Saya mendapat pengurangan masa tahanan sehingga hanya menjalani lima tahun saja. Mungkin itu berkat usaha ayah yang entah melobi siapa. Saya ingat ayah tiba-tiba datang di tahun keempat saya di penjara. Itu kali pertama saya mendapat kunjungan.
Ayah mengatakan jika selama saya menghilang, hanya bapak saya yang yakin bahwa saya masih hidup. Bapak percaya saya akan pulang bersamanya, bersama ibu juga. Lalu bapak meminta Mbak Suci mencari saya. Pada akhirnya hasil penelusuran Mbak Suci membawa ayah menemui saya.
“Sebagai orang tua yang sudah berjanji membesarkan kamu, ayah punya kewajiban memberikan hidup yang layak buat kamu. Penjara bukan tempatmu. Ayah sudah memberi jalan buat pekerjaanmu tapi nanti setelah bebas, hakmu sepenuhnya memilih jalan mana.”
Jalanku selanjutnya tidak bisa lagi kembali ke jalur yang lama. Bukan karena saya tidak punya peluang kembali ke pekerjaan lama, tetapi nurani dan pikiran saya bersepakat menolak. Saya memilih menyuarakan kesaksian-kesaksian yang pernah terbungkam di tahun-tahun suram bersama Mbak Suci dan Triyas.
Saya berutang besar pada Mbak Suci dan Triyas yang sudah menghidupkan kembali kebersamaan saya dengan bapak yang terjeda selama lima tahun. Dalam rentang waktu itu, ternyata bapak masih belum berubah, masih sering linglung jika sudah mengingat semua hal tentang ibu. Namun linangan air mata bapak saat memeluk saya, sudah cukup menjelaskan betapa bapak selama ini menahan duka. Saya tidak akan meninggalkannya lagi.
Kata Triyas, bapak selalu ingin pulang. Dia yakin saya dan ibu menunggu bapak di rumah. Anak mana yang tak ingin membuat secuil kebahagiaan untuk orang tuanya? Begitu saya bebas, Tirta Arum jadi tujuan saya meskipun rasa sakit itu masih terasa.
Awalnya Triyas menolak ikut ke Tirta Arum. Dia tidak tahu cara menghadapi keluarga besarnya setelah sekian lama hilang tanpa kabar. Saya tahu bukan keluarga besar Triyas yang jadi sumber ketakutan Triyas untuk kembali. Dia masih takut pada bayang-bayang keluarga Aryanto.
“Kalau kamu takut pulang, kamu bisa pulang di rumah bapak bersama saya. Itu akan jadi rumah kita kalau Dek Triyas mau. Sederhana tapi aman.” Saya tidak punya apa-apa yang bisa saya tawarkan pada Triyas selain itu.
Sebelum saya mengajak bapak kembali ke rumahnya yang sudah tinggal tanah, saya lebih dulu ke sana. Bayangan saya, puing-puing rumah tempat ibu mengembuskan napas terakhirnya sudah tertutup rumput liar setinggi dada. Jalanan ke arah rumah itu pun pasti tak terjamah sebab orang-orang kampung merasa takut dengan tragedi yang menimpa ibu. Kenyataan yang saya dapat sama sekali berbeda. Ada rumah yang berdiri di tanah bekas rumah ibu.
Rumah itu tampak terawat. Tidak ada rumput tinggi di halamannya. Saya mengintip dari jendela, tidak ada perabot yang mengindikasikan rumah itu dihuni. Hanya ada satu lincak di depan pintu masuk. Saya duduk di sana, membayangkan semua kejadian tragis itu tidak pernah terjadi. Lalu di sebelah saya ada ibu yang menemani.