Pengakuan paling sempurna kadang kekurangan satu kata.
Empat Kata
Kaset dari tas Yani diletakkan di tengah meja.
Tidak ada yang menyentuhnya sejak malam sebelumnya.
Pak Seno membuka toko seperti biasa. Damar menyapu. Laras menulis nota pesanan.
Selama hampir satu jam, mereka berpura-pura benda itu bukan alasan utama ketiganya datang lebih pagi.
Akhirnya Damar menyerah.
“Kita mau jual kaset kosong seharian atau dengar?”
Pak Seno menatap Laras.
“Yang kemarin kamu sendiri bilang besok.”
Laras menutup buku nota.
“Iya.”
Ia duduk.
Kaset dimasukkan ke deck.
Damar memundurkan sampai beberapa detik sebelum suara perempuan yang mereka dengar semalam.
Klik.
Desis.
Suara Yani.
“Saya rekam tanpa dia tahu.”
Lalu suara perempuan.
Jauh.
Bergetar.
“Saya yang melakukannya.”
Damar menekan pause.
“Sekarang dengar baik-baik.”
Laras mengangguk.
Putar.
“Saya yang melakukannya.”
Pause.
Sekali lagi.
“Saya yang melakukannya.”
Pak Seno mengernyit.
“Siapa?”
“Entah.”
“Marni?” tanya Damar.
Laras tidak langsung menjawab.
Nada suaranya bisa jadi Marni.
Bisa juga bukan.
Rekaman terlalu buruk.
Yang terdengar hanya perempuan dewasa yang sedang menangis atau kehabisan napas.
Damar memundurkan lebih jauh.
Mungkin ada kalimat sebelum pengakuan.
Desis.
Suara pintu.
Yani berbicara pelan.
Kemudian perempuan itu:
“…enggak bisa begini.”
Sebagian tertutup suara benda bergeser.
Yani:
“Apa yang Ibu lakukan?”
Tidak jelas siapa yang ia panggil.
Perempuan:
“Saya yang melakukannya.”
Lalu beberapa detik kosong.
Yani berkata:
“Yang mana?”
Laras langsung mengangkat tangan.
“Stop.”
Damar menghentikan.
Pak Seno menatapnya.
“Apa?”
“Yani nanya yang mana.”
“Iya.”
“Berarti dia sendiri enggak tahu maksud pengakuannya.”
Damar mengangguk.
Kalimat yang kemarin terdengar seperti ujung sebuah misteri sekarang justru tampak tidak lengkap.
Saya yang melakukannya.
Melakukan apa?
Membuat rekaman palsu?
Menyembunyikan surat?
Membawa laki-laki itu ke Marni?
Menghilangkan identitas?
Atau membunuh seseorang?
Pak Seno bersandar.
“Jangan sebut pengakuan pembunuhan dulu.”
Laras mengangguk.
“Belum.”
Damar melepas pause.
Yani bertanya lagi:
“Yang mana?”
Perempuan itu menangis.
“Semua.”
Laras merasa tengkuknya dingin.
“Semua apa?” suara Yani bertanya.
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar:
“Saya cuma ingin dia pulang.”
Damar menatap Laras.
Kali ini lebih jelas.
Suara itu terdengar seperti Marni.
Laras menahan napas.
Yani:
“Bu Marni?”
Tidak ada keraguan lagi.
Pak Seno menutup mata sebentar.
Damar berbisik,
“Ya.”
Marni.
Rekaman lanjut.
Marni:
“Saya cuma mau anak saya pulang.”
Yani:
“Jaka bukan dia.”
Marni mulai menangis lebih keras.
“Saya tahu.”
Laras membeku.
Damar menekan stop spontan.
“Apa?”
Pak Seno juga menoleh ke mesin.
Laras berkata pelan,
“Dia tahu.”
Mereka memutar ulang.
Marni:
“Saya tahu.”
Yani:
“Sejak kapan?”
Jeda.
Marni tidak menjawab.
Yani:
“Bu?”
Marni:
“Saya enggak tahu.”
“Bu tahu dia bukan Jaka?”
“Saya enggak tahu kapan mulai tahu.”
“Terus kenapa tetap—”
“Saya tahu dia bukan Jaka.”
Marni terdengar marah sekarang.
“Jangan suruh saya bilang lagi.”
Damar menatap meja.
Selama ini mereka menganggap Marni mungkin korban kebohongan sempurna.
Perempuan yang terlalu rindu sehingga percaya.
Tapi rekaman menunjukkan sesuatu yang lebih rumit.
Pada suatu titik—
Marni tahu.
Dan tetap memilih laki-laki itu sebagai Jaka.
Laras memegang buku catatan.
“Putar.”
Yani:
“Kalau Ibu tahu, kenapa terus panggil dia Jaka?”
Marni menjawab cepat.
“Karena dia jawab.”
Tidak ada seorang pun di toko bergerak.
Yani:
“Itu karena kami latih.”
“Saya enggak peduli.”
“Bu Marni.”
“Kalau saya panggil Jaka dan dia jawab, kenapa kalian yang bilang dia bukan?”
“Karena memang bukan.”
Marni tertawa kecil.
Suara orang yang kelelahan.
“Jaka asli juga enggak jawab.”
Yani diam.
Marni melanjutkan:
“Surat saya enggak dibalas.”
“Pulang enggak.”
“Dicari enggak ketemu.”
“Yang satu ini datang.”
“Duduk di meja makan.”
“Tidur di kamar anak saya.”
“Panggil saya Bu.”
“Terus kalian bilang saya harus percaya yang mana?”
Yani tidak menjawab.
Laras menekan pause.
Ia menatap Damar.
“Ini inti semuanya.”
Damar mengangguk perlahan.
Rukmini tidak harus membuat kebohongan sempurna.
Ia hanya harus memberi seseorang pilihan yang lebih mudah dipercaya daripada kehilangan.
Laras teringat Sari.
Sekarang saya enggak peduli.
Orang-orang itu mungkin tahu sebagian.
Mungkin ragu.
Mungkin sengaja tidak bertanya.
Karena kebohongan tersebut mengisi tempat yang sebelumnya kosong.
Pak Seno berkata,
“Kalau begitu Marni bukan ditipu sepenuhnya.”
“Awalnya ditipu,” kata Laras.
“Setelah itu?”
Laras tidak menjawab.
Setelah itu mungkin Marni ikut mempertahankannya.
Rekaman kembali diputar.
Yani:
“Jaka asli kirim surat.”
Marni langsung diam.
“Bu Rukmini simpan.”
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Yani melanjutkan:
“Dia enggak hilang seperti yang Ibu pikir.”
Marni berbisik,
“Suratnya mana?”
“Saya enggak punya.”
“Siapa punya?”
“Bu Rukmini.”
Marni:
“Bohong.”
“Enggak.”
“Kenapa dia simpan?”
Yani tidak menjawab.
Marni berteriak:
“Kenapa?”
Suara kursi jatuh.
Damar menurunkan volume.
Yani:
“Saya enggak tahu.”
Marni:
“Dia bilang Jaka enggak pernah kirim.”
“Saya tahu.”
“Dia bilang mungkin sudah mati.”
“Saya tahu.”
“Terus dia kasih saya orang itu.”
Yani:
“Iya.”
Marni menangis lagi.
Kali ini berbeda.
Bukan sedih.
Seperti marah kepada dirinya sendiri.
“Saya yang melakukannya.”
Yani:
“Bu, apa?”
Marni:
“Saya biarkan.”
Laras menahan napas.
Bukan pembunuhan.
Setidaknya belum.
“Saya tahu dia beda.”
“Saya tahu cara dia pegang sendok beda.”
“Saya tahu bekas luka enggak ada.”
“Saya tahu dia enggak ingat rumah.”
“Tapi saya ajarin.”
Suara Marni pecah.
“Saya yang ajarin dia jadi Jaka juga.”
Laras menatap speaker.
Jadi Rukmini bukan satu-satunya yang membentuk laki-laki itu.
Marni ikut.
Setiap kali ia salah, Marni memperbaiki.
Setiap kali lupa, Marni memberi jawaban.
Setiap kali berkata bukan Jaka—
Marni memanggilnya Jaka lagi.
Yani berkata:
“Bu Rukmini yang mulai.”
Marni langsung membalas,
“Terus saya yang terusin.”
Sunyi.
Marni mengulang:
“Saya yang melakukannya.”
Sekarang kalimat itu punya arti.
Namun bukan arti yang mereka duga.
Ia mengaku ikut menghapus seseorang.
Bukan tubuhnya.
Identitasnya.
Damar mematikan kaset.
Tidak ada yang protes.
Pak Seno berdiri lalu pergi ke depan toko.
“Kenapa?” tanya Laras.
“Mau buka pintu sedikit.”
“Pengap?”
“Iya.”
Tapi Laras tahu bukan udara yang membuat ruangan terasa sesak.
Siang itu Laras kembali ke rumah Marni.
Damar ikut.
Mereka tidak membawa Pita Hitam.
Tidak membawa reel.
Hanya salinan satu bagian dari rekaman Yani.
Marni sedang menjahit saat mereka datang.
Ia tersenyum seperti biasa.
“Mbak Laras.”
Laras membalas senyum.
“Boleh masuk, Bu?”
“Ya.”
Rumah itu tidak berubah.
Mesin jahit.
Sofa kayu.
Foto keluarga.
Pintu kamar yang pernah cepat-cepat ditutup.
Kini Laras melihat semua dengan cara berbeda.
Seorang perempuan pernah hidup di rumah ini bersama seorang laki-laki yang bukan anaknya.
Dan mungkin keduanya sama-sama tahu.
Marni membuat teh.
Damar tidak menyentuh gelasnya.
Laras langsung bertanya,
“Bu masih punya kaset Jaka yang lain?”
Marni berhenti.
“Kenapa?”
“Penasaran.”
“Mbak Laras sudah terlalu penasaran.”
Nada Marni tetap ramah.
Tapi tidak selembut sebelumnya.