Kadang seseorang meninggalkan tanda bukan karena ingin ditemukan, tetapi karena tangannya selalu bekerja dengan cara yang sama.
Gudang yang masih penuh
Alamat dari Herman membawa Laras dan Damar ke sebuah gudang tua di pinggir kota.
Bangunannya tidak besar.
Dari luar lebih mirip tempat penyimpanan toko daripada markas rahasia.
Pintu besi.
Cat terkelupas.
Tidak ada papan nama.
“Ini terlalu biasa,” kata Damar.
“Bagus buat nyimpan sesuatu.”
“Atau enggak ada apa-apa.”
Gemboknya sudah tua.
Namun bukan ditinggalkan.
Ada bekas minyak baru pada lubang kunci.
Laras menyentuhnya.
“Masih dipakai.”
Mereka tidak langsung masuk.
Mereka menunggu hampir setengah jam dari warung seberang.
Tidak ada orang datang.
Akhirnya Damar berkata,
“Kalau kita terus lihat pintunya, dia enggak akan terbuka karena merasa diperhatikan.”
Laras menatapnya.
“Itu teori teknik?”
“Psikologi pintu.”
Mereka kembali.
Kunci dari amplop Herman ternyata terselip di belakang kertas alamat.
Laras baru menemukannya saat membuka amplop sekali lagi.
Kunci pas.
Pintu terbuka.
Bau pertama yang keluar bukan debu.
Kapur barus.
Lalu kain lama.
Gudang berisi rak-rak besi.
Kardus.
Lemari pakaian.
Beberapa tape recorder rusak.
Kabel.
Mikrofon.
Dua kursi yang mereka kenal dari foto Jalan Sawo.
Laras berdiri di tengah.
“Rukmini belum kosongin.”
“Kenapa?”
“Mungkin dia enggak tahu Ayah punya alamat.”
Damar menutup pintu.
Mereka mulai dari rak terdekat.
Kotak pertama berisi rambut palsu.
Kacamata.
Topi.
Kumis buatan.
Tidak seperti perlengkapan film yang rapi.
Semua barang murah.
Beberapa sudah menguning.
Kotak berikutnya lebih mengganggu.
Pakaian.
Kemeja.
Celana.
Jaket.
Masing-masing memiliki label kecil.
JAKA
HADI
DARSONO
WAWAN
Damar mengambil kemeja kotak-kotak.
“Jadi kalau datang ke rumah orang…”
“Baju juga disesuaikan.”
“Dari foto keluarga?”
Laras menemukan lembar referensi di dasar kotak.
Foto lama.
Catatan:
Jaka sering lengan digulung.
Hadi tidak suka kemeja dimasukkan.
Darsono kancing atas selalu terbuka.
Detail kecil.
Selalu detail kecil.
Bukan hanya suara.
Bukan hanya cerita.
Rukmini membangun orang dari kebiasaan yang tidak pernah dianggap penting oleh keluarganya sampai kebiasaan itu muncul kembali.
Damar membuka lemari kedua.
Di dalamnya tergantung beberapa jas.
Salah satunya memiliki catatan:
ANTON — FOTO SAJA
“Ini yang dipakai waktu Foto Lestari?”
“Mungkin.”
Mereka terus memeriksa.
Rak paling belakang berisi pakaian yang belum diberi nama.
Tidak ada label identitas.
Hanya ukuran tubuh.
A-1.
A-2.
A-3.
“Stand-in?” tanya Damar.
Laras mengangguk.
Tiga laki-laki.
Mungkin lebih.
Orang-orang yang dipilih berdasarkan bentuk tubuh sebelum diberi nama apa pun.
Di salah satu jaket ada tulisan tangan Yani:
Jangan gunakan bekas luka buatan yang sama. H. mulai memperhatikan.
Damar berkata,
“Herman.”
“Ya.”
Ia menemukan catatan lain:
Untuk A-2, tangan kiri harus ditutup bila bertemu keluarga.
Kemudian:
A-3 cocok wajah, tidak cocok jalan.
Semua yang pernah mereka anggap ciri satu laki-laki ternyata juga pernah dicoba ditempelkan pada orang lain.
Bekas luka.
Cara berjalan.
Pakaian.
Posisi tangan.
Rukmini tidak hanya mengganti manusia.
Ia mengganti petunjuk yang digunakan orang untuk mengenali manusia.
Laras membuka kardus lain.
Isinya potongan kain.
Kancing.
Benang.
Meteran.
Jarum.
Damar melihat.
“Ini seperti punya Marni.”
Laras mengambil salah satu kain.
Di tepinya ada jahitan tangan.
Sangat rapi.
Dua tusuk pendek, satu panjang.
Pendek.
Pendek.
Panjang.
Pola berulang.
Ia pernah melihatnya.
“Di kursi.”
“Apa?”
“Kain bawah kursi Marni.”
Damar mengambil potongan lain.
Jahitan yang sama.
“Dia yang jahit?”
Laras tidak menjawab.
Di dalam kardus ada buku pesanan.
Tidak memakai nama Suara Pulang.
Hanya inisial.
Tetapi tulisan pada beberapa halaman milik Marni.
Ukuran bahu.
Panjang lengan.
Lingkar pinggang.
Catatan:
buat seperti foto.
jangan terlalu baru.
kancing diganti yang lama.
Laras membalik halaman.
Tanggal-tanggalnya mulai 1979.
Sebelum Marni mengaku tahu pengganti Jaka bukan anaknya.
Damar berkata pelan,
“Dia bantu bikin pakaian.”
“Iya.”
“Buat semua orang?”
“Belum tentu tahu dipakai buat apa.”
Laras mencari nama.
Tidak ada.
Hanya kode.
Kemudian di halaman akhir 1980, tulisan berubah.
Lebih jelas.
JAKA — 2 kemeja.
JAKA — celana kerja.
JAKA — perbaiki jaket lama dari foto.
Laras berhenti.
Pada titik ini Marni sudah tahu siapa yang sedang dijahitkan.
Damar membaca dari bahunya.
“Ini sebelum dia bilang sadar laki-laki itu bukan Jaka?”
“Menurut versinya, iya.”
“Berarti dia bohong lagi?”
“Mungkin.”
Laras tidak langsung menyimpulkan.
Mereka sudah terlalu sering melakukan itu.
Ia memasukkan buku ke tas.
“Kita bawa ke Marni.”
Marni sedang memotong kain ketika mereka datang.
Begitu Laras meletakkan buku pesanan di meja, guntingnya berhenti.
Tidak ada pertanyaan dari Marni tentang dari mana mereka mendapatkannya.
Itu sudah cukup.
“Ibu kenal?”
Marni melihat sampul.
“Iya.”
“Punya Ibu?”
“Dulu.”
“Kenapa ada di gudang Rukmini?”
Marni mengembalikan pandangan ke kain.
“Karena saya kerja buat dia.”
Damar bersandar di dekat pintu.
“Kerja apa?”
“Jahit.”
“Pakaian buat laki-laki pengganti?”
Marni diam.
Laras membuka halaman.
JAKA — 2 kemeja.
“Ini sebelum Ibu bilang sadar dia bukan Jaka.”
Marni menatap tulisan sendiri.
“Ya.”
“Jadi Ibu tahu dari awal?”
“Tidak.”
“Kenapa nulis Jaka?”
“Karena Bu Rukmini bilang untuk Jaka.”
“Dan Ibu pikir anak Ibu yang empat tahun enggak pulang tiba-tiba pesan baju lewat Rukmini?”
Marni tidak menjawab.
Laras berkata,
“Bu, saya enggak datang buat cari pengakuan baru soal pembunuhan.”
“Terus?”
“Saya mau tahu kapan Ibu pertama kali sadar.”
Marni menatap jahitannya.
Lama.
“Ada dua waktu.”
Laras mengernyit.
“Maksudnya?”
“Waktu saya tahu.”
“Dan waktu saya mengaku ke diri sendiri.”
Damar tidak bergerak.
Marni melanjutkan,
“Pertama kali dia datang, saya tahu ada yang salah.”
“Wajah?”
“Tidak.”
“Suara?”
“Mirip.”
“Terus?”
Marni menyentuh dada.
“Di sini.”
Laras menunggu.
“Saya besarkan Jaka.”
“Saya tahu cara dia buka pintu.”
“Cara dia duduk.”
“Cara dia lihat rumah.”
“Orang itu masuk…”
Marni menggeleng.
“…seperti orang yang sudah latihan masuk.”
Kalimatnya sederhana.
Tapi Laras langsung mengerti.
Seseorang bisa belajar letak kamar.
Nama tetangga.
Makanan kesukaan.
Bahkan cara bicara.