PITA KESAKSIAN

G. A. Puspagathy
Chapter #26

REKAM INGATAN ~ 26

Satu-satunya yang tetap selama selustrum kurungan hanyalah ingatan saya. Sama seperti di hari akhir kebebasan yang telah lama lewat, di hari pembebasan ini ada yang menunggu kesaksian saya. 

Terima kasih untuk Triyas dan Mbak Suci yang sudah memberi tempat untuk saya kembali bersuara. Tumpukan kaset pita yang telah diberi nomor urut dan judul tuturan mengingatkan saya untuk memulai rekaman di hari terakhir saya bertemu bapak. 

*** 

Saya merasa beban yang menghambat langkah sudah berpindah pada kaset pita rekaman kesaksian saya yang disimpan Mbak Suci. Malam tanpa tidur panjang itu saya lalui dengan menghabiskan rindu memandang wajah bapak yang lelap dibalut sarung. Penantian bapak puluhan tahun untuk bersama saya kembali, ternyata harus terjeda saat matahari tegak mengetuk celah-celah atap. 

Saya harus pergi kalau tidak ingin bapak mati. Itu kejelasan dari peringatan Pak Ali lewat telepon. Kenyataannya, melangkah keluar dari pintu rumah Mbak Suci seperti mengajak saya kembali pada penyesalan di hari terakhir ibu. Bagaimana jika setelah saya pergi justru orang-orang asing membantai bapak, Triyas dan Mbak Suci? 

Kalender menunjukkan angka 24, tanggal yang sama tertulis di catatan Pak Ali tentang hari kematian bapak. Untuk inilah saya datang. Saya tidak akan pergi sampai ada kepastian bapak aman. Sayangnya pagi itu pertanda sudah datang lewat bangkai ayam jago hitam di depan pintu rumah Mbak Suci. 

Saya ingat tatapan datar Mbak Suci saat membungkus bangkai ayam dan membuangnya. Dia tidak takut ancaman yang ditujukan untuknya, tetapi dia khawatir tanda itu justru bukan untuk Mbak Suci. 

“Harusnya rumah ini tempat aman untuk Mas Bukhari. Tapi sepertinya kita harus mengungsi sementara waktu.” 

Mbak Suci tidak tahu harus bersembunyi di mana dengan membawa bapak yang mudah linglung. Ditambah lagi Triyas yang bersikeras ikut Mbak Suci dan ingin membantu merawat bapak. Saya berpikir ingin meninggalkan pekerjaan saat itu juga, tanpa pamit. Namun suara halus ibu menyusup dan menginginkan saya menyelesaikan apa yang belum selesai. Sebuah pertanggungjawaban. 

Saya tarik kembali alasan bapak diincar. Semua karena iming-iming Pak Dewan soal kedatangan saya dan memang saya datang. Saya tarik lebih panjang lagi berpuluh tahun lalu. Semua karena seseorang yang menginginkan saya dan memaksa orang tua kandung saya untuk melepas buah hatinya. 

Siapa yang harusnya bertanggung jawab? 

Suara halus itu memberi pertanyaan pada saya dan jawabannya sudah jelas. Orang tua angkat saya harus tahu semua yang menimpa bapak dan ibu kandung saya. 

Pagi itu saya menghubungi ayah atau ibu atau siapa pun yang ada di rumah sekadar memberi kabar bahwa saya akan pulang membawa bapak, Triyas dan Mbak Suci. Saya merasa masih ada perlindungan di sana meskipun ayah sudah pensiun. Namun berkali-kali panggilan saya hanya berujung nada panjang tanpa jawaban. 

“Saya akan kembali ke koramil.” 

Keputusan nekat saya jelas ditentang Triyas dan Mbak Suci. Memang saya mendapat cuti hingga tiga hari, tapi perkataan Nazaruddin tentang kedatangan orang tua saya setelah diberi kabar soal kecelakaan yang saya alami, jadi jawaban kenapa panggilan telepon berakhir tanpa suara satu orang pun. Kesempatan itu yang akan saya ambil. Ayah harus bertanggung jawab atas keselamatan bapak dan melindungi Triyas juga Mbak Suci. Selebihnya saya sudah menerima segala konsekuensi atas perbuatan saya yang di luar batas. 

“Mas Begja bisa telepon ke koramil dulu. Minta tolong siapa pun buat menyampaikan pesan ke orang tua Mas Begja.” 

Saran Triyas cukup aman untuk dilakukan. Maka saya melakukan sebuah panggilan. Untungnya Nazaruddin yang mengangkat. Dia mengomel, mencemaskan saya yang tiba-tiba kabur dari puskesmas dan tidak ada di kos-kosan. Nazaruddin kebingungan mencari saya sebab komandan terus menanyakan sampai pagi ini. Saya cukup menjawab ingin beristirahat di tempat yang tenang. 

Lihat selengkapnya