PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #16

Pita-Pita Khusus

Tidak semua rekaman dibuat untuk dikirim.

Kode K

Laras datang paling pagi.

Rolling door Seno Audio baru terangkat setengah ketika ia sudah masuk membungkuk.

Damar yang mengangkat dari luar mengeluh.

“Kalau kepala kamu kena pintu, saya enggak tanggung jawab.”

Laras langsung menuju kamar belakang.

“Kaset K.”

“Selamat pagi juga.”

Pak Seno belum datang.

Kotak tiga belas kaset hitam masih berada di tempat mereka tinggalkan malam sebelumnya. Laras tidak menyentuhnya.

Hari ini ia justru mengambil deretan kaset dengan kode:

K-01.

K-02.

K-03.

Sampai K-26.

Damar masuk sambil membawa dua gelas kopi.

“Kenapa bukan nomor tiga?”

“Karena kemarin kita sudah tahu kaset hitam itu tahapan.”

“Terus?”

“Kalau K berarti pelanggan khusus, aku mau tahu apa yang mereka dengar.”

Damar menyerahkan kopi.

“Masuk akal.”

“Tumben.”

“Jangan dibiasakan.”

Mereka membawa K-03 ke meja servis.

Dari kartu indeks, K-03 adalah milik Marni.

Nama Jaka tertulis di sana.

Damar memasukkan kaset.

“Kita dengar sampai ada yang berguna. Jangan satu kaset penuh.”

Laras mengangguk.

Klik.

Desis.

Suara Rukmini muncul.

“Bu Marni?”

Suara Marni, lebih muda:

“Iya.”

“Hari ini bagaimana?”

“Biasa.”

“Tidur?”

“Sedikit.”

“Masih menunggu?”

Jeda.

“Iya.”

Rukmini tidak langsung bicara.

Kemudian dengan nada sangat lembut:

“Kalau Jaka pulang malam ini, apa yang pertama Ibu lakukan?”

Marni tertawa kecil.

“Saya marahin.”

“Kenapa?”

“Pergi enggak bilang-bilang.”

“Setelah marah?”

Jeda lebih panjang.

“Saya kasih makan.”

Laras menatap speaker.

Rukmini bertanya lagi.

“Kalau wajahnya berubah?”

Marni diam.

“Orang kalau kerja jauh bisa kurus,” katanya akhirnya.

“Kalau suaranya berubah?”

“Ya namanya juga sudah besar.”

“Kalau ada sesuatu yang berbeda?”

Marni mulai terdengar kesal.

“Bu Rukmini mau ngomong apa?”

“Tidak apa-apa.”

Rukmini kembali lembut.

“Saya hanya ingin tahu apa yang membuat seseorang tetap menjadi Jaka bagi Ibu.”

Marni tidak menjawab.

Rekaman berhenti.

Klik.

Damar mengernyit.

“Kayak wawancara.”

“Bukan pesan.”

“Makanya kaset khusus.”

Laras memutar bagian berikutnya.

Suara laki-laki.

Bukan Jaka.

Suara yang sudah mereka kenal.

Laki-laki Pita Hitam.

“Bu.”

Rukmini:

“Lebih pelan.”

“Bu.”

“Jangan terlalu berat.”

Laki-laki itu mengulang.

“Bu.”

“Sekali lagi.”

“Bu.”

“Bagus.”

Damar mengambil pensil.

“Latihan.”

Laras mengangguk.

Laki-laki itu melanjutkan:

“Maaf baru pulang.”

Rukmini langsung menghentikan.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Jaka tidak akan minta maaf dulu.”

“Terus?”

“Dia akan tanya makan.”

Jeda.

Laki-laki itu mencoba lagi.

“Bu sudah makan?”

Rukmini:

“Bagus.”

Laras menekan pause.

Mereka saling pandang.

Semua detail yang dikumpulkan dari Marni sekarang dipakai untuk melatih orang lain.

Bukan hanya suara.

Urutan kalimat.

Cara masuk rumah.

Kebiasaan.

“Putar.”

Kaset lanjut.

Rukmini bertanya:

“Kalau Ibu menangis?”

Laki-laki:

“Saya diam.”

“Kenapa?”

“Di catatan begitu.”

“Jangan sebut catatan.”

“Ya.”

“Kalau dia memeluk?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Kalau dia memeluk?”

“Saya biarkan.”

“Kalau dia tanya sesuatu yang kamu tidak tahu?”

“Bilang lupa.”

“Kalau dia curiga?”

Laki-laki itu terdiam.

Kemudian:

“Saya pergi.”

Rukmini menjawab,

“Tidak.”

Nada suaranya masih lembut.

Tetapi tegas.

“Kalau dia curiga, jangan pergi.”

“Terus?”

“Buat dia mengingat hal yang dia ingin ingat.”

Laras mematikan kaset.

Damar menghembuskan napas.

“Jadi begitu.”

“Begitu apa?”

“Bukan dia yang harus hafal semua kehidupan Jaka.”

Laras mulai mengerti.

“Marni sendiri yang akan isi bagian kosong.”

Damar mengangguk.

“Kalau dia salah sedikit, tinggal kasih satu detail yang benar.”

Laras melihat kartu Marni.

Sayur asem.

Masuk lewat dapur.

Tanya sudah makan.

Hal kecil.

Cukup untuk membuat kesalahan lain terasa tidak penting.

Pak Seno datang ketika mereka masih duduk diam.

Ia melihat kaset dalam deck.

“Sudah mulai?”

Laras menunjuk kursi.

“Dengar.”

“Saya belum sarapan.”

“Lebih baik sebelum sarapan.”

Pak Seno menatapnya.

“Kalimat itu justru bikin saya enggak mau dengar.”

Namun ia tetap duduk.

Mereka memutar satu bagian lagi.

Rukmini:

“Nama?”

Laki-laki:

“Jaka.”

“Nama lengkap?”

“Jaka Sulastri.”

Suara Marni tiba-tiba masuk dari rekaman lain:

“Jaka enggak pakai Sulastri.”

Hening.

Rukmini berkata,

“Ulang.”

Laki-laki:

“Jaka.”

“Nama lengkap?”

Kali ini laki-laki itu diam.

Rukmini:

“Bagus.”

Pak Seno mengerutkan kening.

“Kenapa bagus kalau enggak jawab?”

Damar berkata,

“Karena dia enggak boleh invent detail.”

Laras menatap speaker.

Orang itu tidak dilatih untuk menjadi Jaka secara sempurna.

Ia dilatih agar cukup tepat untuk membuat Marni melakukan sisanya.

Laras mengeluarkan K-03.

“Sekarang K-07.”

Keluarga Anton.

Rekamannya hampir sama.

Pertanyaan kepada keluarga.

Potongan suara asli.

Latihan laki-laki pengganti.

Namun Anton dinilai terlalu berisiko untuk kunjungan.

Ada satu bagian yang membuat Laras berhenti.

Yani berbicara kali ini.

“Coba ‘beta’.”

Laki-laki:

“Beta.”

“Salah.”

“Kenapa?”

“Ketahuan dibuat-buat.”

“Terus?”

Yani:

“Jangan pakai.”

Laki-laki tertawa hambar.

“Kalau enggak pakai, mereka curiga.”

Suara Rukmini masuk.

“Kalau dipaksakan, mereka lebih curiga.”

“Jadi?”

“Suara saja.”

Jeda.

Laki-laki itu bertanya,

“Kalau mereka mau ketemu?”

Rukmini menjawab:

“Jangan beri kesempatan.”

Laras menatap Damar.

Itulah sebabnya Anton tidak pernah pulang.

Ia hanya hidup melalui kaset.

Damar berkata,

“Berarti tiap keluarga punya batas.”

“Kunjungan kalau aman.”

“Suara kalau enggak.”

“Surat kalau suara terlalu berisiko.”

Pak Seno menatap deretan kode K.

“Dua puluh enam keluarga?”

Laras menggeleng.

“Belum tentu semuanya keluarga tiga belas nama.”

Damar mengambil kartu berikutnya.

K-14.

Nama penerima tidak mereka kenal.

Status:

Kehilangan suami.

Metode:

pendampingan saja.

Tidak ada pengganti.

Tidak ada identitas palsu.

Laras mengangguk.

“Jadi enggak semua pelanggan dipakai.”

Pak Seno berdiri.

“Dipilih.”

Kata itu terasa lebih buruk.

Menjelang siang mereka mulai memeriksa rak lebih teliti.

Damar menemukan tanda kecil pada beberapa kaset K.

Titik merah.

Ada tujuh.

K-03 milik Marni salah satunya.

“Yang ini beda,” katanya.

“Kenapa?”

Damar membuka kotaknya.

Di bagian dalam tertulis:

INTERNAL

Kaset lain dengan titik merah juga sama.

INTERNAL.

Pak Seno mendekat.

“Berarti tidak dikirim.”

Laras mengambil kartu indeks.

Tujuh pelanggan.

Marni.

Keluarga Hadi.

Seorang ibu bernama Lilis.

Seorang pria bernama Kusnadi.

Dua perempuan yang kehilangan suami.

Satu keluarga yang anaknya merantau dan tidak pernah memberi kabar.

Lihat selengkapnya