PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #25

Ingatan Laras

Yang terasa paling pribadi belum tentu milik kita.

Foto yang tidak pernah ada

Setelah tiga belas nama dicabut dari dinding Seno Audio, Laras justru merasa kepalanya lebih penuh.

Sekarang hanya ada satu kertas.

LAKI-LAKI DALAM PITA

Nama asli: ?

Damar sedang memperbaiki amplifier ketika Laras tiba-tiba berkata,

“Aku ingat wajahnya.”

Damar berhenti menyolder.

“Siapa?”

“Laki-laki itu.”

Ia mengangkat kepala.

“Dari mana?”

“Waktu kecil.”

Damar mematikan solder.

“Yakin?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Laras kesal.

“Kenapa?”

“Karena sebulan terakhir kamu sendiri yang ngajarin saya jangan percaya ingatan.”

“Aku ada di kamar enam.”

“Iya.”

“Aku bicara sama dia.”

“Iya.”

“Berarti aku lihat mukanya.”

“Itu beda dengan masih ingat mukanya sekarang.”

Laras diam.

Dalam kepalanya ada wajah.

Laki-laki kurus.

Rambut pendek.

Mata cekung.

Bekas luka dekat telinga kiri.

Wajah itu terasa jelas.

Terlalu jelas.

“Aku bisa gambar.”

Damar memberinya kertas.

Laras mulai.

Dahi.

Mata.

Hidung.

Rahang.

Bekas luka.

Ketika selesai, Damar mengambil foto kelompok dari Foto Lestari.

Ia meletakkannya di sebelah gambar.

Laras langsung tahu masalahnya.

Wajah yang ia gambar hampir sama dengan lelaki di pantulan cermin.

“Ya memang dia,” kata Laras.

Damar tidak menjawab.

“Apa?”

“Kamu lihat foto ini berapa kali?”

“Enggak tahu.”

“Puluhan.”

“Terus?”

“Bekas luka di telinga kamu tahu dari catatan ayahmu.”

Laras melihat gambarnya.

“Bentuk rahang?”

“Foto.”

“Mata?”

“Foto.”

“Rambut?”

“Foto.”

Laras mulai kesal.

“Jadi menurutmu aku enggak ingat apa-apa?”

“Saya enggak bilang begitu.”

“Terus?”

Damar menunjuk gambar.

“Saya bilang kita enggak tahu mana yang kamu ingat dari umur enam tahun dan mana yang masuk belakangan.”

Laras ingin membantah.

Tidak jadi.

Ia teringat sesuatu.

Koran 1981.

Wajah korban.

Dulu ia merasa pernah melihat ayahnya membaca berita itu di rumah.

Begitu jelas.

Herman duduk di meja.

Koran terbuka.

Asbak.

Kopi.

Padahal kemudian Laras sendiri tidak yakin keluarga mereka berlangganan koran itu.

“Mar.”

“Ya?”

“Aku mau pulang sebentar.”

Ratna sedang memotong sayur ketika Laras datang.

“Ibu pernah punya foto korban kasus kardus?”

Pisau berhenti.

“Apa?”

“Foto dari koran.”

“Enggak.”

“Ayah pernah tempel?”

“Enggak tahu.”

“Aku ingat Ayah baca korannya.”

Ratna kembali memotong.

“Mungkin.”

“Di meja makan.”

“Ya bisa.”

“Ada kopi.”

“Herman minum kopi tiap hari.”

“Asbak sebelah kanan.”

“Dia merokok.”

Laras menatap ibunya.

Semua detail itu benar.

Tapi semuanya juga detail biasa.

Hal-hal yang bisa disusun oleh kepalanya sendiri.

“Ibu pernah ceritain ke aku tentang kasus itu waktu kecil?”

Ratna berpikir.

“Tidak waktu kamu kecil.”

“Setelahnya?”

“Mungkin.”

“Kapan?”

“Setelah kamu mulai nanya Rahman.”

Laras menegang.

“Umur berapa?”

“Sekitar sebelas atau dua belas.”

Bukan enam.

Bukan 1981.

Ratna meletakkan pisau.

“Kamu kenapa?”

“Aku punya ingatan Ayah baca berita penemuan mayat.”

Ratna menatapnya.

“Bukannya aneh?”

“Kenapa?”

“Kamu waktu itu bahkan belum lancar baca.”

“Bukan baca. Aku lihat.”

Ratna menggeleng.

“Hari berita itu keluar, kamu enggak di rumah.”

Laras berhenti.

“Di mana?”

“Rumah Tante Rina.”

“Yakin?”

“Karena Ibu dan Ayah bertengkar.”

“Masalah kasus?”

“Masalah Rahman.”

Ratna mengusap tangannya.

“Herman sudah mulai curiga sebelum mayat ditemukan. Begitu berita keluar, dia makin kacau. Ibu titipkan kamu dua malam.”

Laras tidak bergerak.

Berarti kenangan ayah membaca koran di depan Laras—

tidak mungkin terjadi pada hari yang selama ini ia bayangkan.

“Mungkin hari lain.”

“Mungkin.”

Ratna tidak memaksakan kesimpulan.

Justru itu yang membuat Laras semakin tidak nyaman.

Ia duduk.

“Bu, aku ingat Jalan Sawo sebelum datang lagi sama Damar.”

“Karena kamu pernah ke sana.”

“Aku ingat pintu hijau.”

“Dulu warnanya cokelat.”

Laras menatap ibunya.

“Apa?”

“Pintunya dulu cokelat tua.”

Laras merasa dingin.

“Enggak.”

Ratna mengernyit.

“Ibu pernah ke sana.”

“Pintunya hijau.”

“Sekarang mungkin.”

“Enam anak tangga?”

“Itu ada.”

“Gagang kuningan?”

Ratna berpikir.

“Enggak ingat.”

Laras melihat tangannya.

Sebelum kembali ke Jalan Sawo, ia merasa sudah tahu rumah itu.

Pintu hijau.

Gagang kuningan.

Enam langkah.

Ternyata sebagian benar.

Sebagian mungkin berasal dari rumah sekarang, bukan rumah yang pernah ia lihat pada 1981.

“Kaset,” katanya.

Ratna mengernyit.

“Apa?”

“Di undertrack aku kecil menghitung empat, lima, enam.”

Enam anak tangga datang dari rekaman.

Pintu hijau mungkin ia lihat ketika pertama kali mengintip rumah sebelum masuk tanpa sadar menyimpannya sebagai kenangan lama.

Atau pernah disebut orang lain.

Atau hanya kebetulan.

Ingatan yang terasa utuh ternyata tersusun dari tahun berbeda.

Seperti pita yang disambung.

Laras hampir tertawa.

Damar akan senang dengan perumpamaan itu.

Ratna duduk di hadapannya.

“Ada satu barang yang mungkin perlu kamu lihat.”

“Apa?”

Ibunya pergi ke kamar.

Kembali membawa buku kecil bersampul biru.

Buku catatan rumah tangga lama.

Tahun 1981.

Ratna membuka halaman Maret.

Tulisan tangan pendek.

3 Maret — Herman bawa Laras.

4 Maret — panas. menangis malam.

5 Maret — masih bilang Rahman.

6 Maret — tidak mau jawab Laras.

8 Maret — mulai normal.

Di halaman berikutnya:

Herman suruh jangan koreksi kalau dia salah nama. jangan sebut Rahman.

Laras membaca.

“Kenapa Ayah bilang begitu?”

“Dia bilang semakin dilawan, kamu semakin ulang.”

Masuk akal.

Bukan hipnosis.

Bukan nama yang mengambil alih dirinya.

Anak enam tahun baru mengalami malam membingungkan.

Mendengar orang dewasa mengulang nama Rahman.

Melihat seorang laki-laki menjawab Rahman.

Lalu orang-orang panik setiap kali ia menyebut kata itu.

Tentu kata tersebut menempel.

Laras membuka halaman berikutnya.

Ada satu catatan yang membuatnya berhenti.

Lihat selengkapnya