Plan B

Komandala Putra
Chapter #1

Bab 1 — Healing

Sebuah kartu undangan berwarna krem tergeletak di atas meja.

Di bagian tengahnya, foto seorang wanita berkebaya hijau tersenyum ke arah kamera. Tangannya melingkar di lengan seorang pria berseragam dinas. Warna seragamnya senada dengan kebayanya.

Di bawah foto itu tercetak tanggal: 9 Agustus 2025.

Di bagian bawah kartu tertulis: Kepada Yth. Ferry Irawan.

Di samping kartu itu tergeletak sebuah dompet kulit dalam posisi terbuka. Dari balik plastik bening di dalamnya, terlihat foto lama: Ferry dan Nadya berdiri berdampingan, tersenyum ke arah kamera.

Tak jauh dari situ, Ferry duduk di lantai. Punggungnya menempel ke sofa. Tangannya memegang ponsel, membuka Instagram.

Di sana, Nadya berdiri dengan gaun putih, memeluk pria berjas hitam. Lampu kristal megah berpendar di lantai mengilap di belakang mereka.

Di bawah foto, ada puluhan ribu likes dan ribuan komentar. Beberapa akun selebritis meninggalkan ucapan selamat.

Ferry menggulir ke bawah.

Akun resmi kementerian ikut memberi ucapan selamat. Disusul akun perusahaan besar yang sering muncul di berita bisnis.

Ferry menggeser ke kanan.

Foto lain. Karangan bunga berderet. Beberapa pria berseragam hijau berdiri di barisan tamu.

Jarinya bergerak. Layar kembali ke halaman utama. Di sana terlihat tanggal 14 Agustus 2025.

Ferry meletakkan ponselnya di lantai. Ia mengunci layar, lalu membukanya lagi tanpa sadar.

Dari luar pintu terdengar langkah kaki melewati koridor, disusul bunyi lift berhenti dan terbuka. Suara itu teredam dinding beton, menjadi gema pendek yang cepat hilang.

Dari arah dapur, suara kulkas terbuka.

“Gua udah pesen,” kata Willy ringan. Ia mengambil botol air dan menutup pintu kulkas dengan dorongan kaki. “Vila tiga kamar.”

Baim duduk di sofa dekat Ferry, menatap pria 27 tahun itu tanpa banyak bicara.

Lihat selengkapnya