Plan B

Komandala Putra
Chapter #4

Bab 4 — Air Terjun

Ketukan terdengar dua kali. Kayu pintu bergetar tipis.

Baim melirik ke arah jendela samping yang tirainya tidak tertutup rapat. “Fer,” katanya sambil menoleh ke Ferry. “Buka.”

Ferry berdiri tanpa bertanya. Ia memutar kunci dan menarik pintu ke dalam.

Ayu berdiri di ambang teras dengan nampan kayu di tangannya. Tiga piring nasi goreng sederhana, tiga gelas teh hangat. Uap tipis naik ke udara pagi yang masih lembap. “Sarapan,” katanya pelan.

Ferry mengangguk dan memegang sisi nampan untuk membantu. Ujung jarinya hampir menyentuh jemari Ayu.

“Masuk aja,” kata Ferry.

Ayu melangkah satu langkah ke dalam. Matanya cepat menyapu ruangan, lalu berhenti sebentar pada Willy dan Baim. Ia meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.

“Terima kasih,” kata Baim singkat.

Willy mengambil satu piring. “Mantap,” gumamnya.

Ayu berdiri tegak, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Tidak duduk. Tidak bertanya.

Ferry mengambil gelas teh. “Setiap pagi sepi begini?” tanyanya.

Ayu mengangguk kecil. “Iya.”

Hening beberapa detik. Dari luar terdengar suara ayam dan gesekan sapu di tanah.

Baim menepuk bahu Willy pelan. “Kita ambil peralatan di mobil.” Nada suaranya biasa saja.

“Ya udah,” kata Willy.

Mereka berdua keluar, menuju mobil yang terparkir di samping rumah. Pintu tetap terbuka.

Di dalam, hanya Ferry dan Ayu.

Ferry masih memegang gelas. Uapnya menyentuh wajahnya. “Air terjunnya jauh?”

“Tidak,” jawab Ayu. “Lurus saja. Nanti ada batu besar.” Ia berhenti sebentar. Tatapannya bergeser ke arah jendela belakang, ke arah pepohonan yang lebih rapat. Lalu ia diam.

Ferry mengikuti arah pandangnya. “Ke sana?” tanyanya pelan.

Ayu tidak langsung menjawab. Jari-jarinya saling menekan satu sama lain.

“Kalau sudah melewati batu besar,” kata Ayu akhirnya, “jangan terus.” Nada suaranya tidak berubah.

Ferry menatapnya. “Kenapa?”

Ayu tak menjawab.

“Yang Bapak bilang kemarin?”

Ayu mengangguk.

Dari luar terdengar suara Willy tertawa kecil.

Ayu melangkah mundur satu langkah. “Nanti kalau udah mau berangkat, bilang saja ke Bapak.”

Ferry mengangguk.

Sebelum berbalik, Ayu menatapnya sekali lagi. Singkat. Ada sesuatu di matanya yang seperti ingin berkata lebih banyak, tapi tidak jadi.

Ayu turun dari teras dan berjalan kembali ke rumahnya.

Ferry berdiri beberapa saat. Lalu menoleh ke arah jendela belakang. Pepohonan di sana tampak biasa.

Sekitar satu jam kemudian, Willy berdiri di halaman, mengenakan kaos hitam dan celana pendek. Kacamata hitamnya terpasang meski matahari belum tinggi. “Berangkat sekarang aja,” katanya.

Lihat selengkapnya