PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #21

Bunyi dari Dapur

Kadang kematian hanya membutuhkan satu detik ketakutan.

kaset dari rumah marni

Kaset bening itu baru diputar keesokan paginya.

Pak Seno belum datang.

Laras duduk di depan deck. Damar berdiri di sebelahnya sambil memeriksa pita melalui jendela plastik.

“Panjang.”

“Berapa?”

“Enam puluh menit.”

“Isinya?”

“Kalau saya tahu, enggak perlu diputar.”

Laras melihat label kosong.

Tidak ada tanggal.

Tidak ada nama.

Hanya bekas lem di salah satu sisi, seperti label lama pernah dicabut.

Damar memasukkannya.

“Siap?”

Laras mengangguk.

Klik.

Suara pertama bukan percakapan.

Piring.

Air.

Sendok mengenai gelas.

Suara rumah biasa.

Kemudian Marni.

“Sudah makan?”

Laki-laki menjawab,

“Sudah.”

Laras langsung mengenal suara itu.

Laki-laki Pita Hitam.

Namun nadanya berbeda.

Tidak sedang latihan.

Tidak sedang menjawab pertanyaan Rukmini.

Ia terdengar santai.

Marni:

“Bohong.”

“Sungguh.”

“Kalau sudah makan, kenapa nasinya masih?”

Laki-laki itu tertawa kecil.

“Enggak lapar.”

Damar menatap Laras.

Rekaman ini dibuat sebelum pertengkaran.

Mungkin tape recorder dibiarkan menyala begitu saja di dapur.

Marni berkata,

“Besok makan yang benar.”

Laki-laki:

“Besok saya enggak di sini.”

Hening.

Suara sendok berhenti.

Marni:

“Mau ke mana?”

“Pergi.”

“Jangan mulai.”

“Saya serius.”

“Rukmini nyuruh?”

“Bukan.”

“Yani?”

“Bukan.”

“Terus?”

Laki-laki itu menjawab,

“Saya sendiri.”

Laras mulai menulis.

Tanggalnya mungkin 22 November.

Percakapan yang selama ini hanya mereka dengar dari rekaman lain kini terdengar dari awal.

Marni bertanya,

“Pergi ke mana?”

“Belum tahu.”

“Terus tidur di mana?”

“Bisa cari.”

“Kerja?”

“Cari juga.”

Marni tertawa pendek.

“Kamu enggak tahu apa-apa di luar.”

Laki-laki itu diam.

Marni melanjutkan,

“Nama saja kamu enggak tahu.”

Tidak ada suara beberapa detik.

Kemudian laki-laki itu berkata,

“Saya mulai ingat.”

Laras langsung menatap Damar.

Marni:

“Apa?”

“Sedikit.”

“Apa yang diingat?”

“Jangan.”

“Jaka.”

“Jangan panggil begitu.”

Suara kursi bergeser.

Laki-laki itu:

“Saya bukan Jaka.”

Marni:

“Kamu capek.”

“Saya bukan Jaka.”

“Sudah.”

“Jaka nulis ke Ibu.”

Sunyi.

Damar menahan napas.

Marni:

“Apa?”

“Surat.”

“Dari siapa kamu tahu?”

“Yani.”

“Bohong.”

“Saya lihat.”

“Suratnya?”

“Sebagian.”

Marni mulai terdengar panik.

“Di mana?”

“Rukmini simpan.”

“Kenapa?”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Kenapa dia simpan?”

“Saya enggak tahu.”

Marni berdiri. Terdengar kursi jatuh.

“Kamu bohong.”

“Enggak.”

“Kamu mau pergi terus bikin alasan.”

“Bu—”

“Jangan panggil saya Bu kalau kamu bilang bukan anak saya!”

Hening panjang.

Kemudian laki-laki itu berkata pelan,

“Makanya saya mau berhenti.”

Marni menangis.

Suara rekaman berikutnya sama seperti bagian yang sudah mereka dengar sebelumnya.

Dorongan.

Benturan.

Meja.

Lalu suara berat jatuh ke lantai.

Damar menekan pause.

“Ini benturan pertama.”

Laras mengangguk.

“Yang bikin kepalanya berdarah.”

Mereka lanjut.

Marni panik.

“Jaka?”

Laki-laki mengerang.

“Jaka?”

“Jangan…”

“Astaga.”

Suara kain ditarik.

Air.

Marni menangis.

“Maaf.”

Laki-laki itu berkata sangat lemah:

“Jangan panggil saya Jaka lagi.”

Marni:

“Iya.”

“Janji?”

“Iya.”

“Janji.”

Marni menangis.

“Saya janji.”

Laras merasakan tubuhnya menegang.

Ini kalimat yang Marni ceritakan semalam.

Yang belum mereka dengar adalah apa yang terjadi sesudahnya.

Marni berteriak memanggil seseorang.

Kemudian rekaman berjalan hampir lima menit tanpa percakapan jelas.

Pintu depan.

Langkah.

Rukmini datang.

Suara yang sudah mereka kenal.

“Apa yang terjadi?”

Marni:

“Saya enggak sengaja.”

“Dia jatuh?”

“Iya.”

Rukmini mendekat.

“Masih sadar?”

Laki-laki itu mengerang.

“Panggil dokter.”

Rukmini:

“Diam dulu.”

“Panggil dokter!”

“Marni.”

“Banyak darah.”

“Ambil kain.”

Lalu percakapan mereka bergeser menjauh.

Damar berkata,

“Ini cocok sama rekaman Yani.”

Laras mengangguk.

Tidak lama kemudian terdengar pintu lagi.

Suara Herman.

Ayah Laras.

“Mana?”

Rukmini:

“Dapur.”

Herman masuk.

“Astaga.”

Suara langkah cepat.

“Dia masih napas?”

“Masih.”

“Kenapa belum dibawa?”

“Pikir dulu.”

“Pikir apa?”

Percakapan berikutnya juga cocok dengan rekaman yang sudah mereka dengar.

Rumah sakit.

Polisi.

Laras.

Rekaman.

Ancaman.

Herman marah.

Laki-laki itu sempat sadar.

“Pak…”

“Saya di sini.”

“Nama saya…”

Desis.

Sekali lagi nama itu tidak terdengar.

Laras mengepalkan tangan.

Damar menurunkan kepala mendekati speaker.

Tetap tidak cukup.

Laki-laki:

“Saya ingat.”

Herman:

“Bagus.”

“Saya ingat nama saya.”

Rukmini:

“Matikan.”

Kemudian bunyi langkah.

Suara menjadi jauh.

Seolah beberapa orang pindah ke ruang depan.

Damar melihat Laras.

“Tape-nya tetap di dapur.”

“Iya.”

Itulah sebabnya Marni menyebutnya Dapur.

Percakapan di depan rumah menjadi samar.

Herman dan Rukmini berdebat.

Tidak jelas.

Lalu Herman berkata cukup keras:

“Saya cari kendaraan.”

Pintu terbuka.

Tertutup.

Damar menatap Laras.

“Ayahmu keluar.”

Laras mengangguk.

Rukmini masih berada di rumah.

Beberapa menit kemudian terdengar suara perempuan lain dari depan.

Mungkin Yani.

Tidak jelas.

Percakapan bergeser keluar.

Lalu—

dapur menjadi sepi.

Hanya ada dua suara.

Napas laki-laki itu.

Dan Marni.

Damar menoleh.

Laras tahu bagian inilah yang tidak pernah ada dalam rekaman lain.

Laki-laki itu bernapas berat.

Marni terdengar membasahi kain.

“Minum?”

“Enggak.”

“Sedikit.”

“Enggak.”

“Kepalanya sakit?”

“Ya.”

Marni duduk.

Kursi tua berderit.

Laras teringat kursi yang dipaku ke lantai.

Itu kursinya.

Marni berkata,

“Maaf.”

Laki-laki itu tidak menjawab.

“Jangan marah.”

“Saya enggak marah.”

“Terus?”

“Saya capek.”

Marni menangis lagi.

“Kalau pergi, mau ke mana?”

“Cari ibu saya.”

Laras membeku.

Damar langsung melihatnya.

Ibunya.

Ada foto perempuan tua dalam dompet dari tas Gambir.

Ma, saya pulang kalau sudah dapat kerja.

Lihat selengkapnya