Sinar senter itu bergerak cepat di antara batang-batang pohon.
Satu.
Lalu dua.
Lalu lebih banyak.
Ferry membeku di tempatnya. Baim berdiri di belakangnya, tubuhnya menegang. Suara kaleng yang tadi beradu masih berdengung di telinga mereka, seolah gema logam itu menolak hilang dari hutan.
Cahaya lain menyala di kejauhan. Sebuah suara pendek terdengar samar dari arah sana. “Kalengnya bunyi.”
Senter pertama bergerak lebih rendah, menyapu tanah di antara batang pohon. Lalu berhenti. Lalu bergerak lagi.
Ferry berjongkok. Baim juga.
Langkah kaki terdengar dari berbagai arah. Tanah diinjak dengan ritme yang teratur.
Ferry memasukkan ponselnya ke saku jaket di bagian dada. “Ke sana,” bisiknya nyaris tanpa suara.
Mereka berlari menembus semak-semak, menjauh dari ladang ganja. Daun-daun kasar menggesek celana mereka. Ferry menundukkan kepala.
Cahaya senter menyapu tempat mereka berjongkok beberapa detik sebelumnya.
Seseorang berbicara ke HT dengan suara tertahan. “Tidak ada di sini.” Suara statis menjawab sebentar, lalu hilang.
Ferry dan Baim bersembunyi di balik batang pohon besar.
Para pengejar lewat—hanya beberapa meter dari mereka.
Dua cahaya senter menyilang di tanah.
Ferry menahan napas sampai paru-parunya terasa panas.
“Ke sana,” kata pria itu pada temannya sambil menunjuk ke satu arah.
Langkah-langkah itu menjauh.
Setelah cahaya terakhir menghilang di balik pepohonan, Ferry menunggu satu detik lagi, memastikan tidak ada cahaya yang kembali. Ia memberi isyarat kecil. Mereka kembali menerobos semak-semak.
Tanah mulai menurun pelan. Akar-akar pohon muncul lebih rapat, memaksa mereka melangkah hati-hati.
Ferry tidak lagi mencoba mengingat arah. Yang ia tahu hanya bergerak sejauh mungkin dari ladang itu.
Suara dari HT terdengar lagi, lebih jauh. “Bagaimana di sana?”
Senter lain menyala di sisi kiri.
Ferry menarik Baim ke balik semak. Mereka merunduk. Cahaya putih menyapu tanah tepat di depan lutut mereka, berhenti sejenak pada bekas pijakan sepatu.
“Ada jejak sepatu.” Suara itu datang dari seorang pria yang berdiri hanya beberapa meter dari mereka.
Senter di tangannya bergerak naik, menyapu batang pohon.
Ferry dapat melihat siluet tubuhnya sekarang.
Satu pria lain mendekati pria pertama dari belakang.
“Kita ke sana,” kata pria kedua.
“Kamu duluan,” jawab yang pertama.
Senter pria pertama kembali turun ke tanah.
Ferry merasakan bahu Baim menegang di sampingnya.
Pria kedua mengangkat HT-nya. “Di sini kosong.” Langkahnya menjauh.