Nama keempat belas bukan nama baru. Itu nama yang paling lama dihilangkan.
Nama korban
Pagi itu Laras membawa tiga benda.
Kaset induk.
Kaset JIKA DIPUTAR.
Dan sebuah kartu identitas yang selama empat tahun disembunyikan di dalam kotak baterai milik Herman.
Pita Hitam tidak ikut.
Kaset hitam itu tetap berada di Seno Audio.
Bukan karena tidak penting.
Justru karena tugasnya sudah selesai.
Damar membawa map berisi salinan surat Yani, catatan Herman, ukuran tubuh dari buku Marni, foto dari Semarang, dan kronologi yang mereka susun sepanjang malam.
Tidak sempurna.
Tapi cukup.
Di kantor polisi, mereka menunggu hampir satu jam sebelum seorang petugas bersedia melihat semua barang itu dengan serius.
Awalnya pertanyaannya sederhana.
“Kasus tahun berapa?”
“1981.”
“Korban?”
Laras meletakkan kartu identitas di atas meja.
Petugas mengambilnya.
Membaca.
Lalu menulis nama pada formulir.
Untuk pertama kalinya Laras melihat nama itu berpindah dari benda pribadi ke dokumen resmi.
Bukan Jaka.
Bukan Anton.
Bukan Rahman.
Bukan salah satu dari tiga belas nama.
Sunarto.
Petugas mengangkat kepala.
“Ini korban dua kardus?”
“Kami yakin.”
“Alias Jaka?”
Laras langsung menggeleng.
“Bukan.”
Petugas berhenti menulis.
“Di beberapa rekaman dia pakai nama itu.”
“Karena disuruh.”
“Rahman?”
“Juga bukan.”
“Anton?”
“Bukan.”
Petugas mulai terlihat kesal.
“Jadi aliasnya banyak?”
Laras menahan diri.
“Bukan alias.”
“Terus?”
“Nama orang lain yang dipakai ke dia.”
Petugas melihat Damar.
Damar mengangkat bahu.
“Memang panjang, Pak.”
Laras mendorong kaset induk.
“Kalau Bapak dengar ini, lebih jelas.”
Petugas tidak langsung mengambil.
“Rekaman bisa dibuat.”
“Betul.”
Laras mengeluarkan catatan berikutnya.
“Makanya ada kartu identitas.”
“Alamat keluarga.”
“Ciri tubuh sebelum meninggal.”
“Riwayat gigi.”
“Bekas luka.”
“Kesaksian orang yang melihat tubuh sebelum dimasukkan ke kardus.”
“Dan pengakuan orang yang memukul.”
Petugas berhenti.
“Pengakuan?”
“Iya.”
“Siapa?”
Suara dari belakang menjawab.
“Saya.”
Laras menoleh.
Marni berdiri beberapa meter dari mereka.
Sendiri.
Tidak membawa tas.
Di tangan kanannya ada bungkusan kain.
Damar berdiri.
“Bu?”
Marni berjalan mendekat.
Wajahnya pucat.
Tapi langkahnya tenang.
Ia meletakkan bungkusan di meja.
Membukanya.
Ulekan kayu.
Petugas langsung mengerutkan kening.
Marni berkata,
“Saya yang pukul dia.”
Laras tidak bergerak.
“Bu Marni…”
Marni menatapnya.
“Kamu bilang mau kasih nama dia kembali.”
“Iya.”
“Saya pikir saya juga harus kasih bagian saya.”
Petugas mulai bertanya.
Nama.
Alamat.
Tanggal kejadian.
Marni menjawab satu per satu.
Tidak menangis.
Tidak mengatakan tidak sengaja lebih dulu.
Tidak menyebut Rukmini sebelum ditanya.
Ketika petugas bertanya nama orang yang ia pukul, Marni melihat Laras.
“Saya enggak tahu waktu itu.”
“Sekarang?”
Marni diam.
Laras tidak menjawab untuknya.
Bukan haknya.
Marni melihat kartu di meja.
Membaca nama itu sendiri.
Bibirnya bergerak.
“Sunarto.”
Satu kata.
Wajahnya berubah.
Seperti selama ini tubuh yang ia bunuh memang tidak mempunyai tempat untuk berdiri.
Sekarang ada.
Petugas bertanya,
“Kenal?”
Marni menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap ulekan.
“Saya justru bunuh dia karena saya enggak mau dia jadi dirinya.”
Ruangan sunyi.
Petugas mulai menulis lagi.
Marni akhirnya menangis.
Tidak keras.
“Saya mau dia jadi anak saya.”
Ia mengusap wajah.
“Anak saya sendiri masih hidup.”
Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan Laras.
Setidaknya tidak saat itu.
Dua petugas membawa Marni ke ruangan lain.
Sebelum pergi, Marni menoleh.
“Laras.”
“Ya?”
“Kalau ketemu Jaka…”
Ia berhenti.
Laras menunggu.
Marni menggeleng.
“Enggak.”
“Apa?”
“Bukan kalau kamu ketemu.”
Marni menarik napas.
“Kalau dia datang sendiri.”
Laras mengerti.
Untuk pertama kalinya Marni tidak meminta seseorang membawa Jaka pulang.
Ia membiarkan anaknya menentukan sendiri apakah rumah itu masih tempat untuk kembali.
Marni dibawa masuk.
Damar duduk lagi.
Petugas di depan mereka melihat tumpukan bukti.
“Ini semua kalian temukan sendiri?”
“Sebagian.”
“Yang lain?”
“Orang-orang yang terlibat simpan.”
“Kenapa baru sekarang?”
Laras melihat kaset induk.
“Karena semua orang punya alasan untuk menunggu.”
Petugas menatapnya.
“Kamu?”
Laras mengangguk.
“Saya juga.”
Lalu ia mendorong kaset itu lebih dekat.
“Tapi yang ini jangan tunggu lagi.”
Mereka keluar menjelang siang.
Tidak ada rasa menang.
Tidak ada musik.
Tidak ada orang menunggu di luar.
Kasus belum selesai hanya karena bukti diserahkan.
Polisi masih harus memeriksa.
Mencocokkan.
Memanggil orang.
Mencari berkas lama.
Menentukan bagian yang masih bisa dibuktikan setelah empat tahun.
Surya mungkin sudah mati.
Yani belum ditemukan.
Sebagian keluarga tersebar.
Sebagian surat hilang.
Sebagian rekaman rusak.
Kebenaran tidak berubah menjadi putusan hanya karena Laras akhirnya menemukannya.
Namun satu hal sudah bergeser.
Untuk pertama kalinya sejak 23 November 1981, nama korban masuk ke dalam laporan bukan sebagai tanda tanya.
Sunarto.
Damar berjalan di samping Laras.
“Ras.”
“Hm?”
“Rasanya biasa saja.”
“Apa?”
“Namanya.”
Laras melihatnya.
“Memang.”
“Saya kira setelah kita cari selama ini bakal…”
Damar mencari kata.
“Entah.”
“Lebih hebat?”
“Bukan.”
“Lebih cocok?”
Laras tersenyum tipis.
“Nama enggak harus cocok sama cerita.”
Damar mengangguk.
“Benar.”
Sunarto bukan nama misterius.
Bukan kode.
Bukan nama yang kalau dibaca akan menjelaskan Suara Pulang.
Itu hanya nama seorang anak Bu Sumi.
Seorang laki-laki yang datang ke Jakarta mencari kerja.
Seseorang yang pernah sakit gigi.
Pernah menulis akan mengirim uang.
Pernah berjanji pulang setelah mendapat pekerjaan.
Kemudian bertemu orang-orang yang merasa tahu ia lebih berguna sebagai siapa.
Itu saja.
Dan itu cukup.
Rukmini sudah berada di Seno Audio ketika Laras dan Damar kembali.
Pak Seno berdiri di balik meja.
Ratna duduk di kursi dekat jendela.
Tidak ada teh.
Tidak ada basa-basi.
Rukmini melihat Laras masuk.
“Kamu pergi ke polisi.”
Bukan pertanyaan.
“Iya.”
“Semua kaset?”
“Tidak.”
Rukmini tersenyum kecil.
“Akhirnya kamu memilih.”
Laras meletakkan tas.
“Iya.”
“Sari?”
“Bagian pribadinya enggak saya kasih.”
“Elisabeth?”
“Bukti Anton dipisah.”
“Hadi?”
“Rina dapat surat kakaknya.”
“Marni?”
“Datang sendiri.”
Untuk pertama kalinya wajah Rukmini benar-benar berubah.
“Apa?”
“Dia mengaku.”
Rukmini diam.
“Bawa alatnya juga.”
Rukmini melihat meja.
“Kenapa?”
Laras hampir tertawa.
Pertanyaan yang sama.
Selalu kenapa.
“Karena itu pilihannya.”
Rukmini menatapnya.
“Kamu pikir dia mengerti akibatnya?”
“Mungkin enggak.”
“Dia bisa dipenjara.”
“Iya.”
“Jaka bisa tahu.”
“Iya.”
“Hidupnya selesai.”
Laras menjawab,
“Bisa.”
“Terus kamu biarkan?”
“Saya enggak biarkan.”
Laras mendekat.
“Saya juga enggak cegah.”
Rukmini mengerutkan kening.
Laras melanjutkan,
“Itu bedanya.”
Sunyi.
Rukmini duduk.
“Kamu tetap menyimpan bagian tertentu dari polisi.”
“Untuk sekarang, kaset pribadi keluarga.”
“Berarti kamu menentukan.”
“Saya menentukan apa yang saya serahkan sebagai bukti kasus kematian.”
“Dan siapa yang boleh tahu sisanya.”
“Tidak.”
Laras mengambil tiga belas map.
Masing-masing sudah diberi nama.
JAKA.
ANTON.
HADI.
IMAM.
Dan seterusnya.
“Mereka yang tentukan.”
Rukmini melihat map-map itu.
“Caranya?”
“Kami cari keluarga.”
“Kasih surat yang memang ditujukan kepada mereka.”