotak lain di rak.

Sebagian kaset memakai kode pelanggan biasa.

SP-19

SP-42

SP-77

Namun ada beberapa kode berbeda.

K-01

K-02

K-03

“Ini apa?” tanya Laras.

Pak Seno menggeleng.

“Bukan kode toko.”

Kotak lain berisi amplop kosong.

Di salah satunya tertulis:

SUARA ASLI

Laras berhenti.

Damar mendekat.

“Isinya?”

Kosong.

Amplop berikutnya:

CONTOH

Kosong.

Lalu:

PENGGANTI

Kosong juga.

Pak Seno melihat semuanya.

“Yani pernah pakai ruangan ini buat kerja setelah toko tutup.”

Laras langsung menoleh.

“Bapak tahu?”

“Tahu dia lembur.”

“Ngapain?”

“Saya pikir pesanan.”

“Kenapa enggak masuk buku?”

Pak Seno mulai kesal.

“Saya enggak periksa semua pekerjaan pegawai saya.”

Damar bertanya,

“Bu Rukmini pernah ke sini malam?”

Pak Seno berpikir.

“Pernah.”

“Sering?”

“Beberapa kali.”

“Masuk kamar ini?”

“Bisa.”

Laras menatapnya.

“Bapak lupa lagi?”

Pak Seno membalas tatapannya.

“Empat tahun lalu saya enggak tahu saya harus menghafal semua orang yang masuk toko.”

Laras diam.

Ada benarnya.

Tapi semakin banyak Pak Seno mengingat, semakin sulit menganggap toko ini sekadar tempat duplikasi yang tidak tahu apa-apa.

Damar mengambil kaset hitam nomor I.

“Kaset ini lebih berat.”

Ia membandingkan dengan nomor II.

Benar.

Nomor I menggunakan pita lebih panjang.

Nomor XIII paling ringan.

Laras mengambil buku catatan.

“Berarti bukan tiga belas salinan yang sama.”

“Belum tentu.”

Damar membuka kotak plastik I.

Di bagian dalam terdapat tulisan kecil.

Bukan angka.

Satu kata.

SUARA

Kaset II:

CERITA

Kaset III:

RUMAH

Kaset IV:

KELUARGA

Mereka mulai membuka satu per satu.

V:

KEBIASAAN

VI:

PANGGILAN

VII:

SURAT

VIII:

FOTO

IX:

LATIHAN

X:

KOREKSI

XI:

KUNJUNGAN

XII:

PENGGANTIAN

Laras berhenti sebelum membuka XIII.

Damar melihatnya.

“Buka.”

Ia membuka.

Di dalam kotak tertulis:

HASIL

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Seno membaca dari belakang.

“Suara sampai hasil.”

Laras menyusun semuanya.

Bukan nomor orang.

Bukan tiga belas keluarga.

Itu tahapan.

Damar melihat kaset XIII milik mereka yang berada di luar kamar.

“Berarti XIII bukan berarti tiga belas nama.”

Laras mengangguk pelan.

Selama ini mereka mengira goresan XIII pada Pita Hitam merujuk kepada tiga belas nama laki-laki di dalamnya.

Ternyata mungkin tidak.

Mungkin XIII berarti—

tahap ketiga belas.

Hasil.

Laras menatap kotak itu.

“Kalau ini urutan kerja…”

Damar menyelesaikan,

“…berarti Pita Hitam yang kita temukan adalah hasil akhirnya.”

Pak Seno mengambil rokok, tetapi Laras langsung berkata,

“Jangan merokok di sini.”

Pak Seno menatap rak penuh pita mudah terbakar.

“Sekali-sekali kamu benar.”

Ia memasukkan kembali rokok.

Damar mengambil kaset IX.

LATIHAN.

“Kalau mau mulai dengar, mungkin ini.”

Laras menggeleng.

“Dari awal.”

Damar melihatnya.

“Kenapa?”

“Karena kalau kita lompat, kita bikin teori sendiri lagi.”

Pak Seno tersenyum tipis.

“Akhirnya belajar.”

Laras tidak menanggapi.

Ia mengambil kaset I.

SUARA.

“Mulai dari sini.”

Mereka tidak menggunakan tape recorder tua dari Jalan Sawo.

Damar memilih deck servis yang paling stabil.

Sebelum memutar, ia membuat satu salinan kosong untuk berjaga-jaga.

Pak Seno menutup pintu toko.

“Kalau ada pelanggan?”

“Besok.”

Laras duduk dengan buku catatan.

Damar memasukkan kaset I.

SUARA.

Klik.

Desis.

Kemudian suara perempuan muda.

Bukan Rukmini.

“Nama?”

Seorang laki-laki menjawab,

“Darsono.”

Laras langsung menulis.

Perempuan:

“Umur?”

“Tiga puluh dua.”

“Dari mana?”

“Klaten.”

“Bicara biasa saja.”

Laki-laki itu tertawa.

“Maksudnya?”

“Cerita apa saja.”

“Cerita apa?”

“Rumah.”

Laki-laki itu mulai bercerita.

Tentang sawah.

Ibu.

Adik.

Warung dekat rumah.

Rekaman berhenti.

Suara perempuan muncul lagi.

“Berikutnya.”

Laki-laki berbeda.

“Imam.”

Pertanyaan sama.

Lihat selengkapnya