Beberapa orang pernah mencoba pulang.
Emam surat
Marni tidak menyerahkan surat-surat Jaka dengan mudah.
Pagi setelah mereka mendengar kaset dari dapur, Laras datang sendirian.
Damar menunggu di warung seberang.
Marni duduk di ruang makan. Kursi tua tetap berada di tempatnya.
Tidak ada yang membicarakan ulekan kayu di lemari.
Tidak ada yang membicarakan pengakuan kemarin.
Laras hanya berkata,
“Saya mau pinjam surat Jaka.”
Marni menatapnya.
“Buat apa?”
“Lihat cap pos.”
“Kenapa?”
“Karena Ibu bilang Yani taruh semuanya di depan rumah setelah kejadian.”
“Iya.”
“Enam surat sekaligus?”
Marni terdiam.
Laras melanjutkan,
“Kalau Jaka kirim selama bertahun-tahun, surat-surat itu sebelumnya ada di mana?”
Marni melihat ke arah gudang.
“Saya enggak tahu.”
“Bu Rukmini?”
Tidak ada jawaban.
Laras tidak memaksa.
Beberapa menit kemudian Marni mengambil enam amplop dari kotak.
“Jangan hilang.”
“Enggak.”
“Jangan ditulis.”
“Enggak.”
“Jangan kasih polisi.”
Laras menatapnya.
“Belum.”
Marni tidak suka jawaban itu, tetapi tetap menyerahkan surat.
Di Seno Audio, Damar sudah menunggu.
Pak Seno belum datang.
Mereka menyusun keenam amplop berdasarkan tanggal.
Surat pertama:
17 Oktober 1979.
Surat kedua:
4 Januari 1980.
Kemudian Maret.
Juni.
September.
Terakhir:
2 Februari 1981.
Semua dari Jaka.
Semua ditujukan kepada:
Marni Sulastri, Setiabudi, Jakarta.
Namun ada sesuatu yang aneh.
“Ini bukan alamat rumah Marni,” kata Damar.
Laras melihat baris kedua.
Di bawah nama Marni tercetak alamat:
c/o SUARA PULANG
Alamat kantor lama Rukmini.
“Kenapa surat anaknya dikirim ke Suara Pulang?”
Damar membalik amplop.
“Bisa karena Marni pindah?”
“Enggak.”
“Alamat rumah susah?”
“Enggak juga.”
Laras membuka surat pertama.
Tulisan Jaka sederhana.
Ia bekerja serabutan di Surabaya.
Kondisinya baik.
Belum punya cukup uang untuk pulang.
Ia meminta ibunya tidak khawatir.
Surat kedua hampir sama.
Tapi satu bagian membuat Laras berhenti.
Damar mendekat.
“Berarti dia sudah kirim sebelum ini.”
Laras mengangguk.
Enam surat yang disimpan Marni bukan seluruhnya.
Surat ketiga:
Laras membaca ulang.
“Rukmini yang kasih alamat.”
“Kelihatannya.”
Surat keempat lebih panjang.
Jaka mulai punya pekerjaan tetap.
Ia bertanya kenapa ibunya tidak pernah membalas.
Kemudian:
Damar langsung mengambil surat itu.
“Rukmini komunikasi sama Jaka.”
“Iya.”
“Dan ke Jaka dia bilang Marni sakit.”
Laras membuka surat kelima.
Tulisan Jaka lebih gelisah.
Di bawahnya:
Laras meletakkan kertas.
Damar mengumpat pelan.
Bukan Jaka yang berhenti pulang.
Seseorang terus memberitahunya bahwa ibunya tidak ingin ia pulang.
Surat keenam, Februari 1981.
Tulisan Jaka berbeda.
Lebih tegas.
Laras membaca lebih lambat.
Damar melihat tanggal.
“Februari.”
Laras mengangguk.
Satu bulan kemudian adalah Maret 1981.
Saat Laras kecil dibawa Herman ke Jalan Sawo.
Saat laki-laki pengganti sedang menjalani latihan.
Saat Rukmini sudah memiliki seorang Jaka lain di rumah Marni.
Jaka asli sedang berencana pulang.
“Tapi dia enggak pulang,” kata Damar.
“Setidaknya menurut Marni.”
“Mungkin ada surat sesudah ini.”
Laras melihat enam amplop.
“Yani cuma berhasil ambil enam.”
Mereka belum tahu berapa banyak yang tidak pernah berhasil ia selamatkan.
Pak Seno datang membawa koran.
Begitu melihat meja penuh surat, ia meletakkan koran kembali.
“Saya enggak mau tanya.”
“Bagus,” kata Laras. “Bapak punya buku pesanan surat?”
Pak Seno menatapnya.
“Sekarang saya mau tanya.”
Jawabannya ternyata ada di kamar belakang.
Bukan di antara kaset.
Di dalam sebuah map tipis di laci arsip K.
Labelnya:
SURAT — CONTOH
Sebagian hanya latihan.
Salinan kalimat pelanggan.
Cara membuka surat.
Panggilan keluarga.
Damar membalik beberapa lembar.
Kemudian berhenti.
“Ras.”
Satu lembar karbon hampir tidak terbaca.
Di atasnya tertulis:
K-03 — JAKA
Nama Marni tidak ada.
Tetapi isi surat ditulis seolah-olah oleh seorang ibu.
Laras merasa perutnya mengeras.
Ia melanjutkan.
Di bawahnya:
Tidak ada tanda tangan.
Damar melihat kartu Marni.
“Ini dikirim?”
“Cari catatannya.”
Mereka membongkar laci.