Ferry duduk di ranjang Willy. Baim duduk di ranjangnya sendiri.
“Kita tunggu sepi,” kata Ferry.
Ia mematikan lampu kamar. Ruangan tenggelam dalam gelap yang lembut, hanya diterangi cahaya tipis dari lampu teras.
Setelah lama menunggu, Ferry berjalan menuju jendela depan. Ia mengintip.
Satu rumah di seberang, lampu tengahnya masih menyala.
Ia kembali ke Baim.
“Sekarang,” kata Ferry pelan.
Mereka mengenakan jaket tipis. Sepatu sneakers sudah di kaki sejak tadi.
Ferry menyalakan senter ponselnya, sementara Baim membuka pintu belakang sepelan mungkin. Engsel kayu mengeluarkan bunyi kecil. Udara lembap masuk ke rumah.
Ferry mematikan senternya.
Mereka keluar tanpa menutup pintu rapat.
Halaman belakang dipenuhi rumput tumbuh liar setinggi lutut, basah oleh embun. Tanahnya lembek ketika diinjak.
Baim menunjuk satu arah. Ferry mengangguk. Mereka berjalan sepelan mungkin.
Tak lama kemudian, mereka sampai ke jalur setapak yang biasa dilewati menuju air terjun.
Ferry menoleh ke arah rumah warga yang terdekat. Lalu menoleh ke arah jalan menuju air terjun.
Ia mengembuskan napas dalam, lalu menyalakan lampu ponselnya lagi.
Cahaya itu menyapu tanah di depan mereka: akar-akar pohon yang menyembul seperti urat, tanah yang lembap, dan sesekali batu kecil yang menonjol dari permukaan.
Mereka berjalan tanpa bicara. Udara di antara pepohonan terasa lebih dingin.
Suara desa memudar di belakang mereka. Yang tersisa hanya bunyi serangga dan daun kering yang sesekali terinjak.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan batu besar. Air terjun yang siang tadi terdengar jelas kini hanya menjadi gemuruh yang tertahan oleh malam.
Ferry berhenti sebentar di depan batu itu. Ia mematikan lampu. Beberapa detik mereka berdiri diam.
Mereka saling memandang. Lalu saling mengangguk.
Ferry dan Baim menyalakan senter ponsel dan melangkah melewati batu besar.
Beberapa langkah pertama tidak terasa berbeda. Tanah masih dipenuhi akar pohon yang menyembul seperti urat. Semak menggesek sisi celana mereka setiap kali lewat. Air terjun masih terdengar di belakang.
Ferry berjalan di depan. Sesekali, ia mematikan senter ponselnya, membiarkan mata menyesuaikan diri dengan cahaya bulan yang menembus sela daun. Batang-batang pohon tampak pucat di antara bayangan panjang.
Ferry berhenti sebentar dan menoleh ke belakang.
Batu besar yang tadi mereka lewati masih terlihat samar—gumpalan gelap di antara batang pohon. Di baliknya, suara air terjun terdengar lebih jauh.
Ia melangkah lagi.
Jalur di depan mereka makin menyempit. Rumput tumbuh lebih tinggi, beberapa bagian hampir menutup tanah. Daun-daun basah menempel pada sepatu mereka.
Serangga berbunyi lebih keras, seperti dinding suara yang menutup semua yang lain.
Sesuatu bergerak di semak di kiri mereka. Keduanya berhenti bersamaan.