PITA HITAM

Muhammad Agra Pratama Putra
Chapter #33

Pita Hitam

Jauh sebelum menjadi nama sebuah kaset, pita hitam adalah tanda seseorang seharusnya sudah direlakan.

Tahun 1978

Marni membuka pintu sebelum Laras mengetuk kedua kali.

“Kalian belum selesai?”

“Belum.”

Marni melihat Damar.

Lalu amplop Herman di tangan Laras.

Wajahnya berubah.

“Apa lagi?”

Laras masuk tanpa menjawab.

Ia meletakkan gulungan pita kain hitam dari gudang R-14 di atas meja.

Marni tidak menyentuhnya.

Namun tangannya berhenti di atas kain yang sedang dijahit.

“Kenal?”

“Pita biasa.”

“Pita berkabung?”

Marni diam.

Damar menutup pintu.

Laras mengeluarkan catatan Herman.

1978.

Cari pita hitam pertama. Bukan kaset.

Marni membaca.

Kemudian tertawa pendek.

“Herman memang enggak bisa berhenti.”

“Siapa yang meninggal tahun 1978?”

Marni tidak menjawab.

Laras melihat foto keluarga di dinding.

Ia sudah melihatnya beberapa kali.

Marni.

Seorang laki-laki.

Jaka muda.

Foto lama.

“Suami Ibu?”

Marni menunduk.

“Namanya Sutrisno.”

“Bapaknya Jaka?”

“Iya.”

“Meninggal tahun 1978?”

“Ya.”

“Bagaimana?”

“Kecelakaan kerja.”

“Tubuh ditemukan?”

Marni menatapnya.

“Iya.”

Jawaban itu penting.

Tidak ada orang hilang.

Tidak ada identitas misterius.

Tidak ada ruang untuk mengganti tubuh.

Sutrisno benar-benar mati.

“Bu Rukmini sudah kenal Ibu waktu itu?”

“Belum dekat.”

“Dari mana?”

“Pengajian.”

“Suara Pulang sudah ada?”

“Belum.”

Laras duduk.

“Terus apa yang dia lakukan?”

Marni melihat pita hitam.

Setelah pemakaman, katanya, rumah menjadi terlalu sepi.

Jaka masih tinggal bersamanya waktu itu.

Usianya belum dua puluh.

Ia lebih banyak keluar.

Bekerja.

Bertemu teman.

Marni tidak marah.

Tapi malam terasa panjang.

Sutrisno biasa pulang setelah magrib.

Batuk sebelum masuk.

Meletakkan kunci di mangkuk dekat pintu.

Memanggil:

Mar.

Satu suku kata.

Selama dua puluh tahun, suara itu menjadi bagian rumah.

Kemudian berhenti dalam satu hari.

“Rukmini datang seminggu setelah pemakaman,” kata Marni.

“Bawa apa?”

“Recorder.”

Laras menatapnya.

“Untuk?”

“Katanya saya harus cerita.”

“Terapi?”

“Dia enggak pakai kata itu.”

Marni tersenyum tipis.

“Katanya kalau saya enggak bisa tidur, bicara saja.”

“Ke tape?”

“Iya.”

“Apa yang Ibu bilang?”

“Macam-macam.”

Tentang Sutrisno.

Tentang bagaimana ia makan.

Kata-kata yang sering dipakai.

Cerita saat melamar.

Cara marah.

Cara meminta kopi.

Cara memanggil Jaka.

Rukmini datang beberapa kali.

Merekam semuanya.

Laras langsung mengenali pola.

Informasi keluarga.

Kebiasaan.

Panggilan.

Detail kecil.

“Terus?”

“Sebulan kemudian dia bawa kaset.”

“Apa isinya?”

Marni melihat Laras.

“Suami saya.”

Sunyi.

Damar bertanya,

“Suara asli?”

Marni menggeleng.

“Orang lain.”

Laras sudah menduga.

“Tapi mirip?”

“Tidak terlalu.”

“Terus Ibu percaya?”

Marni langsung menjawab,

“Tidak.”

Itu justru lebih buruk.

Marni tahu sejak pertama.

Ia tidak pernah mengira Sutrisno hidup.

Tidak pernah ditipu soal kematiannya.

Ia tahu tubuh suaminya sudah dikubur.

Tahu laki-laki yang bicara dalam kaset bukan dia.

“Tapi Ibu dengarkan.”

“Iya.”

“Berapa kali?”

Marni mengusap ujung jarinya.

“Setiap malam.”

Laras merasa pola yang selama ini mereka cari akhirnya kembali ke titik paling sederhana.

Bukan penipuan dulu.

Bukan penggantian identitas.

Hanya seorang janda yang tahu rekaman itu palsu—

dan tetap merasa tenang ketika suara lain menyebut namanya seperti suaminya.

“Apa yang dikatakan rekamannya?”

Marni memandang ruang makan.

“Hal biasa.”

Mar, pintunya dikunci.

Jangan tunggu saya malam-malam.

Jaka jangan dimarahi terus.

Tidur.

Besok jahit lagi.

Kalimat rumah.

Bukan pesan besar.

Bukan pengakuan cinta.

Justru itu yang membuatnya bekerja.

Laras bertanya,

“Siapa laki-laki yang merekam?”

“Enggak tahu.”

“Bu Rukmini bilang?”

“Katanya teman.”

“Pernah ketemu?”

Marni menggeleng.

Damar berkata,

“Jadi ini sebelum laki-laki dari Semarang datang.”

“Jauh.”

Marni melihat pita hitam.

“Dia belum ada.”

Laras akhirnya memahami.

Rukmini tidak menemukan metode itu melalui subjek utama.

Subjek utama hanya membuat metode tersebut bisa diperbesar.

Percobaan pertamanya berhasil tanpa manipulasi identitas sama sekali.

Marni tahu suara itu palsu.

Namun tubuh manusia tidak selalu membutuhkan keyakinan penuh untuk merasa terhibur.

Kadang cukup pola yang familiar.

Cukup satu panggilan.

Cukup jeda yang benar.

“Terus pita hitam?”

Marni menatapnya lama.

Lalu berdiri.

Ia masuk ke kamar Jaka.

Kembali membawa kotak kayu kecil.

Di dalamnya ada satu kaset tua.

Cangkangnya abu-abu.

Di sekeliling kotaknya terikat pita kain hitam yang sudah pudar.

Simpulnya sederhana.

Dua ujung menggantung pendek.

Marni meletakkan di meja.

“Ini.”

Laras tidak menyentuh.

“Rukmini yang kasih pita?”

“Tidak.”

“Terus?”

“Saya.”

“Kenapa?”

“Waktu empat puluh hari.”

Marni melihat kaset.

Lihat selengkapnya