Ferry masih membekap mulut Baim.
Beberapa detik kemudian, setelah bunyi langkah kaki para pengejar benar-benar hilang, Ferry melepasnya.
Ia lalu menggeser tubuh Baim menjauh dari tiang penyangga. “Naik,” bisik Ferry.
Mereka merangkak naik kembali ke daratan.
Baim hampir tidak mampu berdiri tegak. Ferry menariknya.
Ferry menyalakan senter ponselnya sebentar.
Luka di sisi tubuh Baim sudah menembus kain yang dililit Ferry tadi. Darah merembes keluar, menghitam di kain yang basah.
Baim menarik napas pendek. “Jalan.”
Mereka bergerak menyusuri tepi sungai. Batu-batu licin memaksa mereka melangkah perlahan. Ferry memapah Baim dengan satu tangan, sementara tangan satunya menggenggam pisau.
Beberapa meter kemudian tanah kembali naik menuju hutan.
Baim mulai tertinggal setengah langkah. Napasnya terdengar berat, tidak teratur.
“Sedikit lagi,” kata Ferry pelan.
Baim tidak menjawab.
Mereka terus berjalan sampai Ferry merasa suara sungai cukup jauh di belakang. Di sini hutan terasa lebih sunyi. Tidak ada cahaya senter.
Baim tiba-tiba berhenti. Tangan kirinya mencengkeram bahu Ferry.
Ferry menoleh. “Kenapa?”
Baim tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menarik napas dalam. “Fer.”
Ferry menatap wajahnya.
Baim menggeleng pelan. “Lu lebih cepat sendirian.”
Ferry menggeleng.