Udara masih tipis ketika mobil tujuh penumpang berwarna hitam itu melaju di jalanan Jakarta yang masih lenggang.
Baim duduk di balik kemudi. Tangannya mantap di setir, mata fokus ke depan.
Ferry duduk di sampingnya, menatap jalan yang memanjang lurus. Tawa kecil terdengar dari belakang. Ferry melirik kaca spion tengah.
Di baris kedua, Willy duduk di kursi tengah.
Di samping kanannya, model pertama—yang namanya sudah Ferry lupa—menempel tanpa jarak. Pahanya terbuka oleh potongan celana pendek dan tangan Willy bergerak santai di atasnya.
Di sisi kiri, tepat di belakang kursi Ferry, model kedua duduk dengan kaki menyilang. Rok denimnya terangkat sedikit saat ia bergeser posisi.
Rambutnya jatuh di bahu. Aroma parfumnya tipis namun menetap, bercampur dengan udara pendingin yang berembus pelan dari dashboard.
Model pertama membisikkan sesuatu ke telinga Willy. Willy tertawa pendek. Wanita itu menepuk tangan Willy manja.
Baris ketiga dilipat. Dua koper dan dua tas jinjing berjejer.
“Gua bilang juga apa,” kata Willy, setengah berbisik, setengah tertawa. “Udara luar kota beda.”
Model pertama menyenggol bahunya pelan. “Belum nyampe juga.”
Ferry menatap jalan tol yang mulai menanjak. Matahari naik pelan di sisi kiri. Cahaya memantul di kaca depan.
Di spion, Willy mencium pipi model pertama. Lalu bibirnya. Wanita itu terkekeh kecil.
“Fer,” kata Willy, “jangan dianggurin tuh.”
Model kedua memegang pundak Ferry, membelainya.
Ferry menatap jalan. Tidak berkata apa-apa.
Willy terkekeh. “Have fun, Bro.”
"Nanti aja,” jawab Ferry cepat.
Baim tersenyum kecil, hampir tak terlihat. Tangannya memindahkan tuas persneling.
Jalan mulai ramai. Di kejauhan, suara sirene terdengar samar. Lalu semakin jelas.
Tot … tot … wuk wuk ....
Iring-iringan mobil hitam melintas di jalur kanan.
Lampu strobo biru-merah berkedip di atap salah satu kendaraan pengawal. Mobil paling depan dan paling belakang memiliki plat dengan warna dasar berbeda dari kendaraan biasa.
Baim memindah jalur dengan tenang. Semua mobil di sekitar melakukan hal yang sama. Kolom kendaraan terbentuk di pinggir seperti lautan membelah.
Ferry menoleh sekilas. Matanya berhenti pada kombinasi angka dan huruf di salah satu pelat. Tidak lama, tapi cukup untuk mengingatnya.
Willy meniru bunyinya. "Tot tot wuk wuk." Teatrikal, dengan tangan di mulut seperti corong. "Minggir, rakyat jelata!”