Langit berubah kelabu. Asap tipis dari dapur-dapur warga naik lurus sebelum pecah oleh angin lembah.
Ferry duduk di tepi ranjang. Pintu kamar terbuka. Dari luar terdengar suara langkah-langkah yang lebih sering dari biasanya. Baim berdiri dekat jendela, mencoba menangkap sinyal. Tidak ada.
“Jam berapa sekarang?” tanya Ferry.
“Enam dua puluh,” jawab Baim.
Terdengar langkah kaki di halaman. Bukan satu orang. Beberapa.
Tok tok tok.
Ferry bangkit dan membuka pintu. Baim mengikuti.
Mang Ujang berdiri di depan pintu. Tiga pria yang tadi ikut mencari berdiri di halaman.
“Mari,” kata Mang Ujang. Nada suaranya datar seperti tadi siang.
Ferry dan Baim keluar rumah. Lalu Baim mengunci pintu.
Mereka menuruni tangga teras.
Ferry berdiri sebentar, menatap wajah para pria di depan rumah itu. Tidak ada yang terlihat tergesa.
Mereka mulai berjalan. Mang Ujang di depan. Ferry dan Baim di belakangnya. Para warga mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
Jalan tanah yang tadi lengang kini tampak berbeda. Beberapa pintu rumah terbuka. Beberapa wanita tua berdiri di ambang pintu, melihat mereka lewat tanpa berkata apa-apa.
Seorang ibu menarik anak kecilnya masuk ke dalam rumah ketika rombongan itu lewat.
Lampu-lampu bohlam kuning menggantung di teras rumah, menciptakan lingkaran cahaya kecil di tanah. Langkah mereka terdengar jelas di jalan yang sunyi.
Ketika mereka melewati tikungan kecil, Ferry melihat sosok yang dikenalnya.
Pria pincang itu duduk di batu di pinggir jalan.
Rambutnya kusut. Pakaiannya sama seperti tadi siang. Ia mengangkat kepala ketika rombongan lewat.
Tatapannya langsung berhenti pada Ferry. Tangannya terangkat sedikit, seperti ingin menunjuk sesuatu. Bibirnya bergerak mengeluarkan suara serak yang tidak membentuk kata.
Salah satu warga di belakang Ferry berjalan mendekat dan menyentuh bahu pria itu. “Sudah,” katanya pelan.
Pria pincang itu diam, tapi matanya masih mengikuti Ferry sampai rombongan itu melewatinya.
Beberapa rumah lagi mereka lewati.
Di ujung jalan, sebuah bangunan kayu yang lebih besar dari rumah-rumah lain berdiri di tengah lapangan tanah terbuka. Balai desa.
Lampu-lampu sudah menyala di dalamnya. Beberapa sepeda motor terparkir di depan. Puluhan pasang sandal berjajar di tangga kayu. Suara orang berbicara pelan terdengar dari dalam.
Mang Ujang menaiki tangga lebih dulu. Ferry dan Baim mengikuti.
Mendekati pintu masuk, Ferry melihat para warga sudah berkumpul. Mereka duduk melingkar di lantai yang dilapisi tikar pandan.
Semua percakapan pelan itu mereda ketika Ferry dan Baim masuk. Tidak langsung sunyi, tapi satu per satu suara berhenti. Beberapa warga masih berbisik sebelum akhirnya diam.
Di tengah lingkaran itu, seorang pria sekitar empat puluh tahun duduk bersila. Matanya terpejam. Tangannya diletakkan di atas lutut. Dukun.