Bagian pertama dibuat agar kalian percaya pada hal yang salah.
Kardus yang keluar
Kaset dari amplop JIKA DIPUTAR diputar di gudang.
Damar sempat menyarankan membawanya ke Seno Audio.
Laras menolak.
“Kalau ini tentang R-14, dengar di sini.”
“Kenapa?”
“Biar kita tahu suara ruangannya.”
Damar melihat gudang gelap di sekeliling mereka.
“Kalimat yang bagus buat keputusan buruk.”
Mereka memakai tape recorder kecil yang dibawa dari toko.
Kaset diperiksa lebih dulu.
Cangkangnya tua.
Tidak ada sambungan yang terlihat pada beberapa meter awal.
Damar memasukkannya.
“Kalau ada suara aneh, kita enggak langsung bilang hantu.”
“Ya.”
“Kalau ada nama saya?”
“Juga enggak.”
“Bagus.”
Klik.
Desis.
Lalu suara Yani.
“Dua puluh tiga November.”
Laras langsung melihat jam tua di dinding gudang.
Sudah mati.
Yani melanjutkan:
“Jam empat lewat sebelas.”
Suara itu berbeda dari kaset induk.
Lebih pelan.
Seperti orang yang sedang berusaha tidak ketahuan merekam.
“Recorder saya taruh di rak R-14.”
Damar menoleh ke rak kosong di depan mereka.
“Tempat kita berdiri,” katanya.
Laras mengangguk.
Dalam rekaman terdengar pintu besi.
Suara Surya.
“Yang dua dulu.”
Rukmini menjawab,
“Bawa.”
Suara kardus digeser.
Gesekan lantainya hampir sama dengan bekas pada beton yang baru saja mereka lihat.
Surya:
“Berat.”
Rukmini:
“Jangan jatuh.”
Yani tidak bersuara.
Lalu pintu dibuka.
Dua benda besar diseret keluar.
Mesin mobil menyala.
Pergi.
Beberapa detik kemudian Yani berbisik dekat recorder:
“Dua kardus keluar.”
Jeda.
Kemudian:
“Tubuh masih di sini.”
Damar menghentikan.
“Persis catatannya.”
Laras melihat ruang kosong berbentuk panjang di samping rak.
“Jadi waktu kardus keluar pertama kali, tubuhnya belum ikut.”
“Iya.”
“Berarti jasad di dua kardus—”
Damar tidak menyelesaikan.
Laras mengambil kaset.
“Labelnya bilang jangan berhenti.”
Ia menekan play lagi.
Rekaman berjalan.
Yani terdengar berjalan.
Lalu napasnya berubah.
Ia mungkin mendekati tubuh.
“Maaf.”
Hanya itu.
Beberapa detik kemudian Rukmini masuk.
“Kamu ngapain?”
“Lihat dia.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Sudah enggak ada yang bisa kamu lakukan.”
Yani:
“Namanya harus ikut.”
Rukmini:
“Jangan sekarang.”
“Terus kapan?”
“Kalau aman.”
“Kalian bilang itu dari awal.”
Rukmini tidak menjawab.
Yani berkata,
“Dua kardus tadi buat apa?”
“Barang.”
“Barang apa?”
“Arsip.”
Laras dan Damar saling pandang.
Rukmini melanjutkan,
“Kaset.”
“Formulir.”
“Foto.”
“Yang perlu dikeluarkan sebelum polisi tahu tempat ini.”
Jadi dua kardus pertama memang bukan membawa tubuh.
Mereka membawa arsip Suara Pulang.
Damar berbisik,
“Kalau polisi pernah lihat mobil Surya keluar jam empat dua puluh…”
“Mereka bisa kira waktu itu tubuh dibawa.”
Padahal tidak.
Rekaman berlanjut.
Yani:
“Tubuh mau dibawa ke mana?”
Rukmini:
“Bukan urusan kamu.”
“Dia mati di depan saya.”
“Justru karena itu pulang.”
“Tidak.”
“Yani.”
“Saya tunggu sampai dia dibawa.”
Rukmini berkata sesuatu yang terlalu pelan.
Yani:
“Apa?”
“Kalau kamu tetap di sini, kamu akan lihat sesuatu yang nanti tidak bisa kamu bilang tidak tahu.”
Yani tertawa kecil.
“Saya sudah enggak bisa bilang tidak tahu.”
Sunyi.
Rukmini keluar.
Yani kembali berbisik:
“Kalau ada yang dengar ini nanti, dua kardus yang keluar jam empat dua puluh bukan tubuhnya.”
Laras merasakan kepastian dari Bab sebelumnya kembali.
Laki-laki Pita Hitam bukan korban dua kardus.
Yani sendiri mengatakannya.
Namun rekaman belum selesai.
Waktu berlalu cukup lama.
Hanya suara gudang.
Kadang kendaraan dari luar.
Kadang tikus atau kayu mengembang.
Laras hampir menghentikan.
Damar menunjuk label.
“Jangan.”
Mereka terus mendengar.
Sekitar delapan menit kemudian—
mesin mobil kembali.
Laras langsung menegakkan tubuh.
Pintu besi dibuka.
Surya masuk.
Dua kardus diseret kembali.
Damar menatap Laras.
“Balik.”
Rekaman menangkap Surya mengumpat.
Rukmini:
“Sudah kosong?”
“Sudah.”
“Kertas?”
“Pindah.”
“Kaset?”
“Semua yang dua kardus tadi.”
“Bagus.”
Yani keluar dari persembunyian.
“Kenapa kardusnya dibawa kembali?”
Tidak ada yang menjawab.
“Bu Rukmini?”
Surya berkata,
“Pulang saja, Neng.”
Yani:
“Jangan sentuh dia.”
Sunyi.
Kemudian bunyi yang membuat Laras merasa perutnya mengeras.
Kardus dibuka.
Lakban ditarik.
Surya berkata,
“Kalau tetap utuh enggak muat.”
Yani:
“Jangan.”
Rukmini:
“Surya.”
“Mobil saya kecil.”
“Cari cara lain.”
“Sudah pagi.”
Yani langsung berkata,
“Bawa utuh. Kita panggil polisi.”
Tidak ada yang menjawab.
“Bu.”
Rukmini:
“Sudah terlambat.”
Yani:
“Belum.”
Surya berkata,
“Kalau mau selesai sebelum terang, saya perlu alat.”
Yani mulai menangis.