PITA KESAKSIAN

G. A. Puspagathy
Chapter #24

TUTUR BEGJA ~ 24

Saya limbung begitu menyusuri lorong rumah sakit. Tiga hal telah mengoyak kewarasan saya. Fakta bahwa saya adalah penanda yang menyebabkan orang tak bersalah terbunuh, lalu kenyataan tentang ibu Darsinah yang telah mengembuskan napas terakhir karena kecelakaan yang kabarnya disengaja dan terakhir perginya Triyas tanpa seorang pun tahu. 

Saat mendatangi loket rumah sakit, saya bertemu salah satu keluarga ibu Darsinah yang tergesa-gesa menuju parkiran. Saya menghentikannya hanya sekadar ingin bertanya di mana ibu Darsinah dirawat. Namun jawaban lelaki yang sudah kalut itu membuat saya menyesal karena terlalu lama berbaring di ranjang rawat inap puskesmas. 

“Mbak Darsinah sudah ndak ada, Mas. Ini saya mau ngejar Triyas. Takut kalau ada apa-apa.” 

Saya mengikuti langkah lelaki yang berujung pada keputusasaan. Katanya, Triyas merebut kunci sepeda motor begitu mendengar ibunya dinyatakan meninggal setelah semalam ditangani di IGD. Triyas terus mengumpat nama Aryanto, menyalahkan mantan kekasihnya yang sengaja menyuruh orang untuk menabrak ibunya. Saat saya menanyakan kemungkinan Triyas ke tempat Aryanto, lelaki itu bersandar pasrah pada tiang penyangga atap parkiran dan mengatakan tidak ada yang tahu alamat Aryanto kecuali Triyas dan orang tuanya. 

Triyas, saya tidak tahu apa yang akan kamu lakukan saat kewarasanmu ditelan dendam. Saya pernah merasakan itu dan melampiaskannya dengan brutal. Namun kondisi kita berbeda, bisa saja kamu yang menjadi korban jika benar dugaanmu tentang kecelakaan yang menimpa ibumu adalah kesengajaan. Sebelum kamu menjadi korban selanjutnya, saya akan melepas liarkan harimau lapar dalam diri saya. 

Tubuh saya terseok-seok kembali menuju jalan keluar rumah sakit. Saya sudah berjanji pada saudara ibu Darsinah untuk membawa pulang Triyas dengan selamat. Lelaki yang saya ketahui saudara tertua ibu Darsinah itu menahan saya. Mungkin dia mengkhawatirkan kondisi saya yang jelas tampak babak belur. Dia meminta saya memberitahukan saja alamat Aryanto. Tidak, saya takut akan ada korban lagi. Jika pun ada, biarkan saya yang jadi korbannya. 

Harimau lapar dalam tubuh saya sudah menggeram ingin lepas, tapi saya terus menahannya. Alamat yang telah diselipkan Triyas di saku jaket saya semalam akan jadi lahan yang pas untuk berburu mangsa lagi. 

Berteman tukang ojek pangkalan rumah sakit yang mengantar menuju tempat yang tidak pernah saya harapkan, saya menembus pikiran-pikiran buruk yang menusuk. Amankah Triyas di sana? Di antara angin semilir pergantian waktu menuju sore, saya mendengar jelas suara lembut ibu yang merapuhkan hati. 

Triyas itu lahir dan jadi penghibur ibu setiap ibu kangen kamu, Le. Senyumnya itu jadi sumber kebahagiaan buat ibu, buat keluarganya. Sekarang sumbernya sudah kering. Mati. Ada yang lancang mengambil. Kamu tahu siapa yang lancang mengambil, Le. Orang tuanya sudah berusaha sampai mati mengambil kembali senyum Triyas yang hilang, tapi gagal. Kamu mau, Le mewakili ibu? 

Tanpa diminta ibu pun, saya sudah bertekad mengembalikan senyum Triyas seperti yang dirindukan ibu. Apa pun yang diminta Triyas, bagaimana pun caranya, saya bisa mewujudkannya. Apalagi jika mencabut nyawa Aryanto, saya pastikan tidak akan gagal. 

Tukang ojek menurunkan saya sesuai alamat di kawasan perumahan kepolisian yang sepi. Astrea dengan plat nomor yang saya kenali, meyakinkan saya untuk segera mendobrak masuk. Namun pikiran itu segera saya hempaskan. Saya ingin bermain rapi, sama seperti lawan saya. 

Saya mengetuk seolah tamu. Tidak segera ada jawaban hingga dua menit. Jeda waktu itu, dalam bayangan saya sudah cukup untuk membuat korban dibekap dan terikat. Bahkan jika di rumah Aryanto ada persenjataan api milik orang tuanya, saya masih punya harimau lapar yang siap menerkam. 

Tepat seperti dugaan saya, Aryanto macam anak monyet yang menggigil melihat cengiran harimau ketika membuka pintu. Saya tidak butuh menjawab pertanyaan basa-basi tuan rumah. Yang saya lakukan cukup berteriak meyakinkan seseorang yang bisa saja sedang menangis tertahan di dalam sana. 

“Triyas! Saya di sini seperti yang kamu mau tadi malam.” 

Pernyataan tegas saya rupanya jadi pemicu tuan rumah menghajar pipi kiri saya. Tubuh saya sudah kebas karena serangan semalam. Jadi saya biarkan harimau yang lapar mengambil alih tubuh saya. 

Satu serangan dibalas dengan satu serangan yang telah berlipat ganda. Mangsa saya sudah tersungkur menabrak lantai. Aroma amis darah membuat nafsu si harimau lapar makin beringas. Tidak ada jeda bagi Aryanto untuk duduk sedikit saja. Kepalan tangan saya masih kuat menghajar puluhan kali. 

Setiap darah yang terciprat keluar dari mulutnya, menambah tenaga untuk mengepal lebih kuat lagi. Di pukulan ke-23, mata pongah itu menutup sempurna. Penyiksaan ini belum berakhir, dia belum mati dan tokoh utamanya belum hadir. 

Lihat selengkapnya