PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #19

Kata yang Tidak Diucapkan

Laras memutar jawaban itu sekali lagi.

Tidak pernah bilang membunuh

Laras tidak langsung pulang malam itu.

Setelah Pak Seno pergi, ia tetap duduk di depan tape recorder bersama Damar.

Kaset Yani masih berada di dalam.

Di atas meja, Laras menulis empat kalimat.

Saya yang melakukannya.

Saya dorong dia.

Dia masih hidup waktu saya pergi.

Herman datang.

Ia membaca semuanya dari awal.

Damar berdiri di belakangnya.

“Kalau dibaca begini, tetap jelek.”

“Bukan itu.”

“Terus?”

Laras menunjuk kalimat pertama.

“Dari awal kita dengar ini sebagai pengakuan.”

“Memang.”

“Pengakuan apa?”

Damar diam.

Laras melanjutkan,

“Marni enggak pernah bilang saya membunuh dia.”

“Dia bilang mendorong.”

“Iya.”

“Terus orangnya berdarah.”

“Iya.”

“Rukmini enggak bawa ke rumah sakit.”

“Iya.”

“Besoknya hilang.”

“Iya.”

Damar menarik kursi.

“Kesimpulan wajarnya?”

“Itu masalahnya.”

“Apa?”

“Setiap kali kita punya kesimpulan wajar, ujungnya salah.”

Damar bersandar.

“Terus menurutmu?”

Laras melihat kaset.

“Kita dengar apa yang benar-benar diucapkan.”

“Sudah.”

“Enggak. Kita dengar sambil isi bagian kosong sendiri.”

Damar menatapnya.

Laras menunjuk buku.

“Waktu Marni bilang ‘saya yang melakukannya’, kita isi sendiri: membunuh.”

“Karena konteksnya.”

“Setelah didengar lengkap, ternyata maksud pertama dia ikut membuat laki-laki itu jadi Jaka.”

Damar mengangguk.

“Terus dia mengaku mendorong.”

“Tapi dia enggak pernah bilang dorongan itu membunuh.”

“Benar.”

“Dia bilang laki-laki itu masih hidup.”

Damar mulai memahami.

Laras menulis satu kata besar:

MATI

Kemudian mencoretnya.

“Tidak ada satu orang pun dalam rekaman itu yang bilang dia mati malam itu.”

Damar terdiam.

“Marni enggak.”

“Yani enggak.”

“Rukmini enggak.”

“Bahkan Herman belum kita dengar.”

Damar menatap Pita Hitam di meja lain.

“Terus mayat besoknya?”

“Itu mayat.”

“Ya.”

“Belum tentu dia.”

Damar menghela napas.

“Kita balik lagi ke awal.”

“Memang dari awal belum pernah terbukti.”

Laras berdiri.

Ia mengambil foto wajah korban dari arsip koran.

Lalu foto Anton, Jaka, dan lelaki di cermin.

Kemiripan ada.

Tapi tidak ada kepastian.

Bekas luka berbeda.

Bentuk jari berbeda.

Orang-orang yang memakai identitas sama bisa lebih dari satu.

Pak Mahfud bahkan melihat “Jaka” hidup setelah jasad ditemukan.

Laras meletakkan foto-foto berjajar.

“Kalau laki-laki Pita Hitam bukan korban?”

Damar menatapnya.

“Terus siapa korban?”

“Enggak tahu.”

“Dan laki-laki itu ke mana?”

“Enggak tahu.”

Damar tertawa pendek.

“Bagus. Misterinya tambah dua.”

Laras tidak tertawa.

Ia kembali ke tape recorder.

“Putar dari pertanyaan Herman.”

Damar memundurkan pita.

Yani:

“Bu Marni, lihat saya.”

Desis.

“Yang datang malam itu siapa?”

Marni:

“Herman.”

Damar menghentikan.

“Jelas.”

Laras mengangguk.

“Sekali lagi.”

Putar.

“Yang datang malam itu siapa?”

“Herman.”

“Lagi.”

Damar menatapnya.

“Kalau sepuluh kali juga tetap Herman.”

“Putar.”

Ia menurut.

Kali keempat Laras mengangkat tangan.

“Stop.”

“Apa?”

“Dengar sebelum pertanyaan.”

Damar memundurkan lebih jauh.

Suara Marni:

“…saya panggil Rukmini.”

Yani:

“Dia datang?”

“Iya.”

“Sendiri?”

Tidak ada jawaban.

Desis.

Kemudian terdengar seperti bagian pita terlipat.

Krek.

Yani:

“Bu Marni, lihat saya.”

“Yang datang malam itu siapa?”

“Herman.”

Laras menunjuk mesin.

“Itu.”

“Apa?”

“Ada kerusakan.”

“Kaset tua.”

“Bukan desis.”

Damar mengambil obeng kecil.

Ia mengeluarkan kaset dan memeriksa pita.

Beberapa sentimeter sebelum bagian tersebut terdapat sambungan kecil.

Keduanya terdiam.

“Disambung?” tanya Laras.

“Iya.”

“Kaset Yani juga diedit?”

“Bisa karena pernah putus.”

“Di tempat yang tepat?”

Damar tidak menjawab.

Ia memeriksa sambungan dengan kaca pembesar.

“Lem lama.”

“Dari 1981?”

“Enggak bisa tahu.”

“Bisa ada bagian yang hilang?”

“Pasti ada. Kalau pita putus terus disambung, sedikit bagian biasanya dibuang.”

“Berapa lama?”

“Bisa sepersekian detik. Bisa beberapa detik.”

Laras melihatnya.

“Kalau beberapa detik?”

“Ya kita kehilangan kalimat.”

Damar memasukkan kaset kembali.

Ia menjalankan dengan kecepatan rendah.

Sebelum sambungan:

Yani:

“Dia datang?”

Marni:

“Iya.”

“Sendiri?”

Marni mulai menjawab.

“Eng—”

Pita terpotong.

Setelah sambungan:

“Bu Marni, lihat saya.”

Laras langsung berdiri.

“Dia bilang enggak.”

“Bisa.”

“Rukmini enggak datang sendiri.”

“Kelihatannya.”

“Terus siapa yang sama dia?”

Damar menunjuk kalimat sesudah sambungan.

“Herman?”

Laras menggeleng.

“Belum tentu.”

“Kenapa?”

“Karena kita enggak tahu berapa percakapan yang hilang.”

Damar menatap mesin.

Kesalahan mereka kembali sama.

Mendengar dua potongan berdekatan lalu menganggap keduanya satu konteks.

Persis seperti tiga belas nama di Pita Hitam.

Laras duduk.

“Seseorang memotong rekaman.”

“Atau pitanya rusak.”

“Yani bilang kaset ini disimpan buat Ayah.”

“Iya.”

“Kalau rusak alami, kebetulan rusaknya tepat di bagian siapa yang datang sama Rukmini?”

Damar mengangkat bahu.

“Sudah terlalu banyak kebetulan.”

Mereka saling pandang.

Kalimat itu sudah tidak lucu lagi.

Keesokan paginya Laras langsung mencari Ratna.

Ibunya sedang menjemur pakaian.

“Bu.”

Ratna tidak menoleh.

“Kamu enggak kerja?”

“Nanti.”

“Kenapa?”

“Ayah pulang malam tanggal 22 November 1981 jam berapa?”

Tangan Ratna berhenti.

Beberapa detik kemudian ia melanjutkan menggantung baju.

“Kenapa tiba-tiba tanggal?”

“Jawab dulu.”

“Mana Ibu ingat jam.”

“Dia keluar malam itu?”

Ratna menoleh.

Wajahnya berubah.

“Dari mana kamu tahu?”

Laras merasa jantungnya berdegup lebih cepat.

“Jadi keluar.”

Ratna menarik napas.

“Ya.”

“Ke mana?”

“Katanya ada orang minta bantuan.”

“Siapa?”

Ratna tidak menjawab.

“Rukmini?”

Ratna menjepit kain lebih keras.

“Bu.”

“Dia telepon.”

Laras tidak bergerak.

“Rukmini telepon Ayah?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Sudah malam.”

“Terus Ayah pergi?”

“Iya.”

“Pulang?”

“Hampir pagi.”

“Sendiri?”

Ratna menatap Laras.

“Iya.”

“Bajunya?”

“Apa?”

“Ada darah?”

Ratna membeku.

Itu cukup.

Laras mendekat.

“Ada?”

“Sedikit.”

“Di mana?”

“Lengan.”

“Dia bilang apa?”

Lihat selengkapnya