Tiga belas keluarga berada di sisi lain tombol play.
Kalau mereka tau
Laras tidak membawa kaset induk keluar dari Seno Audio.
Ia membuat satu salinan.
Bukan seluruhnya.
Hanya bagian yang berkaitan dengan tiga belas keluarga.
Tidak ada pengakuan pembunuhan Marni.
Tidak ada bagian pembuangan tubuh.
Tidak ada nama asli laki-laki itu.
Cukup untuk membuktikan satu hal:
Suara Pulang sengaja mengganti orang-orang yang mereka tunggu.
Damar melihat daftar tujuan.
“Sari.”
“Elisabeth.”
“Marni?”
Laras menggeleng.
“Marni sudah tahu terlalu banyak.”
“Ratna?”
“Terakhir.”
Pak Seno menatap daftar.
“Terus keluarga lain?”
“Kita enggak bisa datangi semua dalam sehari.”
“Kalau nanti ke polisi, mereka semua tetap akan tahu.”
“Itu yang mau aku lihat.”
Pak Seno mengernyit.
“Apa?”
“Bukan apakah mereka percaya.”
Laras memasukkan kaset salinan ke tas.
“Apakah mereka ingin tahu.”
Sari menjadi orang pertama.
Rumahnya masih sama.
Tape recorder National tetap berada di ruang tamu.
Sari menyambut mereka dengan senyum, lalu melihat kaset di tangan Laras.
“Saya kira kalian sudah selesai.”
“Belum.”
“Kaset lagi?”
Laras duduk.
“Kami tahu siapa yang membuat suara suami Ibu.”
Sari tidak terlihat terkejut.
“Bu Rukmini?”
“Bukan suaranya. Laki-lakinya.”
“Oh.”
Hanya itu.
Laras sempat kehilangan kalimat berikutnya.
Sari menuangkan teh.
“Namanya siapa?”
“Kami tahu.”
“Masih hidup?”
Laras menggeleng.
Sari berhenti menuang.
“Kapan meninggal?”
“1981.”
“Karena?”
“Panjang.”
Sari meletakkan teko.
“Terus kalian datang mau bilang suara suami saya palsu?”
“Ibu sudah tahu.”
“Sudah.”
“Kami punya bukti kalau Bu Rukmini sengaja—”
Sari mengangkat tangan.
“Laras.”
Laras diam.
“Saya tahu kamu datang dengan niat baik.”
“Bukan soal niat.”
“Justru.”
Sari duduk.
“Kamu ingin saya melakukan apa setelah dengar?”
“Tidak harus apa-apa.”
“Marah?”
“Kalau Ibu mau.”
“Buang kaset?”
“Tidak.”
“Datang ke polisi?”
“Belum tentu.”
Sari tersenyum tipis.
“Nah.”
Ia menunjuk tape recorder.
“Suami saya hilang di laut.”
“Ya.”
“Tubuh enggak pernah pulang.”
“Ya.”
“Selama hampir setahun saya tidur paling lama dua jam.”
Laras tidak menyela.
“Lalu datang kaset.”
Sari menyentuh kotaknya.
“Sekarang kamu bilang laki-laki yang ngomong bukan suami saya.”
“Saya tahu.”
“Waktu itu saya juga mungkin tahu.”
Laras menatapnya.
Sari melanjutkan,
“Bukan tahu seperti saya tahu nama saya sendiri.”
“Lebih seperti…”
Ia berpikir.
“…ada bagian saya yang enggak mau periksa terlalu dekat.”
“Karena kalau diperiksa?”
“Bisa hilang.”
Sari tersenyum.
“Dan saya butuh itu waktu itu.”
Damar bertanya,
“Kalau Ibu tahu Bu Rukmini sengaja bikin Ibu percaya?”
Sari melihatnya.
“Itu beda.”
“Marah?”
“Ya.”
“Kalau bukti ini dibuka?”
Sari diam.
Laras menunggu.
Akhirnya perempuan itu berkata,
“Saya enggak tahu.”
“Kalau polisi tanya?”
“Saya akan jawab.”
“Kalau surat kabar tahu?”
Sari langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Saya enggak mau tetangga tahu saya tidur bertahun-tahun ditemani suara laki-laki yang bukan suami saya.”
Laras terdiam.
Sari tertawa kecil, pahit.
“Kamu lihat?”
“Kebenaran juga bisa mempermalukan orang yang ditipu.”
Laras tidak punya bantahan.
Sari menunjuk tas.
“Kasetnya jangan diputar.”
“Yakin?”
“Yakin.”
“Bahkan kalau isinya membuktikan Bu Rukmini bohong?”
Sari mengangguk.
“Saya percaya kamu.”
Laras merasa jawaban itu lebih berat daripada jika Sari meminta mendengar.
Karena sekarang keputusan kembali kepadanya.
Elisabeth berbeda.
Begitu Laras menjelaskan, ia langsung berkata,
“Putar.”
Tidak ragu.
Tidak bertanya.
Kaset dimainkan.
Suara Yani.
Suara Rukmini.
Catatan tentang Anton.
Keluarga berjauhan.
Kunjungan tidak disarankan.
Gunakan suara.
Jangan pakai kata beta karena terdengar dibuat-buat.
Ketika rekaman berhenti, Elisabeth tidak bergerak.
Damar mematikan tape.
Laras menunggu.
Elisabeth berkata,
“Putar lagi bagian Anton.”
Diputar.
Sekali lagi.
Lalu ia bertanya,
“Jadi orang yang kami dengar bukan Anton?”
“Bukan.”
“Anton asli masih hidup waktu surat dikirim?”
“Iya.”
“Dan suratnya ditahan?”
“Iya.”
Elisabeth menutup wajah.
Tidak menangis.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
“Yosef harus dengar.”
“Bu yakin?”
“Dia cari Anton sampai bertahun-tahun.”
“Kalau setelah dengar dia makin merasa bersalah?”
“Dia memang akan merasa bersalah.”
Laras mengernyit.
Elisabeth menatapnya.
“Dia pergi ke Jakarta karena pikir gagal menjaga adiknya.”
“Padahal Anton menulis.”
“Iya.”
“Kalau surat itu sampai, mungkin semua beda.”
“Belum tentu.”
Elisabeth mengangguk.
“Saya tahu.”
Ia mengambil napas.
“Tapi saya mau tahu kemungkinan yang diambil dari kami.”
Kalimat itu menempel di kepala Laras.
Kemungkinan yang diambil dari kami.
Bukan hanya orang.
Bukan hanya surat.
Pilihan.
Hak untuk memutuskan sendiri.
Elisabeth meminta salinan.
Laras tidak memberikannya.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena ini juga ada keluarga lain.”
“Potong bagian Anton.”
“Bisa.”
“Terus kirim ke Yosef.”
Laras mengangguk.
Elisabeth menatapnya.
“Kalau kamu punya bukti semua ini dan memilih simpan, kamu juga memilih buat kami.”
Laras merasa seperti ditampar tanpa tangan.
Sari berkata jangan.
Elisabeth berkata buka.
Dua korban.
Dua kebutuhan berbeda.
Tidak ada jawaban yang bisa mewakili keduanya.
Keluarga ketiga adalah Hadi.
Bukan Hadi sendiri.