Kasus itu tidak mengambil nyawanya, hanya hidupnya.
Orang yang hidup setelah mati
Kertas Yani diletakkan di bawah kaca meja Seno Audio.
3 November 1982.
Pak Herman, saya menemukan dia.
Dia hidup.
Laras sudah membacanya belasan kali.
Tetap tidak masuk akal.
Damar berdiri di dekat jendela sambil memegang kaset dari dapur Marni.
“Kalau Yani benar, ada dua kemungkinan.”
“Apa?”
“Yang mati di dapur bukan laki-laki Pita Hitam.”
“Atau?”
“Yani salah lihat.”
Laras menatapnya.
“Yani kerja sama orang itu berbulan-bulan.”
“Orang dekat juga bisa salah.”
“Dia bukan lihat foto. Dia bilang lihat dengan mata sendiri.”
“Belum tentu dekat.”
Pak Seno menyela dari depan.
“Kalian lupa satu kemungkinan.”
Mereka menoleh.
“Apa?”
“Yani bohong.”
Laras menggeleng.
“Buat apa bohong ke Ayah?”
“Buat bikin Herman cari lagi.”
“Yani justru mau bongkar semuanya.”
Pak Seno mengangkat bahu.
“Orang yang niatnya baik tetap bisa bohong.”
Laras kembali membaca surat.
Ada bagian lain yang belum mereka perhatikan:
Jangan percaya bunyi dari dapur sebelum Bapak lihat pitanya.
“Yani tahu kaset dapur diedit.”
Damar mengangguk.
“Atau curiga.”
“Tapi kaset Marni yang kita dengar kelihatannya utuh.”
“Kelihatannya.”
Damar mengambil kaset bening itu.
“Belum pernah kita buka cangkangnya.”
Laras langsung melihatnya.
“Buka.”
Mereka memindahkannya ke meja servis.
Empat baut kecil dilepas.
Cangkang terbuka.
Damar menarik pita beberapa sentimeter dengan pinset.
“Ini.”
Ada sambungan.
Lalu sambungan lain.
Ia terus memeriksa.
Laras menghitung.
“Satu.”
“Dua.”
“Tiga.”
Empat.
Lima.
Kaset yang mereka kira rekaman rumah utuh ternyata telah dipotong setidaknya lima kali.
Pak Seno mendekat.
“Potongan lama?”
“Lemnya tua.”
“Yani?”
“Bisa.”
“Rukmini?”
“Bisa.”
Laras merasa kesal.
“Kenapa baru sekarang kita buka?”
Damar menatapnya.
“Karena kita dengar apa yang mau kita dengar.”
Kalimat itu menyakitkan karena benar.
Mereka sudah punya Marni.
Sudah punya benda pemukul.
Sudah punya pengakuan.
Jadi mereka berhenti memeriksa media yang membawa pengakuan itu.
Damar memasang kembali kaset.
“Cari posisi splice.”
Mereka memutar sambil menandai waktu.
Sambungan pertama berada sebelum pertengkaran.
Tidak penting.
Kedua setelah benturan meja pertama.
Ketiga—
tepat sebelum Herman datang.
Keempat setelah Herman pergi mencari kendaraan.
Kelima berada beberapa detik sebelum Rukmini berkata:
“Tidak.”
Laras langsung berdiri.
“Itu bagian kematiannya.”
Damar mengangguk.
Mereka memutar.
Marni:
“Masih hidup?”
Desis tipis.
Sambungan.
Rukmini:
“Tidak.”
Laras memejamkan mata.
Selama ini terdengar sebagai satu percakapan.
Padahal secara fisik—
bukan.
Ada bagian yang dibuang di antara pertanyaan dan jawaban.
“Berapa panjang yang hilang?”
“Enggak bisa tahu.”
“Bisa satu detik?”
“Bisa satu menit.”
“Bisa jawaban ‘iya’?”
“Bisa.”
Pak Seno bersandar.
“Jadi orang itu mungkin enggak mati di dapur.”
Laras tidak menjawab.
Bunyi pukulan tetap nyata.
Marni tetap memukul.
Orang itu tetap jatuh.
Tetapi kalimat yang memastikan kematian—
telah disambung.
Teori mereka benar.
Marni melakukan sesuatu.
Maknanya mungkin salah.
Damar berkata,
“Kita perlu cari versi sebelum kaset diedit.”
“Kalau ada.”
Laras melihat tulisan Yani.
sebelum Bapak lihat pitanya.
“Yani tahu pita asli.”
“Berarti mungkin dia punya salinan.”
Pak Seno menghela napas.
“Jangan bilang kita bongkar gudang lagi.”
Laras sudah berdiri.
Mereka tidak menemukan kaset lain.
Tapi di dalam kardus Yani ada sesuatu yang sebelumnya mereka abaikan.
Satu amplop foto.
Di depannya tertulis:
1982 — Salemba
Laras membukanya.
Tiga foto hitam-putih.
Diambil dari jauh.
Seorang laki-laki keluar dari sebuah rumah.
Rambut pendek.
Tubuh sedang.
Kemeja gelap.
Wajah tidak terlihat jelas.
Namun bentuknya cukup mirip lelaki dari Foto Lestari.
Damar mengambil kaca pembesar.
“Ini yang Yani lihat.”
Foto kedua lebih dekat.
Laki-laki itu berdiri di dekat becak.
Sisi kiri wajah terlihat.
Ada bekas luka dekat telinga.
Laras merasakan jantungnya bertambah cepat.
“Dia.”
Damar tidak menjawab.
Foto ketiga.
Laki-laki itu menoleh.
Wajahnya buram karena bergerak.
Di belakang foto, Yani menulis:
Saya lihat sendiri. Rukmini ada di seberang jalan.
Tanggal:
1 November 1982.
Dua hari sebelum surat kepada Herman.
Pak Seno berkata,
“Kalau ini orangnya, ya selesai.”
Laras tidak yakin.
Ia sudah terlalu sering mendengar kata itu.
Ia mengambil foto kelompok Foto Lestari.
Pria di cermin.
Bekas luka telinga.
Tubuh hampir sama.
Lalu foto Anton dan Jaka.
Mereka pernah salah mengira beberapa orang adalah satu.
“Cari yang enggak berubah.”
Damar mengangguk.
“Tangan.”
Mereka memperbesar foto Salemba.
Tangan kiri laki-laki itu terlihat saat memegang pintu becak.
Jari kelingkingnya—
bengkok.
Laras membeku.
Pria di foto kelompok yang mereka duga sebagai laki-laki Pita Hitam memiliki ciri telinga.
Anton dan Jaka memiliki kelingking bengkok.
Korban dua kardus menurut berita justru tidak.
Dan laki-laki di Salemba memiliki keduanya.
Bekas luka telinga.
Kelingking bengkok.
Damar berkata,
“Bisa orang yang memang punya dua ciri.”
“Bisa.”
“Bisa juga salah satu laki-laki lain dari Foto Lestari.”
Laras melihat foto itu lagi.
Yani mungkin melihat seseorang yang sangat mirip.
Seseorang yang sengaja dibuat mirip.
Dan karena ia begitu ingin menemukan laki-laki yang hilang—
ia melakukan hal yang sama seperti Marni.
Mengisi bagian yang tidak jelas dengan jawaban yang ia butuhkan.
“Yani juga bisa salah,” kata Laras.
Pak Seno menatapnya.
“Kamu baru percaya?”
“Bukan percaya.”
Ia menyimpan foto.
“Kita cari Salemba.”
Alamat rumah pada foto masih bisa dikenali dari nomor di pagar.
Mereka datang sore hari.
Rumahnya kini ditempati keluarga lain, tetapi pemilik lama masih tinggal di rumah sebelah.
Namanya Pak Idris.
Ia pensiunan pegawai percetakan.
Ketika Laras menunjukkan foto, Idris langsung mengenali rumahnya.
“Ini depan rumah saya.”
“Bapak kenal laki-lakinya?”
Idris memakai kacamata.
“Mirip orang yang dulu ngontrak kamar belakang.”
“Namanya?”
“Arman.”
Laras dan Damar saling pandang.
Bukan salah satu dari tiga belas nama.
“Nama lengkap?”
“Arman apa ya…”
Idris memanggil istrinya.
Bu Idris datang, melihat foto, lalu berkata,
“Arman Suryana.”
Laras mencatat.
“Dari mana?”
“Bandung katanya.”
“Mulai tinggal kapan?”
Idris berpikir.
“Delapan dua.”
“Bulan?”
“Sekitar Agustus.”
“Berapa lama?”
“Enggak sampai setahun.”
“Kerjanya?”
“Macam-macam.”
“Pernah kenal Rukmini?”
Idris tidak tahu nama itu.
Laras menunjukkan foto Rukmini.
Bu Idris langsung mengangguk.
“Ini sering datang.”
“Ke Arman?”
“Iya.”
“Hubungannya?”
“Katanya saudara.”
Damar bertanya,
“Arman kakinya sedikit diseret?”
Bu Idris menggeleng.
“Tidak.”