Ferry yang masih tidur mendengar pintu kamarnya digedor berulang kali.
Ia membuka mata. Cahaya pagi masuk tipis dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kayu, belum sepenuhnya sadar.
Pintu digedor lagi.
“Fer,” suara Baim terdengar dari luar. Lebih rendah dari biasanya.
Ferry bangkit. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia berjalan ke pintu dan membukanya.
Baim berdiri di depan, kaosnya masih kusut. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Willy nggak ada,” katanya.
Ferry tidak langsung menjawab. “Maksudnya?”
“Dia nggak pulang dari semalam.”
Ferry melangkah keluar. Pintu kamar sebelah terbuka. Kedua ranjang single di dalam terlihat dari ambang.
Bantal dan selimut di salah satu ranjang tertata rapi. Tas Willy masih di sudut ruangan. Ritsletingnya tertutup.
Ferry berdiri beberapa detik, memandangi ruang itu tanpa masuk.
“Lu dengar dia pulang?” tanya Baim.
Ferry menggeleng, lalu berjalan ke teras.
Halaman masih basah oleh embun. Tanah padat bercampur kerikil. Tidak ada yang bergerak di depan rumah kayu itu.
“Wil!” panggil Baim.
Suara itu terdengar lebih jelas di udara pagi yang tipis. Tidak ada jawaban.
Ferry menuruni satu anak tangga. Ia melihat ke arah jalan di depan penginapan yang membelah desa. Beberapa pintu rumah sudah terbuka. Asap tipis naik dari dapur. Seekor ayam melintas pelan.
“Willy!” kali ini Ferry yang memanggil.
Tidak ada suara langkah menjawab.
Mereka berjalan menyusuri sisi rumah, ke belakang. Tanah lebih lembap.
Ferry memperhatikan sekitar, mencari sesuatu yang menandakan orang lewat—daun patah, puntung rokok, bekas pijakan. Yang terlihat hanya jejak-jejak lama yang tidak bisa dibedakan.
“Ke air terjun?” tanya Baim.
Ferry mengangguk kecil. “Kayaknya iya.”
“Gua kunci pintu dulu,” kata Baim.
Baim kembali ke teras dan mengunci pintu. Lalu menemui Ferry yang menunggu di jalan.
Mereka melewati dua rumah pertama di sisi kiri.
Seorang perempuan tua sedang menyapu halaman. Ia berhenti sebentar ketika Ferry dan Baim lewat, lalu kembali menyapu tanpa bertanya apa-apa.
“Wil!” panggil Baim. Suara itu menyentuh dinding-dinding kayu, lalu hilang.
Di depan, seorang anak laki-laki membawa ember kecil berhenti di tengah jalan tanah. Ia menatap mereka beberapa detik, lalu menepi.
Mereka berjalan lebih cepat hingga sampai di ujung deretan rumah. Di sana, jalur setapak mulai terlihat—tanahnya lebih lembap, ditutup akar-akar pohon yang menyembul seperti urat.
Ferry mengenali jalur itu dari kemarin. Ia melangkah masuk tanpa menoleh lagi ke belakang.
Suara desa memudar pelan. Digantikan bunyi daun kering yang terinjak dan serangga pagi yang berdesing halus.
“Wil!”
Hanya gema pendek yang menjawab.
Mereka berjalan sampai batu besar yang kemarin menjadi penanda. Ferry berhenti di sana. Ia menatap kolam dangkal di bawah air terjun. Permukaannya tenang. Tidak ada riak selain jatuhnya air.
Willy tidak ada.
Ferry memutar tubuhnya, menatap sisi kiri air terjun—arah yang kemarin ditunjuk Mang Ujang sebagai batas.
Di sana, semak lebih rapat. Rumput lebih tinggi. Jalur kecil tampak samar.
Ferry berjalan dua langkah ke arah itu. Tanah di bawahnya terasa lebih lunak. Ia melihat satu ranting patah yang ujungnya masih segar. Di bawahnya, tanah sedikit tertekan.