Seseorang tidak perlu membunuh untuk menciptakan kematian.
Orang yang membawa
Mereka mendatangi Rukmini sore setelah kembali dari Semarang.
Tidak menelepon.
Tidak membuat alasan.
Laras membawa foto lama dari desa.
Foto laki-laki itu sebelum Jakarta.
Di tepinya terlihat Sri Yani.
Rukmini membuka pintu rumah hijau dengan wajah yang sama tenangnya seperti pertemuan pertama mereka.
“Kalian lagi.”
Laras menyerahkan foto.
“Kenal?”
Rukmini tidak mengambilnya.
Matanya turun sebentar.
Cukup lama.
“Masuk.”
Damar menatap Laras.
Kali ini tidak ada teh.
Rukmini duduk di ruang tamu.
Laras meletakkan foto di meja.
“Yani sudah kenal dia sebelum kerja di Suara Pulang.”
Rukmini melihat foto itu.
“Ya.”
Jawabannya terlalu mudah.
“Yani yang bawa dia ke Jakarta?”
“Ya.”
“Untuk Ibu?”
“Awalnya tidak.”
Laras menunggu.
Rukmini bersandar.
“Yani masih kerja di Seno Audio waktu itu. Saya minta bantu cari orang untuk pekerjaan rekaman.”
“Orang seperti apa?”
“Suara bagus.”
“Bisa meniru?”
“Kalau bisa.”
“Tidak punya keluarga dekat?”
Rukmini menatap Laras.
“Itu bukan syarat awal.”
“Jadi kebetulan?”
“Banyak orang datang ke Jakarta tanpa keluarga.”
Damar berkata,
“Dan kalau mereka enggak punya siapa-siapa, lebih gampang dipakai.”
Rukmini tidak tersinggung.
“Lebih gampang diajak bekerja.”
“Beda kalimat, maksudnya sama.”
Laras menunjuk foto.
“Dia datang karena dijanjikan kerja apa?”
“Rekaman.”
“Dia tahu akan pura-pura jadi anak orang?”
“Tidak.”
“Yani tahu?”
Rukmini terdiam sebentar.
“Tidak semuanya.”
Laras mulai memahami rasa bersalah Yani.
Ia membawa seorang laki-laki dari desa ke Jakarta untuk pekerjaan.
Kemudian melihat pekerjaan itu berubah.
“Awalnya apa?”
Rukmini memandang jendela.
“Pembaca surat.”
“Surat suara?”
“Ya.”
“Dengan identitas palsu?”
“Tidak.”
Untuk pertama kalinya Rukmini memberi jawaban yang terdengar seperti ingin menjelaskan, bukan menghindar.
“Dulu ada orang yang tidak bisa membaca. Ada yang malu merekam suara sendiri. Ada keluarga yang ingin suratnya dibacakan lebih rapi.”
“Terus?”
“Dia bagus.”
“Bagus bagaimana?”
“Kalau diberi cerita, dia bisa membuatnya terdengar seperti miliknya.”
Damar tertawa pendek.
“Dan Ibu lihat peluang.”
Rukmini menatapnya.
“Saya lihat orang-orang merasa lebih tenang.”
“Karena dibohongi.”
“Belum waktu itu.”
Laras berkata,
“Kapan mulai bohong?”
Rukmini diam.
“Jaka?”
Tidak ada jawaban.
“Anton?”
Masih diam.
“Siapa yang pertama?”
Rukmini akhirnya berkata,
“Tidak penting.”
“Buat Ibu mungkin.”
“Buat kamu juga tidak.”
“Seorang manusia kehilangan nama karena itu.”
Rukmini memandang Laras.
“Dia kehilangan namanya jauh sebelum saya menghapusnya dari kartu.”
Kalimat itu membuat Laras marah.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan bikin seolah-olah dia memang kosong waktu datang.”
Rukmini terdiam.
Laras menunjuk foto.
“Dia punya ibu.”
“Punya rumah.”
“Punya nama.”
“Punya tulisan sendiri.”
“Dia datang cari kerja.”
“Bukan minta jadi orang lain.”
Rukmini menunduk sebentar.
Lalu berkata,
“Ya.”
Satu kata.
Tidak membela diri.
Justru itu yang membuat ruangan lebih sunyi.
Damar bertanya,
“Kenapa Yani tetap ikut?”
“Karena dia pikir kami membantu.”
“Terus kapan sadar?”
“Lebih cepat daripada saya.”
Laras hampir tertawa.
“Ibu sadar?”
Rukmini menatapnya.
“Saya sadar sejak awal bahwa ada kebohongan.”
“Bukan itu.”
“Terus?”
“Kapan Ibu sadar dia sudah tidak bisa berhenti?”
Rukmini tidak langsung menjawab.
“Ketika Marni memanggil Jaka dari ruangan lain.”
Laras menunggu.
“Dia sedang jadi Hadi hari itu.”
Damar mengernyit.
“Terus?”
“Dia tetap menoleh.”
Rukmini melipat tangannya.
“Saya seharusnya berhenti saat itu.”
“Tapi tidak.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
Rukmini melihat Laras.
“Karena hasilnya bekerja.”
Jawaban itu sederhana.
Tidak ada pembenaran indah.
Tidak ada alasan kemanusiaan.
Hanya itu.
Hasilnya bekerja.
Keluarga tenang.
Orang membayar.
Mereka kembali.
Laki-laki itu mampu menjalankan peran.
Dan Rukmini ingin melihat sejauh mana sistem tersebut bisa berjalan.
Laras berkata,
“Jadi dia percobaan.”
“Bukan.”
“Kalau manusia terus dipakai meski sudah rusak karena hasilnya menarik, namanya apa?”
Rukmini tidak menjawab.
Damar menunjuk foto Sri Yani.
“Yani mau keluarkan dia.”
“Ya.”
“Herman juga.”
“Ya.”
“Ibu cegah.”
Rukmini mengangguk kecil.
“Ya.”
Laras menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Rukmini tidak sedang menyembunyikan kesalahan.
Mungkin karena mereka sudah tahu terlalu banyak.
Atau karena setelah empat tahun, ia lelah menjaga bentuk cerita yang sama.
“Apa Yani yang mengambil kartu identitasnya?”
“Ya.”
“Ibu tahu?”
“Belakangan.”
“Kenapa kartu itu penting?”
“Karena dia mulai menggunakannya untuk mengingat.”
Laras mengernyit.
Rukmini menjelaskan.
“Dia membaca namanya sendiri berulang kali.”
“Memang harusnya begitu.”
“Lalu menolak sesi.”
“Memang harusnya begitu.”
“Marni panik.”
“Bukan urusannya.”
“Buat Marni, itu urusannya.”
Laras berdiri.
“Dan itu masalah Ibu sejak awal.”
Rukmini menatapnya.
“Semua orang punya alasan, lalu Ibu anggap alasan mereka lebih penting daripada orang yang ada di tengah.”
Rukmini tidak menjawab.
Laras menarik foto kembali.
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
“Siapa yang membawa dia keluar dari rumah Marni malam tanggal dua puluh dua?”
Wajah Rukmini berubah.
Hanya sedikit.
Tapi Laras melihat.
“Akhirnya,” kata Rukmini.
“Akhirnya apa?”
“Kamu sampai ke pertanyaan yang benar.”
Rukmini berdiri.
Ia masuk ke kamar belakang rumah.
Kembali membawa sebuah buku tipis.
Bukan arsip Suara Pulang yang pernah mereka lihat.
Buku catatan pribadi.
Ia membuka halaman November 1981.
“Dia meninggal di rumah Marni.”
Laras tidak menyela.
“Bukan karena benturan meja pertama.”
“Kami tahu.”
“Pukulan kedua?”
“Ya.”
“Dengan ulekan.”
Rukmini menutup buku sebentar.
“Marni tidak berniat membunuh.”
Laras langsung menjawab,
“Dia tetap membunuh.”
“Ya.”
Tidak ada perlawanan.
Rukmini melanjutkan,
“Saya masuk beberapa detik setelah dia jatuh.”
“Masih hidup?”
“Tidak.”
“Herman?”
“Sedang cari kendaraan.”
“Terus Ibu telepon seseorang.”
Rukmini mengangguk.
“Siapa?”
“Seseorang yang biasa membantu saya memindahkan barang.”
“Nama.”
“Sudah meninggal.”
Laras menahan kesal.
“Nama.”
Rukmini menatapnya.
“Surya.”
“Surya siapa?”
“Surya Widjaja.”
Damar mencatat.
“Kerja apa?”