Aspal halus perlahan berubah menjadi jalan beton sempit.
Setelah beberapa kilometer, beton itu pun habis. Ban mobil berderak di atas tanah padat bercampur kerikil. Pepohonan di kiri-kanan makin rapat. Udara terasa lebih lembap.
Tidak ada papan nama besar. Hanya plang kayu kecil yang digantung miring di batang pohon: nama desa yang catnya mulai pudar.
Mobil melambat.
Beberapa rumah panggung berdiri berjajar tidak rapi. Dindingnya dari kayu, sebagian dicat warna terang yang sudah memudar.
Jemuran tergantung di halaman. Seekor ayam menyeberang pelan, memaksa Baim mengerem ringan.
Anak-anak berhenti bermain ketika mobil lewat. Mereka tidak mendekat. Hanya melihat.
“Udah pernah ke sini?” tanya Ferry.
“Belum. Tahu dari temen kantor aja,” jawab Baim.
“Yang penting nggak ada pelat merah,” timpal Willy.
Ferry tidak menanggapi. Ia memperhatikan wajah-wajah yang mereka lewati. Tatapan itu tidak bermusuhan. Tapi juga tidak ramah berlebihan. Hanya melihat.
Di ujung jalan, seorang pria paruh baya berdiri di bawah pohon besar. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari. Kemeja lengan panjang digulung sampai siku. Ia mengangkat tangan memberi isyarat agar mobil berhenti.
Baim menurunkan kaca.
“Dari kota?” tanya pria itu.
“Iya, Mang,” jawab Baim. “Mau nginep satu-dua malam. Katanya bisa?”
Pria itu mengangguk pelan. “Bisa. Ikut saya.”
Mobil bergerak pelan mengikuti motor tua yang dinyalakan pria itu. Mereka melewati satu tikungan, lalu berhenti di depan rumah kayu yang lebih besar dari yang lain. Halamannya bersih. Ada kursi dan meja kayu di teras.
Pria itu mematikan motor.
Baim turun duluan. Lalu Willy.
Lalu Ferry. Udara desa terasa berbeda. Tidak sedingin kawasan vila tadi, tapi lebih ringan. Ia berdiri sebentar, membiarkan angin menyentuh wajahnya.
“Saya Baim. Ini teman saya, Willy dan Ferry. ” Tangannya terulur, cepat.
“Mang Ujang,” kata pria itu. Ia menjabat tanpa senyum lebar. “Di sini tenang. Air terjun dekat. Kalau mau keliling, bisa saya temani.”
Ia menunjuk ke sebuah rumah kayu yang berjarak beberapa rumah dari situ. Ukurannya lebih kecil. Catnya lebih baru, tapi tetap sederhana. “
Kalau ada tamu dari luar, biasanya di situ,” katanya. “Dua kamar. Kamar mandi di dalam.”
Baim mengangguk. “Cukup, Mang.”