Tidak ada satu kalimat pun yang berubah. Yang berubah adalah orang yang mendengarnya.
Putar dari awal
Pita Hitam kembali masuk ke deck Seno Audio.
Kaset yang sama.
Goresan XIII yang sama.
Cangkang hitam yang sama.
Laras duduk di depan mesin bersama Damar. Pak Seno berdiri di belakang mereka.
Di meja ada tiga benda lain.
Kaset induk.
Kartu identitas laki-laki dari Semarang.
Sepotong pita kain hitam milik Jaka.
Besok pagi bukti kematian akan dibawa ke polisi.
Malam ini mereka hanya ingin melakukan satu hal.
Mendengar semuanya dari awal.
Damar menekan play.
Desis.
Lalu suara laki-laki itu.
“Nama saya Jaka.”
Laras tidak lagi membayangkan Jaka.
Ia melihat seorang laki-laki tanpa pekerjaan tetap, datang dari Semarang, duduk di depan mikrofon dan membaca nama yang diberikan kepadanya.
“Nama saya Anton.”
Bukan Anton.
“Nama saya Rahman.”
Bukan Rahman.
“Seno.”
“Bambang.”
“Hadi.”
“Rudi.”
“Yusuf.”
“Daniel.”
“Wawan.”
“Darsono.”
“Imam.”
“Marwan.”
Dulu tiga belas nama terdengar seperti misteri.
Sekarang terdengar seperti daftar pekerjaan.
Damar menghentikan.
“Dari awal kita sudah dikasih jawabannya.”
Laras mengangguk.
“Tapi pertanyaannya salah.”
Mereka mengira:
Siapa dari tiga belas nama itu dia?
Padahal jawabannya:
Tidak ada.
Damar melanjutkan.
Suara Rukmini:
“Jangan berhenti.”
“Ulang dari awal.”
“Kalau dipanggil, jawab.”
“Jangan pikirkan terlalu lama.”
Dulu kalimat-kalimat itu terasa seperti upaya menghapus identitas.
Sebagian memang demikian.
Tapi sekarang Laras mendengar fungsi lain.
Pengujian.
Apakah subjek masih bisa berpindah cepat.
Apakah Jaka masih ada.
Anton masih bisa dipakai.
Hadi belum bercampur dengan Rahman.
Bukan satu identitas baru.
Gudang identitas.
Damar berkata,
“XIII memang hasil.”
“Ya.”
Laras menunjuk sambungan fisik pada Side A.
Dua belas splice.
Tiga belas bagian.
Herman mengambil potongan dari berbagai sesi dan menyusunnya.
Bukan supaya orang percaya laki-laki tersebut mempunyai tiga belas kepribadian.
Justru untuk menunjukkan bahwa suara yang sama telah dipakai tiga belas kali.
Mereka lanjut.
Laki-laki:
“Kalau nanti mereka menemukan saya…”
Laras langsung mengangkat tangan.
“Stop.”
Damar menghentikan.
Kalimat itu.
Kalimat yang sejak hari pertama membuatnya merasa seperti kaset tersebut mengetahui masa depan.
“Putar beberapa detik sebelum.”
Damar memundurkan lebih jauh daripada biasanya.
Mereka mendengar desis.
Suara kursi.
Herman.
Samar.
“Kalau ini gagal, polisi bisa menemukan semuanya.”
Laki-laki itu:
“Saya juga?”
“Bisa.”
“Kalau nanti mereka menemukan saya…”
Kemudian kalimat yang mereka kenal.
“…jangan biarkan mereka memilih nama saya.”
Laras menatap Damar.
Bukan ramalan.
Bukan pesan dari orang mati kepada siapa pun di tahun 1985.
Percakapan itu terjadi ketika laki-laki tersebut masih hidup.
Ia sudah tahu jika sistem terbongkar, polisi mungkin menemukannya.
Sebagai Jaka.
Rahman.
Anton.
Salah satu nama palsu.
Herman bertanya pelan dalam rekaman,
“Kalau bukan nama-nama itu, mau pakai apa?”
Laki-laki itu tertawa kecil.
“Nama saya.”
“Apa masih ingat?”
Jeda.
“Kadang.”
Laras merasa dadanya berat.
Damar melanjutkan.
“Jangan suruh saya ingat.”
Dulu kalimat itu terdengar seperti ketakutan terhadap sesuatu yang menyeramkan dalam masa lalunya.
Sekarang konteksnya sederhana.
Setiap kali dipaksa mengingat, laki-laki itu gagal.
Dan setiap kegagalan membuatnya semakin takut bahwa nama aslinya benar-benar hilang.
Laras berkata,
“Dia bukan takut masa lalunya.”
“Dia takut enggak bisa menemukannya lagi.”
Damar mengangguk.
Pita terus berjalan.
Suara perempuan.
Rukmini.
“Kalau lupa, mulai dari yang mudah.”
“Rumah.”
“Nama ibu.”
“Tempat lahir.”
Laki-laki:
“Kalau semua salah?”
Rukmini:
“Ulang.”
Damar mematikan.
“Bahkan cara mengembalikan identitas pun pakai metode yang sama.”
“Repetisi.”
“Iya.”
Rukmini mencoba memperbaiki kerusakan dengan alat yang membuat kerusakan itu.
Laras melihat kartu identitas di atas meja.
Semua informasi itu sebenarnya sudah pernah ada pada selembar kartu.
Nama.
Tempat lahir.
Alamat.
Tidak perlu latihan.
Tidak perlu tes.
Cukup kembalikan kartunya.
Tapi mereka terlalu lama merasa identitas adalah sesuatu yang bisa dibangun melalui suara.
Laras berkata,
“Side B.”
Kaset dibalik.
Head tape recorder tua kembali dimiringkan seperti saat mereka menemukan undertrack pertama kali.
Suara anak kecil muncul.
Laras.
“…empat… lima… enam…”
Laras tidak lagi merasakan bulu kuduk berdiri.
Itu dirinya.
Usia enam tahun.
Sedang menghitung anak tangga.
Bukan hantu.
Bukan pesan masa depan.
Suara lama.
“Namaku Laras.”
Laki-laki itu:
“Laras.”
“Ya.”
“Nama bagus.”
Laras kecil tertawa.
Kemudian:
“Om Rahman namanya beneran Rahman?”
Jeda.
Laki-laki itu tertawa.
“Enggak tahu.”
Suara Herman:
“Cukup.”
Rukmini:
“Belum.”
Anak Laras:
“Kalau lupa nama, pakai namaku saja.”
Rukmini:
“Bagus.”
Laki-laki itu:
“Enggak.”
Semua berhenti.
Laras menatap deck.
Mereka dulu terlalu terpaku pada perkataan Rukmini.
Bagus.
Seolah nama Laras kemudian ditanam kepada laki-laki tersebut.
Padahal ia menolak.
Damar memundurkan.
Anak Laras:
“Kalau lupa nama, pakai namaku saja.”
Rukmini: