Ada satu orang yang tidak tercatat di antara semua pengganti.
Rumah sebelum ada
Alamat di buku kecil itu membawa Laras dan Damar ke sebuah desa di luar Semarang.
Mereka berangkat pagi menggunakan bus.
Pak Seno menolak ikut.
“Kalau toko tutup tiga hari, misterinya selesai karena kita bangkrut.”
Damar memasukkan tas ke rak atas.
“Bapak takut naik bus.”
“Saya takut ninggalin toko sama kalian.”
Laras membawa sedikit barang.
Foto perempuan tua dari dompet.
Salinan halaman buku.
Foto laki-laki dari Foto Lestari.
Foto Arman dari Salemba.
Dan catatan Herman.
Tidak membawa Pita Hitam.
Untuk pertama kalinya, ia ingin mencari seseorang tanpa membawa suara orang lain bersamanya.
Perjalanan terasa panjang.
Damar sebagian besar tidur.
Laras tidak.
Ia terus melihat alamat yang ditulis di buku:
Kalau dapat kerja tetap, kirim uang ke Ma.
Di bawahnya nama desa.
Tidak ada nama ibu.
Tidak ada nama pemilik buku.
Hanya alamat.
Ketika mereka tiba menjelang sore, desa itu jauh lebih kecil daripada yang Laras bayangkan.
Warung.
Masjid kecil.
Rumah-rumah sederhana.
Beberapa anak bermain di jalan.
Mereka bertanya kepada pemilik warung.
Alamat lama ternyata tidak menggunakan nomor rumah.
Hanya nama dusun dan RT.
“Cari siapa?” tanya pemilik warung.
Laras mengeluarkan foto perempuan tua.
“Kenal?”
Laki-laki itu mengambil foto.
Menatap cukup lama.
Kemudian memanggil istrinya.
“Bu.”
Perempuan dari belakang warung keluar.
Begitu melihat foto, ia langsung berkata,
“Bu Sumi.”
Laras merasa jantungnya bergerak lebih cepat.
“Masih ada?”
Keduanya saling pandang.
“Sudah meninggal.”
“Kapan?”
“Dua tahunan.”
Laras menahan kecewa.
“Rumahnya?”
Pemilik warung menunjuk jalan kecil.
“Masih ada. Sekarang ditempati keponakannya.”
Damar bertanya,
“Bu Sumi punya anak laki-laki?”
Perempuan pemilik warung mengangguk.
“Satu.”
Laras langsung menatapnya.
“Namanya?”
Perempuan itu membuka mulut.
Lalu berhenti.
“Aduh.”
Ia menoleh kepada suaminya.
“Siapa ya?”
Suaminya juga berpikir.
Laras merasa hampir lucu.
Mereka telah datang ratusan kilometer untuk mencari satu nama.
Dan orang pertama yang mengenal ibunya justru lupa.
“Panggilannya?” tanya Damar.
“Bukan nama umum.”
“Awalnya?”
“Kayaknya…”
Perempuan itu menggeleng.
“Sudah lama sekali enggak pulang.”
“Sejak kapan?”
“Masih muda.”
“Sekitar 1979?”
“Kurang lebih.”
Laras mengeluarkan foto pria di cermin.
“Ini?”
Pemilik warung melihat.
“Enggak yakin.”
Foto Arman.
“Ini?”
“Bukan.”
Jawabannya cepat.
Laras langsung memperhatikan.
“Kenapa yakin yang ini bukan?”
“Anaknya Bu Sumi hidungnya enggak begini.”
Damar dan Laras saling pandang.
Mereka akhirnya menemukan seseorang yang pernah mengenal wajah asli sebelum Rukmini mengubah penampilan.
“Kalau foto pertama?”
Perempuan itu memandang lebih lama.
“Mirip.”
“Mirip atau dia?”
“Kalau dari sini…”
Ia menunjuk mata.
“Mirip.”
“Telinga?”
“Dia memang ada luka.”
Damar langsung bertanya,
“Karena apa?”
“Jatuh waktu kecil.”
“Jari kiri bengkok?”
Perempuan itu tersenyum.
“Bukan bengkok.”
Laras berhenti.
“Apa?”
“Kelingkingnya enggak bisa lurus betul.”
“Karena luka?”
“Pernah kejepit pintu.”
Damar menatap Laras.
Bekas luka telinga.
Kelingking kiri.
Dua ciri itu ada sebelum Jakarta.
Bukan ciptaan Rukmini.
Bukan bagian kostum.
Laras merasa mereka akhirnya menyentuh sesuatu yang nyata.
“Rumah Bu Sumi di mana?”
Pemilik warung menunjuk lagi.
“Belok setelah pohon mangga besar.”
Mereka berjalan.
Rumah itu kecil.
Dindingnya sebagian papan.
Sebagian sudah diperbaiki semen.
Seorang perempuan sekitar empat puluhan sedang menyapu halaman.
Namanya Murni.
Keponakan Bu Sumi.
Laras menjelaskan mereka mencari anak laki-laki Bu Sumi yang pernah pergi ke Jakarta.
Murni tidak langsung mengizinkan masuk.
“Dari polisi?”
“Bukan.”
“Keluarga?”
“Bukan.”
“Terus?”
Laras berpikir sebentar.
“Bawa barang yang mungkin milik dia.”
Ia mengeluarkan foto Bu Sumi dari dompet.
Murni langsung berhenti menyapu.
“Itu foto Bude.”
“Ini ditemukan di Jakarta.”
Murni mengambilnya.
Matanya membaca tulisan belakang.
Ma, saya pulang kalau sudah dapat kerja.
Wajahnya berubah.
“Masuk.”
Rumah itu masih menyimpan beberapa barang Bu Sumi.
Foto keluarga.
Radio tua.
Kalender.
Lemari kayu.
Murni mengambil album dari bawah meja.
“Dia pergi karena mau kerja.”
“Anaknya Bu Sumi?”
“Iya.”
“Kapan terakhir pulang?”
“Kalau enggak salah tujuh sembilan.”
“Setelah itu?”
“Surat.”
“Berapa kali?”
“Awalnya beberapa.”
“Dari Jakarta?”
“Iya.”
“Suratnya masih ada?”
Murni menggeleng.
“Bude simpan. Setelah meninggal rumah sempat bocor. Banyak kertas rusak.”
Laras mencoba menahan frustrasi.
“Nama anaknya?”
Murni menatapnya aneh.
“Kenapa dari tadi tanya nama?”
“Karena kami belum tahu.”
“Kalau barangnya ada sama kalian?”
“Namanya dihapus.”
Murni terdiam.
Damar mengeluarkan buku kecil dari tas.
“Ini juga kemungkinan punya dia.”
Murni membuka.
Beberapa halaman.
Catatan kerja.
Alamat rumah.
Kalimat tentang mengirim uang.
Murni mengenali sesuatu.
“Ini tulisan dia.”
Laras langsung duduk lebih tegak.
“Yakin?”
“Dulu sering bantu saya bikin PR.”
Ia menunjuk angka tujuh.
“Dia bikin tujuh begini.”
Untuk pertama kalinya mereka memiliki hubungan langsung antara laki-laki Pita Hitam dan kehidupan sebelum Jakarta.
Laras bertanya lagi.
“Namanya siapa?”
Murni menatap mereka.
Kemudian menjawab.
Tape recorder di rumah sebelah mendadak menyala keras.
Musik dangdut menembus dinding.
Laras tidak mendengar.
“Apa?”
Murni mengulang.
Sebuah motor lewat tepat di depan rumah.
Damar berdiri.
“Maaf, Bu. Sekali lagi.”
Murni tertawa kecil.
“Kok jadi susah banget.”
Laras hampir ikut tertawa.
Kemudian Murni menyebut nama itu untuk ketiga kali.
Jelas.
Laras mendengarnya.
Damar juga.
Mereka saling pandang.
Akhirnya.
Nama asli laki-laki itu.
Laras membuka buku catatan.
Ujung pensil menyentuh kertas.
Lalu berhenti.
Ia teringat Herman.
Jangan di kertas.
Kalau mereka ambil rekaman ini, setidaknya namanya masih ada satu orang yang tahu.
Damar melihatnya.
“Kamu enggak tulis?”
Laras menggeleng.
“Belum.”
Murni tampak bingung.
“Kenapa?”
Laras menutup buku.
“Dulu ada orang yang sengaja menghapus nama itu.”
“Siapa?”
“Itu yang sedang kami cari tahu.”
Murni menatap foto Bu Sumi lagi.
“Dia masih hidup?”
Tidak ada jawaban mudah.
Laras berkata,
“Kami belum tahu pasti apa yang terjadi pada tubuhnya.”
Damar menoleh, tapi tidak membetulkan.
Karena itu memang persoalan terakhir yang belum mereka buktikan.
Murni melihat mereka satu per satu.
“Bude nunggu sampai meninggal.”