Tubuh bukan bagian pertama yang dihapus.
Orang yang tidak tercatat
Pagi berikutnya Laras tidak langsung memutar kaset apa pun.
Untuk pertama kalinya sejak kamar belakang dibuka, ia justru membawa semua kertas ke meja depan.
Kartu indeks.
Catatan Yani.
Kuitansi.
Catatan Herman.
Foto.
Salinan berita 1981.
Semuanya disusun berdasarkan tanggal.
Damar datang membawa penggaris.
Laras melihatnya.
“Buat apa?”
“Biar kelihatan profesional.”
“Kita lagi bikin garis waktu.”
“Makanya.”
Pak Seno muncul dari belakang dengan kopi.
“Kalau pelanggan masuk terus lihat begini, bilang saja kalian lagi sensus.”
Laras menulis:
20 November — Yani merekam M-4.
22 November — konflik Marni, laki-laki pengganti, Rukmini.
23 November — Yani berencana membawa laki-laki itu kepada Herman.
23 November — jasad ditemukan.
Damar menunjuk baris terakhir.
“Kita jangan anggap waktunya sama.”
“Aku enggak anggap.”
“Wajah kamu anggap.”
Laras mengabaikannya.
Ia mengambil kartu SUBJEK UTAMA.
Kolom nama kosong.
Asal tidak pasti.
Keluarga tidak ditemukan.
Dokumen tidak ada.
“Ini yang aneh.”
Pak Seno melihat.
“Apa?”
“Kalau orang ini enggak punya dokumen dari awal, gimana Suara Pulang bisa pakai dia?”
“Justru gampang.”
“Gampang dari mana?”
Pak Seno mengangkat bahu.
“Enggak ada keluarga cari.”
Damar mengambil kartu.
“Enggak ada dokumen bukan berarti enggak punya nama.”
Laras mengangguk.
“Yani bilang dia masih tahu dirinya siapa.”
Ia membuka catatan:
Dia masih tahu dirinya siapa.
“Berarti nama aslinya pernah diketahui.”
“Setidaknya oleh dia sendiri.”
“Terus kenapa enggak ditulis?”
Damar melihat halaman belakang kartu.
“Bisa sengaja.”
Pak Seno berkata,
“Cari dokumen lama Yani.”
“Kita sudah bongkar semua.”
“Belum.”
Laras dan Damar langsung menoleh.
Pak Seno menunjuk lemari besi kecil di bawah meja kasir.
“Buku pegawai.”
Laras mendecakkan lidah.
“Bapak kalau punya arsip rahasia kenapa keluarnya satu-satu?”
“Bukan rahasia. Kalian enggak pernah tanya.”
Pak Seno membuka lemari.
Ada map cokelat bertuliskan:
PEGAWAI 1977–1982
Berkas Sri Yani masih ada.
Nama lengkap:
Sri Yani Prameswari.
Alamat lama.
Fotokopi kartu identitas.
Beberapa slip gaji.
Dan satu lembar formulir pengunduran diri.
Tanggal:
7 April 1981.
Alasan:
pindah pekerjaan.
Damar membaca.
“Berarti resmi pindah dari sini April.”
“Ke Suara Pulang,” kata Laras.
Di bagian belakang formulir ada catatan tulisan Pak Seno:
Titip barang 2 kardus. Belum diambil.
Laras menatapnya.
“Dua kardus?”
Pak Seno ikut membaca.
Wajahnya bingung.
“Saya lupa.”
“Kardusnya mana?”
“Kalau masih ada, gudang.”
Mereka bertiga menuju gudang utama.
Butuh hampir setengah jam membongkar tumpukan radio rusak, kipas, majalah, dan kotak onderdil.
Damar akhirnya menarik satu kardus gepeng.
“YANI.”
Kosong.
Kardus kedua ditemukan di bawah rak besi.
Juga bertuliskan:
YANI.
Masih tersegel dengan tali rafia tua.
Pak Seno menatapnya.
“Yang ini saya enggak pernah buka.”
Laras memotong tali.
Isinya sebagian pakaian perempuan, dua buku, sebuah payung rusak, dan map plastik hitam.
Di dalam map terdapat surat-surat yang tidak dikirim.
Sebagian ditujukan kepada Herman.
Laras membuka yang paling atas.
Tidak ada tanggal.
Pak Herman, saya salah.
Laras membaca pelan.
Yani menulis bahwa pada awalnya ia menganggap pekerjaan di Suara Pulang tidak berbahaya.
Mereka mencari orang yang suaranya cukup fleksibel.
Merekam contoh.
Membantu keluarga yang kehilangan seseorang.
“Dia bilang membantu,” kata Pak Seno.
“Awalnya mungkin memang begitu.”
Surat berikutnya lebih panjang.
Orang yang kami pakai dulu masih punya kartu.
Laras berhenti.
Damar mendekat.
“Lanjut.”
Saya sendiri yang menyimpannya karena Bu Rukmini bilang kalau dia bawa, dia akan mudah pergi.
Laras merasakan dadanya mengencang.
Dokumen.
Berarti laki-laki itu pernah punya identitas tertulis.
Yani melanjutkan:
Saya pikir hanya sementara. Setelah kunjungan pertama selesai, seharusnya dikembalikan. Tapi kemudian namanya dianggap mengganggu.
Damar membaca kalimat itu lagi.
“Namanya dianggap mengganggu.”
Laras membuka surat berikutnya.
Kertasnya lebih kusut.
Pertama kami berhenti memanggil nama aslinya.
Lalu kami menyimpan kartunya.
Setelah itu pakaian dan barang bawaannya diganti karena tidak cocok dengan orang yang sedang dia wakili.
Dia pernah minta dompetnya kembali. Bu Rukmini bilang tidak tahu di mana. Saya tahu itu bohong.
Pak Seno duduk di peti kayu.
“Jadi benar-benar dihapus.”
Laras melanjutkan.
Setelah beberapa bulan dia mulai bilang nama asli itu terdengar seperti nama orang lain.
Tidak ada nama yang ditulis.
Yani selalu menyebutnya:
nama asli.
Seolah sengaja menghindari menaruhnya di kertas.
Laras membalik surat.
Tidak ada apa-apa.
“Kenapa Yani enggak pernah tulis namanya?”
Damar berpikir.
“Mungkin takut surat ditemukan.”
“Atau dia disuruh jangan.”
Laras membuka surat berikutnya.
Hanya satu paragraf.
Pak Herman tanya kenapa saya tidak langsung bilang namanya. Karena saya takut kalau saya tulis di mana pun, Bu Rukmini akan tahu saya masih menyimpannya.
Laras menatap Damar.
“Masih menyimpan apa?”
Ia membongkar map.
Tidak ada kartu identitas.
Tidak ada dompet.
Namun di bagian bawah kardus ada sebuah amplop kecil.
Tulisan di depannya:
MILIK DIA
Laras membukanya.
Kosong.
Di dalam hanya tersisa bekas persegi pada kertas, seukuran kartu identitas lama.
Sesuatu pernah disimpan di sana.
Sudah diambil.
Damar melihat bagian lem amplop.
“Pernah dibuka.”
“Yani?”
“Bisa.”
Pak Seno mengambil amplop.
“Bukan baru.”
Laras memeriksa bagian belakang.
Ada tanggal ditulis pensil.
21/11/81
Sehari sebelum M-5.
Dua hari sebelum jasad ditemukan.
Di bawahnya:
sudah saya ambil kembali. besok saya kasih dia.
Laras menahan napas.
“Yani ambil dokumen aslinya.”
Damar mengangguk.
“Dan mau balikin.”
Itulah sebabnya laki-laki itu ingin pergi.
Ia tidak hanya akan mencari namanya.
Yani sudah menemukannya.
Atau setidaknya memiliki sesuatu yang bisa membuktikan siapa dia.
Laras menatap amplop kosong.
“Kalau dia mati tanggal dua puluh tiga…”
Damar menyelesaikan,
“…orang yang membunuhnya mungkin ambil dokumennya lagi.”
Pak Seno langsung berkata,
“Kalau dia korban.”
Laras mengangguk.
Masih ada satu jarak yang belum bisa mereka lewati.
Mereka belum tahu laki-laki dalam rekaman adalah jasad dalam kardus.
Tapi sekarang mereka tahu sesuatu yang lain.
Sebelum tubuh seseorang bisa menjadi tak dikenal—
identitasnya sudah lebih dulu dibuat hilang.
Laras kembali ke arsip koran siang itu.
Damar ikut.
Kali ini mereka tidak mencari berita penemuan.
Mereka mencari keterangan barang yang ditemukan bersama korban.
Berita awal tidak banyak membantu.
Tidak ada dompet.
Tidak ada surat.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada benda pribadi yang cukup khas untuk mengenali korban.
Damar menunjuk satu kalimat.
“Pakaian?”
Laras membaca.
Pakaian yang ditemukan bersama bagian tubuh tidak memberi petunjuk identitas berarti.
“Kalau memang dia…”
Laras berhenti.
Damar melanjutkan,
“…bahkan bajunya mungkin bukan miliknya.”
Mereka membuka berita lain.
Ada keterangan mengenai upaya identifikasi melalui sidik jari.
Tidak membuahkan hasil.
Tidak ada catatan yang cocok.
Laras bersandar.
“Kalau kartu Yani benar kartu identitasnya, kenapa sidik jari enggak cocok?”
“Belum tentu sistem catatan lengkap.”
“Atau kartunya bukan dokumen pemerintah.”
“Bisa surat kerja. kartu penghuni. apa saja.”
Laras mengangguk.