Satu pita dapat menyelesaikan semuanya.
Mesin Ayah
Tape recorder milik Herman masih berada di lemari ruang tengah.
Ratna tidak pernah membuangnya.
Warnanya hitam kusam. Antenanya patah. Tombol play sudah keras. Kabel listrik digulung di belakang.
Laras meletakkannya di meja.
“Ini?”
Ratna mengangguk.
“Ayahmu pakai sampai beberapa bulan sebelum meninggal.”
“Terakhir rusak kapan?”
“Delapan tiga.”
Damar membalik mesin.
Tidak ada yang terlihat aneh.
“Pernah diservis?”
Ratna menggeleng.
“Herman bilang enggak usah.”
Damar membuka penutup baterai.
Kosong.
Lalu penutup kaset.
Kosong juga.
Laras menatapnya.
“Kalau kaset induknya disembunyikan di sini, terlalu gampang.”
“Makanya mungkin bukan di tempat kaset.”
Damar mulai membuka sekrup bagian belakang.
Ratna berdiri dengan tangan terlipat.
“Jangan sampai rusak.”
Damar menoleh.
“Bu, ini sudah rusak.”
“Rusak bukan berarti boleh dirusak lagi.”
Laras hampir tersenyum.
“Turunan.”
“Apa?”
“Enggak.”
Butuh sekitar lima belas menit sampai casing belakang terbuka.
Debu.
Kabel.
Motor kecil.
Papan rangkaian.
Tidak ada kaset.
Damar mengangkat satu bagian busa peredam.
“Ini pernah dibuka.”
“Kenapa?”
“Sekrupnya beda.”
Ia menunjuk dua sekrup.
Satu asli.
Satu lebih baru.
Laras mendekat.
Damar melepas dudukan speaker.
Di belakangnya terdapat ruang sempit.
Cukup untuk menyelipkan sesuatu.
Ada kain hitam.
Damar menarik perlahan.
Sebuah kaset.
Cangkangnya bening.
Tidak ada label depan.
Laras merasa jantungnya berubah cepat.
Ia membalik.
Tulisan tangan Herman.
ASLI
Hanya itu.
Ratna duduk.
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Damar memeriksa kaset di bawah lampu.
“Pita panjang.”
“Diputus?”
“Jangan tahu sebelum dibuka.”
“Buka.”
Empat baut dilepas.
Damar mengangkat cangkang.
Memeriksa pita dari awal sampai beberapa bagian.
Tidak ada splice.
Ia memutar reel manual.
“Sejauh ini utuh.”
Laras menatap kaset.
Selama berminggu-minggu mereka hidup dari potongan.
Rekaman yang disambung.
Suara yang dipindahkan.
Kaset yang digandakan.
Catatan orang yang ingatannya belum tentu benar.
Sekarang mereka punya satu pita yang menurut Herman adalah asli.
Ratna berkata,
“Kamu mau putar di sini?”
Laras menoleh.
“Ibu mau dengar?”
“Kalau ada suara Herman, iya.”
Damar memasang kembali cangkang.
Mereka membawanya ke Seno Audio.
Pak Seno sedang menutup nota ketika mereka datang.
Begitu melihat kaset, ia berkata,
“Ketemu?”
Laras meletakkannya di meja.
Pak Seno membaca tulisan Herman.
Wajahnya langsung serius.
“Pakai deck terbaik.”
Damar membersihkan head.
Memeriksa roller.
Mencoba kaset kosong lebih dulu.
Tidak ada masalah.
Laras duduk.
Ratna di sebelahnya.
Pak Seno berdiri.
Damar menekan play.
Desis.
Lalu suara Yani.
“Tanggal dua puluh tiga November.”
Semua diam.
“Jam dua lewat empat puluh.”
Suara Yani dekat dengan mikrofon.
“Yang ada di ruangan ini saya, Bu Rukmini, Bu Marni, Pak Herman, Pak Surya.”
Jeda.
“Dia sudah meninggal.”
Ratna menutup mulut.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada potongan.
Tidak ada kata yang bisa dipindahkan dari konteks lain.
Yani melanjutkan:
“Saya nyalakan ini karena nanti semua orang pasti cerita beda.”
Pak Seno menatap Laras.
Rukmini benar.
Ini kaset yang direkam setelah kematian.
Satu ruangan.
Semua orang.
Yani berkata,
“Sekarang bicara satu-satu.”
Lalu suara Rukmini:
“Matikan.”
“Tidak.”
“Yani.”
“Tidak.”
Herman masuk:
“Biarkan.”
Laras memejamkan mata sebentar.
Suara ayahnya.
Lebih muda.
Lelah.
Tapi jelas.
Surya berkata:
“Kita enggak punya waktu.”
Yani menjawab,
“Justru karena itu.”
Kemudian terdengar kursi bergeser.
Dan untuk pertama kalinya—
malam 23 November 1981 mulai bicara tanpa potongan.
Yani bertanya kepada Marni lebih dulu.
“Bu, apa yang terjadi?”
Marni menangis.
Tidak langsung menjawab.
Yani:
“Bu Marni.”
“Saya pukul dia.”
“Dengan?”
“Ulekan.”
“Berapa kali?”
“Sekali.”
“Kenapa?”
“Dia mau pergi.”
“Terus?”
“Saya takut.”
“Dia menyerang?”
Marni terdiam.
“Bu?”
“Tidak tahu.”
“Dia pukul Ibu?”
“Tidak.”
“Dorong?”
“Tidak.”
“Jadi?”
Marni menangis lebih keras.
“Saya pikir dia akan.”
Laras menunduk.
Pengakuannya sama dengan yang mereka dengar kemudian.
Tapi di sini tidak ada kesempatan memperbaiki cerita.
Yani bertanya,
“Setelah dipukul?”
“Jatuh.”
“Masih hidup?”
Marni terdiam.
Rukmini langsung berkata,
“Yani, cukup.”
Herman:
“Jawab.”
Marni menangis.
“Saya enggak tahu.”
Yani:
“Bu Rukmini yang cek?”
“Iya.”
“Bu Rukmini?”
Rukmini tidak menjawab.
“Masih hidup?”
Rukmini berkata,
“Tidak.”
Tidak ada splice.
Tidak ada keraguan lagi.
Pukulan Marni memang membunuh laki-laki itu.
Damar menulis waktu pada buku.
Laras tidak.
Ia hanya mendengar.
Yani beralih ke Rukmini.
“Kenapa enggak panggil polisi?”
“Karena semuanya akan terbuka.”
“Apa?”
“Kamu tahu.”
“Saya mau Ibu bilang.”
Rukmini terdengar marah.
“Tidak perlu.”
Yani:
“Tiga belas nama?”
Sunyi.
“Surat yang ditahan?”
Rukmini:
“Ya.”
“Balasan palsu?”
“Ya.”
“Orang yang didatangkan ke rumah keluarga?”
“Ya.”
“Dia?”
Rukmini tidak menjawab.
Yani:
“Dia siapa?”
Rukmini berkata,
“Kamu tahu.”
“Saya mau direkam.”
“Jangan.”
Yani mengucapkan nama.
Nama asli laki-laki itu.
Jelas.
Utuh.
Ratna menatap Laras.
Pak Seno menahan napas.
Damar tidak menulis.
Tidak perlu.
Nama itu sudah diketahui Laras dari Semarang.
Namun mendengarnya di rekaman ini berbeda.
Bukan lagi nama yang diberikan keluarga.
Bukan hasil pencarian.
Bukan sesuatu yang harus mereka percayai.
Nama itu diucapkan di ruangan yang sama dengan tubuhnya.
Yani melanjutkan:
“Dia datang ke Jakarta dengan nama itu.”
“Ya,” jawab Rukmini.
“Punya ibu.”
“Ya.”
“Punya dokumen.”
“Ya.”
“Dan Ibu ambil.”
Rukmini langsung berkata,
“Saya tidak mengambil.”
“Disimpan.”
“Untuk pekerjaan.”
“Tanpa izin?”
“Awalnya dengan izin.”
“Dia izin namanya dihapus?”
Rukmini diam.
Yani tertawa kecil.
Pahit.
“Jawab.”
“Tidak.”
Laras melihat Ratna.
Ibunya duduk kaku.
Mungkin baru sekarang memahami apa sebenarnya yang dikejar Herman selama tahun-tahun terakhir hidupnya.
Yani bertanya,
“Kenapa surat Jaka ditahan?”
Rukmini:
“Bukan waktunya.”