PITA KESAKSIAN

G. A. Puspagathy
Chapter #25

TUTUR BEGJA ~ 25

Dua jam saya lalui berkendara dengan Triyas. Saya benar-benar merasa bersalah membuatnya melalui hari yang sangat berat. Berkali-kali saya rasakan dia mencengkeram kuat pinggang saya seperti melampiaskan amarah yang dipendamnya. Kepalanya pun dibentur-benturkan di punggung saya. Meskipun tersamar dengan suara kendaraan, saya masih mendengar tangis Triyas. 

Saya tidak tahu sampai di daerah mana, tapi Triyas sudah memberikan kode agar saya pelan-pelan setelah melewati wilayah pertokoan pasar. Di depan ruko perhiasan, Triyas menyuruh saya berhenti. Saya mengikutinya melewati gang tikus di antara ruko yang hanya boleh dilewati dengan menuntun sepeda motor. Rumah-rumah kecil rapat tanpa halaman jadi pengisi pandangan sampai langkah Triyas terpasak di depan pintu yang berhiaskan tanduk kepala sapi. Sudah sampai, katanya. 

Seorang perempuan mungkin seumuran ibu Nariyah membukakan pintu setelah Triyas mengetuknya berulang kali. Tatapannya mencurigai kami. Perempuan itu menanyakan detail identitas dan keperluan kami. Saya sempat kecewa ketika perempuan itu dengan singkat menyampaikan bahwa dia tidak mengenal Pak Bukhari, bapak kandung saya. 

Meskipun Triyas bercerita bahwa dia sudah dianggap sebagai anak oleh Pak Bukhari bahkan pernah diajak ke rumah itu, perempuan itu bersikukuh tidak mengenal Pak Bukhari. Pintu rumah segera ditutup, dikunci dan seperti diganjal sesuatu. Saya dengar perempuan itu berlari menjauh dari pintu. Perjalanan kami terasa percuma dan berakhir tanpa petunjuk. 

“Aku yakin ini rumahnya, Mas Begja.” 

“Rumahnya bisa jadi benar, tapi penghuninya mungkin sudah berubah.” 

“Ya ... mungkin. Aku juga belum pernah ketemu ibu yang tadi, Mas. Terus kita mau cari Pak Bukhari ke mana lagi? Kemarin malam Pak Ali cuma cerita kalau ada kenalannya yang juga sepupunya Pak Bukhari. Alamatnya ya di sini. Kata Pak Ali, Pak Bukhari aman di sini.” 

“Kita numpang istirahat di sini dulu sebentar. Setelah itu saya antar kamu pulang.” 

Triyas menolak. Apa pun yang terjadi dia tak mau pulang. Tubuhnya gemetar saat dia mencap dirinya sebagai pembunuh. Katanya, cepat atau lambat orang tua Aryanto akan melacak ke mana anaknya hilang. Saat hari itu datang, Triyas membayangkan sesuatu yang membuatnya tak bisa membendung tangis bercampur gigil. Dia sudah merencanakan akan bunuh diri sebelum tertangkap polisi. 

“Buat apa? Kamu sudah melakukan hal yang benar. Jadi kamu harus hidup untuk mengungkap kebenarannya.” 

“Aku pembunuh, Mas Begja.” 

Saya tahu betapa terguncangnya Triyas hari itu. Saya pernah mengalaminya beberapa hari sebelumnya. Membunuh untuk pertama kalinya. Sesuatu yang harusnya tak pantas dilakukan abdi negara seperti saya. Namun apa yang saya lakukan dan yang dilakukan Triyas adalah langkah cepat dari hukum yang cacat dan lambat. 

Ratapan Triyas yang mengiris habis rasa welas saya, rupanya didengar langit malam yang ikut pula meratap lewat hujan. Saya tidak punya keinginan menyudahi tangisnya. Mungkin dengan begitu luka-luka yang terguyur tangis bisa luntur sedikit rasa sakitnya. Saya hanya bisa berikan sandaran supaya dia tetap kuat menyangga hidupnya yang remuk hari ini. 

“Nduk? Triyas?” Ada suara lelaki yang mendadak muncul dari balik pintu yang tadi menolak kehadiran kami. “Masuk sini, Nduk.” 

Lihat selengkapnya