Saya terbangun dengan Nazaruddin berada di samping ranjang. Melihat wajah Nazaruddin yang tampak tenang justru menimbulkan gelombang aneh di dada saya.
“Kamu ditemukan warga jatuh di jalanan, Dik.”
“Cuma saya saja?”
“Memangnya ada orang lain lagi?”
Pertanyaan Nazaruddin membuat saya dilema untuk menceritakan apa yang sebenarnya membuat saya terbaring. Di antara ingatan yang samar, saya yakin ada sekelompok orang yang datang dan terpaksa menyelamatkan. Entah saya atau korban lainnya yang pada akhirnya diselamatkan kelompok itu.
Nazaruddin menjelaskan bahwa dia baru saja datang ke puskesmas tempat saya di rawat karena ada warga yang datang ke polsek melaporkan soal korban kecelakaan dan menemukan kartu identitas saya sebagai bukti. Iptu Mahendra yang menerima laporan dari bawahannya langsung menghubungi Nazaruddin.
“Ini tanggal berapa, Bang?”
“22. Kenapa?”
“Saya kira sudah pingsan berhari-hari.”
“Tapi kamu butuh istirahat berhari-hari, Dik. Kelihatannya kamu sudah bekerja di luar batas akhir-akhir ini sampai fokusmu berkurang. Kecelakaan tunggal ini jadi buktinya.”
Sejujurnya ada penyangkalan yang ingin saya luapkan, tapi memendam keingintahuan jauh lebih baik dalam kondisi yang saya alami.
“Komandan bilang kamu dapat cuti. Dia juga sudah menghubungi orang tuamu. Mungkin lusa ibumu ke sini.”