PITA KESAKSIAN

G. A. Puspagathy
Chapter #27

REKAM INGATAN ~ 27

Saya kembali berurusan dengan kepolisian. Sebenarnya saya sudah bosan dicurigai. Tuduhan mereka, saya adalah bagian dari para ninja yang membuat kekacauan di masyarakat hari-hari ini hanya karena kemampuan saya yang tidak biasa sebagai warga sipil sebab bisa melumpuhkan empat preman sekaligus. Ketika mereka menemukan identitas saya di dompet yang digeledah, tuduhan mereka berubah dan menganggap saya bagian dari pasukan khusus yang turun langsung. 

Dua tuduhan itu menghasilkan respons yang berbeda. Seandainya saya murni warga sipil yang ingin menyelamatkan orang terdekat dengan membunuh pelaku, jelas saya akan mendekam di balik jeruji sementara waktu sampai terbukti saya tidak bersalah. Kenyataannya, hukum tunduk pada status sosial seseorang. Saya dibebaskan setelah interogasi panjang yang menemukan bukti identitas yang sengaja saya sembunyikan. 

Masih belum terlambat menepati janji kembali ke koramil. Saya sempatkan ke wartel sekadar mengabari Nazaruddin. Darinya saya tahu orang tua angkat saya baru saja sampai. Suara ayah mengambil alih suara Nazaruddin. Kali itu saya baru merasakan suara ayah melunak, tidak tegas seperti biasanya. Ayah bahkan menawarkan untuk menjemput saya. Ada tanggung jawab yang belum saya selesaikan jika ayah mendatangi saya yaitu pesan Triyas untuk menyampaikan permintaan maaf pada keluarganya dan mengembalikan sepeda motor milik pakde Triyas. 

Saya tidak pernah menyesali keputusan kembali ke tempat kerja meskipun saya sadar ada hal yang siap menerkam. Mereka berwujud pengintai yang membaur dengan para pengguna jalan. Yang saya sesali adalah tidak sekalian mencabut nyawa dua preman yang diamankan pihak kepolisian. Mungkin mereka telah minta bantuan komplotannya. 

Di jalanan yang melewati area bebas pemukiman, barisan pengguna jalan perlahan membuat jarak yang begitu jauh. Saya tidak bisa mengejar yang ada di depan dan terlalu lambat jika saya menunggu truk besar di belakang. Celah itu rupanya diisi empat sepeda motor dan sebuah mobil. Dua sepeda menyalip dan menghadang jalan di depan saya. Dua lagi menguntit tepat di belakang. Sedangkan mobil menutup jalan di sisi kanan. Mereka seperti sengaja menggiring saya ke sebuah belokan, lepas dari jalan raya. 

Saya tahu itu jebakan. Saya berusaha mencari celah jalan untuk keluar dari kepungan. Sayangnya mobil di samping tak ragu menyerempet saya hingga terpental keluar jalur. Tubuh yang belum sepenuhnya sembuh, kembali menerima benturan keras. Rasa sakit itu terpaksa saya tularkan. Begitu kuat berdiri lagi, saya kalap menghajar siapa pun yang berdiri di dekat saya. Keyakinan saya mengatakan merekalah yang sengaja menabrak. 

Entah 7 orang atau lebih, mereka mengeroyok saya. Beberapa ada yang membawa celurit sebagai senjata. Saya cukup membayangkan mereka adalah para pembantai ibu dan pengincar nyawa bapak, maka harimau ganas dalam diri mulai menggila. Kesakitan saya harus mereka rasakan juga. Membunuh pun tak masalah. 

Latihan selama pendidikan militer yang pernah saya jalani lebih dari cukup untuk mengajarkan saya bertahan dan melakukan penyerangan meski terjadi dalam waktu panjang. Sejak kejadian yang membuat saya berakhir di ranjang puskesmas, di stasiun hingga saat pengeroyokan di pinggir jalan, fisik saya masih bisa diajak berkompromi. Namun saya tidak yakin akan bertahan jika setelah itu ada serangan yang lebih besar lagi. 

Saya merebut celurit, mengoyak tubuh orang-orang yang mengeroyok saya. Dua sudah tumbang. Lainnya murka. Saya tidak diberi ruang untuk bergerak saat mereka berbarengan memegangi tubuh saya. Ada yang menghajar perut dan dada saya. Ada yang memukuli wajah saya hingga mati rasa. Ada yang menggeledah tubuh saya. Begitu menemukan identitas saya, saya dengar salah satu dari mereka merencanakan sebuah tuduhan. 

Kartu identitas saya dibakar. Satu di antara mereka lari ke jalanan meminta tolong pada pengguna jalan dengan mengatakan saya preman yang membunuh temannya. Berbondong-bondong orang menghakimi saya dengan tinju, batu dan kayu. Rasanya malaikat maut sudah hinggap di perut. Saya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi setelah itu. 

*** 

Terbangun di dalam penjara. Itu hal yang tak pernah terpikirkan. Saya berubah jadi warga sipil yang tak punya hak membela diri. Cukup pelintir cerita dan pakai saksi yang tidak tahu kronologi kejadian, maka saya diputuskan bersalah. Kurungan selama delapan tahun harus saya terima tanpa protes. 

Menjalani kehidupan baru membuat saya melihat dari sudut pandang narapidana. Ada sembilan rekan satu sel yang perlahan berubah menjadi saudara. Mereka bukan penjarah, bukan pembunuh seperti yang dituduhkan. Mereka melakukan hal yang dianggap kejahatan untuk bertahan hidup di masa sulit. 

Dua rekan saya mengaku mencuri sekuintal gabah di sebuah penggilingan padi. Mirisnya mereka adalah petani yang padinya dirampas oleh pemilik penggilingan tersebut hanya karena memiliki sejumlah utang yang beranak pinak. Padi milik mereka dibeli dengan harga di bawah standar. Sedangkan kebutuhan hidup terbang tinggi seperti punya sayap. Terpaksa mereka berutang untuk membeli bibit dan pupuk demi kelanjutan pekerjaan mereka. 

Mereka harus terima nasib dikurung empat tahun penjara meninggalkan anak istri. Bagaimana bisa mereka membela diri jika si korban lebih punya kuasa lewat tuturan yang dilebihkan bersama suapan uang? Takdir menyuruh mereka belajar legawa. 

Lihat selengkapnya