Nazaruddin memang tidak menanyakan kondisi yang baru saja saya alami. Dia hanya butuh konfirmasi soal siapa tentara yang menemui Pak Atmadi sebelum kematiannya. Jika mendatangi rumah yang sudah ditinggalkan pemiliknya masuk dalam tuduhan menemui pak Atmadi, maka saya mengakuinya. Nurani saya belum mati untuk terus mengingatkan orang-orang tak bersalah menjauh dari kematian yang direncanakan.
Nazaruddin menunggui saya di beranda kos saat saya izin membersihkan diri lebih dulu. Begitu saya sudah berdiri di hadapannya, dia mengajak saya ikut patroli gabungan. Tujuannya adalah waduk. Dia baru mendapat laporan dari warga yang menemukan mayat dalam karung saat waduk sedang dikuras malam ini.
Saya ikut saja ke mana tujuan Nazaruddin. Tempat yang saya kunjungi berada di batas timur wilayah kecamatan, sekitar lima belas menit waktu tempuh kendaraan dari tempat kos saya. Nazaruddin sengaja mengajak saya ke sana karena dia juga mendapat telepon dari Iptu Mahendra soal temuan mayat. Saya kembali dicurigai dengan dalih kemungkinan menjadi saksi pertama yang menemukan korban, seperti dua kejadian sebelumnya.
“Saya tidak tahu apa-apa, Bang.”
Jawaban saya rupanya memantik rasa penasaran Nazaruddin.
“Jadi dari mana saja mulai tadi siang? Izinmu tadi antar Triyas ketemu ibunya.”
“Memang itu yang saya lakukan. Ibu Triyas belum kembali sejak membuat laporan ke polres soal dugaan pembunuhan suaminya.”
“Terus darah di bajumu tadi itu apa?”
“Darah ibunya Triyas.”
Kebohongan saya membuat Nazaruddin memerintahkan saya menepikan motor sejenak.
“Maksudmu ibunya Triyas juga jadi korban?”
Saya hanya bisa mengangguk dan menjawab singkat soal ibu Triyas yang dibawa ke rumah sakit, tanpa perlu menjelaskan apa yang menyebabkannya.
“Kita ada di zona merah, Bang. Mantra kematian sudah ditiup acak.”
Nazaruddin terlihat memikirkan sesuatu. Dia kemudian mengeluarkan kertas yang telah dilipat kecil dari dalam dompetnya. Itu catatan daftar nama yang saya berikan padanya tadi siang.
“Di sini tanggal kematian Pak Atmadi belum tercatat.”