Ada satu kursi yang tidak pernah boleh dipindahkan.
Kursi dekat dapur
Marni tidak senang melihat Laras datang lagi.
Kali ini bahkan sebelum pintu dibuka penuh, ia sudah berkata,
“Sudah saya bilang jangan ke sini.”
Laras berdiri di depan pagar bersama Damar.
“Kami cuma mau tanya satu hal.”
“Jawabannya tetap enggak tahu.”
“Ibu belum dengar pertanyaannya.”
Marni menatap Laras.
“Semua pertanyaan kamu ujungnya sama.”
Damar mencoba lebih halus.
“Lima menit saja, Bu.”
Marni menghela napas.
Ia akhirnya membuka pintu.
“Lima.”
Mereka masuk.
Rumah itu sama seperti sebelumnya.
Mesin jahit.
Lemari.
Foto keluarga.
Tape recorder kecil.
Dan pintu kamar Jaka yang tertutup.
Namun setelah mendengar rekaman semalam, Laras memperhatikan hal lain.
Letak dapur.
Ruang makan berada tepat di belakang ruang tengah. Tidak ada pintu pemisah, hanya lengkungan tembok.
Sebuah meja makan kayu berdiri di tengah.
Empat kursi mengelilinginya.
Tiga kursi seragam.
Satu tidak.
Kursi keempat lebih tua, warnanya lebih gelap, dengan sandaran tinggi.
Letaknya menempel dekat dinding.
Laras berhenti melihat.
Marni mengikuti arah matanya.
“Mau minum?”
“Enggak usah.”
“Bagus.”
Marni duduk di sofa.
“Kalian mau tanya apa?”
Laras tetap berdiri.
“Malam 22 November, setelah Ibu dorong dia, siapa yang datang bersama Rukmini?”
Marni tidak bereaksi.
“Herman datang kemudian,” lanjut Laras. “Kami tahu.”
Marni menatapnya.
“Kalian dengar semuanya?”
“Belum.”
“Terus jangan merasa tahu.”
“Makanya saya tanya.”
Marni meremas ujung kain yang berada di pangkuannya.
“Bu Rukmini datang sendiri.”
Laras terdiam.
Damar juga.
“Yakin?”
“Ya.”
“Di rekaman, Yani tanya apakah dia datang sendiri.”
Marni menatap Laras tajam.
“Kalau sudah punya rekaman, buat apa tanya saya?”
“Karena jawaban setelah pertanyaan itu hilang.”
Marni tidak menjawab.
Laras melanjutkan,
“Siapa yang datang bersama Rukmini?”
“Enggak ada.”
“Terus laki-laki yang kemudian bawa dia?”
“Saya enggak lihat.”
“Ibu bilang kemarin ada laki-laki.”
“Saya bilang saya enggak kenal.”
“Berarti Ibu lihat.”
Marni mulai kesal.
“Sekilas.”
“Di mana?”
“Depan rumah.”
“Kapan?”
“Waktu saya mau pulang.”
Laras melihat sekeliling.
“Ibu pulang dari rumah sendiri?”
Marni membeku.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
Damar langsung menoleh kepada Laras.
Laras berkata,
“Rekaman bilang Ibu disuruh pulang.”
Marni diam.
“Ini rumah Ibu.”
Tidak ada jawaban.
“Kalau kejadian itu di sini, Ibu mau pulang ke mana?”
Marni menunduk.
Kesalahan kecil.
Satu kalimat yang selama ini mereka dengar begitu saja.
Rukmini suruh saya pulang.
Mereka menganggap konflik terjadi di rumah lain.
Jalan Sawo.
Studio.
Tempat Rukmini.
Padahal rekaman menyebut dapur.
Meja.
Kamar Jaka.
Semua mungkin terjadi di rumah Marni sendiri.
Damar berkata,
“Rekaman itu dibuat di sini?”
Marni tidak menjawab.
Laras berjalan perlahan menuju ruang makan.
“Jangan.”
Laras berhenti.
Marni sudah berdiri.
“Jangan masuk dapur.”
“Kenapa?”
“Enggak sopan.”
“Dari tadi saya sudah enggak sopan.”
“Laras.”
Itu pertama kalinya Marni memanggil namanya tanpa Mbak.
Laras melihat meja makan.
Sudutnya membulat.
Tidak tajam.
Ia langsung mengingat rekaman.
Dia jatuh.
Meja.
Sudut meja.
Laras menyentuh sudutnya.
Tumpul.
“Ini meja yang sama dari 1981?”
Marni tidak menjawab.
“Bu?”
“Bukan urusan kamu.”
Damar mendekat.
“Kalau bukan meja yang sama, meja lamanya mana?”
Marni menunjuk pintu.
“Keluar.”
Laras justru melihat kursi tua dekat dinding.
Berbeda dari kursi lainnya.
Ia mendekat.
Marni bergerak cepat.
“Jangan sentuh.”
Laras berhenti.
Marni berdiri di antara dirinya dan kursi.
Reaksi itu lebih besar daripada saat Laras menyebut Rukmini.
Lebih besar daripada saat menyebut darah.
Damar melihatnya juga.
“Kenapa kursinya?”
“Enggak kenapa.”
“Boleh dipindah?” tanya Laras.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Sudah dari sana.”
Laras mengernyit.
“Dari kapan?”
Marni diam.
“Ibu jahit hampir tiap hari. Rumah dibersihkan. Meja pernah diganti.”
Laras menunjuk kursi.
“Tapi ini enggak?”
Marni menarik napas.
“Kursi Jaka.”
Laras menatapnya.
“Jaka asli?”
Marni tidak menjawab.
Laras bertanya lagi.
“Yang mana?”
Tidak ada suara.
Damar perlahan melihat bagian kaki kursi.
Debu di lantai sekitarnya berbeda.
Tiga kaki terlihat pernah bergeser.
Satu kaki belakang menempel pada lantai.
Seperti direkatkan.
Damar jongkok.
Marni langsung berkata,
“Jangan.”
Damar menatap ke bawah kursi.
“Ini dipaku?”
Laras ikut melihat.
Benar.
Salah satu kaki kursi dipasang ke lantai menggunakan plat besi kecil dan dua sekrup.
Bukan karena rusak.
Seseorang sengaja memastikan kursi itu tidak bisa digeser.
Laras menatap Marni.
“Kenapa?”
Marni hanya berkata,
“Supaya tetap di situ.”
“Kenapa harus tetap di situ?”
Perempuan itu tidak menjawab.
Laras melihat lantai tepat di bawah kursi.
Ubin teraso lama.
Sebagian tertutup kaki kursi.
Di sela bayangannya terlihat satu bagian yang warnanya berbeda.
Lebih gelap.
Damar tidak menyentuh kursi.
Ia hanya mengambil senter kecil dari tasnya dan menyorot ke bawah.
Marni berdiri seperti orang yang sudah tahu semuanya tidak bisa lagi dihentikan.
“Ada ubin pecah,” kata Damar.
Laras berjongkok.
Satu ubin di bawah kursi mempunyai retakan panjang.
Bagian tengahnya pernah ditambal semen.
“Ini bekas apa?”
Marni tidak menjawab.
Laras melihat meja makan lagi.
Meja sekarang berbeda.
Kursi tetap.
Lantai ditambal.
Sesuatu memang pernah terjadi di titik itu.
“Dia jatuh di sini?”
Marni menutup mata.
“Bu.”
“Iya.”
Jawabannya nyaris tidak terdengar.
Laras berdiri.
“Laki-laki itu?”
Marni mengangguk.
“Yang dipanggil Jaka?”
“Jangan panggil begitu.”
Laras terdiam.
Itu pertama kalinya Marni sendiri menolak nama itu.
“Terus meja lamanya?”
“Dibuang.”
“Kenapa?”
“Rusak.”
“Darah?”
Marni tidak menjawab.
Damar bertanya pelan,
“Kursi kenapa enggak dibuang juga?”
Marni membuka mata.
“Karena bukan kursinya yang salah.”
Jawaban itu membuat Laras diam.
Marni berjalan menuju kursi.
Ia menyentuh sandarannya.
“Dia biasa duduk di sini.”
“Jaka?”
Marni tidak menjawab.
“Lelaki itu?”
Kali ini Marni mengangguk.
“Setiap makan?”
“Iya.”
“Kenapa dipaku?”
Marni mengusap kayunya.
“Setelah dia pergi, saya sering pindahkan.”