Seseorang membuat kehilangan tetap hidup.
surat kembali
Laras datang ke Seno Audio dengan satu kalimat di kepalanya.
Berapa banyak dari mereka yang sebenarnya pernah mencoba pulang?
Ia menuliskannya di papan kecil dekat meja servis.
Damar yang baru membuka toko membaca.
“Mulai pagi sudah bikin suasana bagus.”
“Kita cek semua nama.”
“Tiga belas?”
“Iya.”
Pak Seno muncul dari belakang.
“Tokonya buka juga, ya.”
“Buka.”
“Kalau ada pelanggan?”
“Dilayani.”
Pak Seno melihat meja yang sudah dipenuhi kartu indeks.
“Saya mulai enggak percaya.”
Mereka mengambil tiga belas nama dari Pita Hitam.
Jaka.
Anton.
Rahman.
Seno.
Bambang.
Hadi.
Rudi.
Yusuf.
Daniel.
Wawan.
Darsono.
Imam.
Marwan.
Lalu mencocokkannya dengan arsip Suara Pulang.
Jaka paling jelas.
Surat asli ditahan.
Balasan palsu dikirim.
Kepulangannya dicegah.
Anton lebih sulit.
Kartu keluarganya berisi catatan:
KONTAK TIDAK LANGSUNG
keluarga di luar Jakarta
jangan lakukan kunjungan
Di bagian bawah:
surat masuk 4
Damar menunjuk.
“Surat masuk.”
“Mungkin dari Anton.”
Mereka mencari di map surat.
Tidak ada.
Pak Seno berkata,
“Kalau barang Yani masih nyampur, bisa di gudang.”
Namun Laras menemukan petunjuk lain.
Nomor arsip:
R-2
“R apa?”
Damar membuka laci.
“Return?”
Pak Seno mengangkat bahu.
“Roti.”
Laras mengabaikannya.
Di kamar belakang ada satu kotak yang selama ini tertutup deretan kaset SP.
Labelnya hampir lepas.
R — KEMBALI
Damar menarik kotak.
Berisi amplop.
Puluhan.
Sebagian sudah terbuka.
Sebagian masih tersegel.
Laras mengambil yang paling atas.
Nama penerima tidak dikenal.
Stempel:
KEMBALI KE PENGIRIM.
Amplop kedua sama.
Ketiga.
Kemudian Damar berhenti.
“Anton.”
Alamat tujuan:
keluarga Latuheru.
Pengirim:
ANTON LATUHERU.
Laras merasa dadanya menegang.
Cap pos Ambon.
Tanggal 1980.
“Dia masih hidup.”
“Setidaknya saat ini dikirim.”
Mereka membuka amplop karena segelnya sudah pernah dibuka.
Isi surat singkat.
Anton menulis bahwa ia pindah kerja.
Ia minta maaf lama tidak memberi kabar.
Ia berniat pulang setelah kontraknya selesai.
Kalimat terakhir:
Laras terdiam.
Elisabeth pernah berkata keluarga tidak pernah mendengar kabar langsung dari Anton setelah ia hilang.
Ternyata Anton menulis.
Suratnya hanya tidak pernah sampai.
Damar membalik amplop.
“Kenapa kembali ke Suara Pulang?”
Alamat pengirim bukan rumah Anton.
Di sudut belakang tertulis:
c/o Suara Pulang — Jakarta
Pola yang sama seperti Jaka.
“Rukmini jadi alamat perantara.”
“Jadi semua surat lewat dia.”
Laras mencari kartu Anton.
Ada catatan kecil:
keluarga belum siap menerima kontak langsung
Di bawahnya:
surat jangan teruskan. gunakan rekaman.
Damar menatapnya.
“Dia tahan surat, terus kirim kaset palsu?”
“Iya.”
“Padahal Anton asli masih nulis.”
“Iya.”
Pak Seno yang sejak tadi diam mengambil rokok.
Kemudian ingat mereka berada di kamar penuh pita dan memasukkannya kembali.
“Buat apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Mereka lanjut.
Hadi.
Dua surat.
Salah satunya ditujukan kepada adiknya.
Hadi bekerja di proyek luar kota.
Ia menulis:
Kartu Suara Pulang mencatat:
keluarga diberi tahu Hadi tidak ingin ditemukan.
Padahal dalam surat lain Hadi menulis:
Surat itu juga tidak pernah diteruskan.
Wawan.
Satu kartu pos.
Darsono.
Tiga surat.
Imam.
Tidak ada surat.
Tapi terdapat catatan telepon.
menelepon 2 kali
jangan sambungkan langsung
Damar membaca dua kali.
“Maksudnya?”
Laras mencari lembar lain.
Ada formulir pesan telepon.
Nama penelepon:
Imam.
Pesan:
Saya sehat. Tolong bilang ibu jangan khawatir. Saya akan pulang setelah Lebaran.
Status:
TIDAK DITERUSKAN.
Di bawahnya tulisan Rukmini:
ibu sudah stabil dengan kaset. kontak langsung berisiko.
Pak Seno mengumpat.
Laras tidak mengatakan apa-apa.
Stabil.
Seolah seorang ibu adalah pasien.
Seolah kebenaran bisa mengganggu pengobatan.
Padahal yang dimaksud stabil mungkin hanya:
ia sudah percaya suara pengganti.
Damar memegang formulir itu.
“Jadi Imam telepon langsung.”
“Iya.”
“Dan mereka enggak sambungkan.”
“Iya.”
“Terus bikin kaset seseorang yang pura-pura jadi Imam.”
Laras mengangguk.
Pada titik itu, pertanyaan buat apa tidak lagi punya jawaban sederhana.
Uang tidak cukup.
Bisnis tidak cukup.
Bahkan menutupi penipuan tidak cukup.
Karena pada beberapa kasus, kebohongan bisa dihentikan dengan mudah.
Tinggal teruskan surat.
Sambungkan telepon.
Biarkan orang pulang.