Daftar itu ternyata bukan milik lelaki dalam pita.
Tiga belas nama
Laras menempel tiga belas lembar kertas di dinding belakang Seno Audio.
Satu nama satu lembar.
Jaka.
Anton.
Rahman.
Seno.
Bambang.
Hadi.
Rudi.
Yusuf.
Daniel.
Wawan.
Darsono.
Imam.
Marwan.
Di bawah setiap nama ia menuliskan apa yang mereka tahu.
Surat.
Telepon.
Keluarga.
Kunjungan.
Rekaman.
Damar berdiri dengan tangan terlipat.
“Kalau Pak Seno lihat dindingnya ditempeli begini, kamu yang bersihin.”
Pak Seno muncul dari depan.
“Saya sudah lihat.”
Laras tetap menulis.
“Terus?”
“Kelihatannya jelek.”
“Bukan itu maksud saya.”
“Saya tahu.”
Pak Seno mendekat ke daftar.
“Yang mana sudah terbukti masih hidup waktu Suara Pulang mulai pakai namanya?”
Laras menunjuk.
“Jaka.”
“Anton.”
“Hadi.”
“Imam.”
“Rahman.”
“Lima.”
Damar menambahkan,
“Darsono mungkin juga.”
“Kenapa?”
“Ada surat terakhir setelah kaset pertamanya.”
Laras mengambil arsip.
Benar.
Darsono mengirim surat tiga minggu setelah keluarga menerima rekaman yang mengaku berasal darinya.
Enam.
“Berarti setidaknya enam orang belum hilang,” kata Pak Seno.
“Bukan hilang total,” Laras membetulkan.
“Buat keluarga mereka hilang.”
Pak Seno mengangguk.
“Yang tujuh lagi?”
“Belum tahu.”
Damar memandang semua nama.
“Kalau pola Rukmini sama, kemungkinan enggak semua benar-benar hilang.”
Laras mencoret tulisan lama:
ORANG HILANG
Lalu menggantinya:
TARGET PENGGANTIAN
Pak Seno mengerutkan kening.
“Target?”
“Nama-nama ini dipilih.”
“Bukan kebetulan?”
“Enggak mungkin.”
Laras mengambil kartu pengirim lama Suara Pulang.
Di tiap formulir ada detail yang sama.
Hubungan keluarga.
Panggilan.
Kebiasaan.
Berapa sering bertemu.
Terakhir melihat langsung.
Apakah ada foto terbaru.
Apakah orang tersebut memiliki tanda tubuh khusus.
Damar mengambil formulir lain.
“Ini.”
Kolom kecil di bawah:
kemungkinan dikenali langsung
Pilihan:
tinggi
sedang
rendah
Laras menatapnya.
“Kita belum pernah perhatikan.”
“Karena kita nyari nama.”
Damar membuka kartu Jaka.
Kemungkinan dikenali langsung: rendah.
Anton:
sedang.
Hadi:
tinggi — kunjungan tidak disarankan.
Rahman:
tinggi.
Di bawah Rahman:
H.A. pernah bertemu langsung. jangan gunakan kontak fisik.
Laras mengangguk.
“Jadi mereka menilai risiko.”
Pak Seno berkata,
“Kalau keluarga cuma kenal lewat surat dan telepon, paling gampang.”
“Iya.”
“Kalau sering ketemu, jangan kirim orang.”
“Cukup suara.”
Damar mengambil kartu Darsono.
“Yang ini kenapa dipilih?”
Laras membaca.
Darsono bekerja berpindah-pindah.
Sudah lebih dari dua tahun tidak pulang.
Ibunya mulai kehilangan pendengaran.
Tidak ada foto baru.
“Rendah.”
Damar menunjuk.
“Rukmini bukan nyari orang hilang.”
Laras mengangguk.
“Dia nyari keluarga yang bisa diyakinkan.”
Kalimat itu membuat semuanya terasa lebih dingin.
Bukan nasib yang menentukan tiga belas nama.
Ada kriteria.
Ada seleksi.
Seseorang duduk di meja dan memutuskan keluarga mana yang cukup kesepian, cukup jauh, cukup tidak yakin untuk menerima orang lain.
Laras mengambil satu lembar kosong.
Di atasnya ia menulis:
KENAPA CUMA 13?
Pak Seno berkata,
“Mungkin cuma tiga belas yang berhasil.”
Damar mengangguk.
“Yang lain gagal.”
Laras langsung teringat buku penghuni.
Budi Santoso — menolak sesi kedua.
Farida — tidak cocok suara pria.
Agus Pranoto — keluarga datang langsung.
Nama-nama yang tidak masuk Pita Hitam.
Mereka bukan bagian dari hasil akhir.
“Tiga belas bukan jumlah orang yang dicoba,” kata Laras.
“Jumlah yang lolos.”
Damar melihat kaset XIII.
HASIL.
Nomor itu akhirnya semakin masuk akal.
Tiga belas nama di dalamnya mungkin bukan alasan kaset diberi XIII.
Sebaliknya—
kaset XIII adalah tahap terakhir yang berisi semua identitas yang dinilai berhasil.
Laras mengambil kaset hitam itu.
“Ini laporan.”
“Laporan apa?”
“Bukan latihan.”
Ia melihat goresan XIII.
“Hasil.”
Pak Seno berkata,
“Kalau hasil, untuk siapa?”
Tidak ada yang menjawab.
Mereka selama ini mengira rekaman dibuat untuk keluarga.
Padahal keluarga menerima kaset terpisah.
Pita Hitam tidak pernah ditujukan kepada mereka.
Tiga belas nama dikumpulkan dalam satu kaset untuk seseorang yang berada di dalam sistem.
Rukmini.
Yani.
Atau orang lain.
Damar berkata,
“Putar bagian awal lagi.”
Laras memasukkan Pita Hitam.
Suara laki-laki.
“Nama saya Jaka.”
“Nama saya Anton.”
“Nama saya Rahman.”
Satu demi satu.
Tiga belas nama.
Rukmini:
“Jangan berhenti.”
“Ulang dari awal.”
“Tidak perlu berpikir.”
“Jawab ketika dipanggil.”
Laras menghentikan.
Dulu kalimat itu terdengar seperti latihan membuat seseorang melupakan identitas.
Sekarang ia mendengarnya berbeda.
“Ini tes.”
Damar mengangguk.
“Tes akhir.”
Pak Seno berkata,
“Dia dipanggil tiga belas nama dan harus jawab semua.”
“Bukan buat bikin lupa nama aslinya lagi.”
“Buat memastikan semua peran masih bisa dipakai.”
Laras menatap daftar di dinding.
Tiga belas nama bukan identitas yang dimiliki laki-laki itu.
Itu persediaan.
Tiga belas orang yang bisa ia jadikan kapan pun dibutuhkan.
Dan orang yang berada di depan mikrofon—
hanya wadahnya.
Mereka memeriksa kaset XIII yang ditemukan di kamar belakang.
Bukan Pita Hitam dari tape recorder Jalan Sawo.
Kaset lain dengan nomor yang sama.
Damar sudah lama ingin memutarnya.
Hari itu Laras setuju.
Kaset dimasukkan.
Desis.
Suara Yani.
“Tanggal tujuh Oktober.”
Laras langsung mengambil buku.
1981 tidak disebut, tetapi mereka menganggap demikian dari urutan arsip.
Yani melanjutkan:
“Uji akhir.”
Kemudian suara laki-laki Pita Hitam.