Ferry mengayunkan pisaunya sekuat tenaga.
Sosok itu bergerak cepat ke samping. “Tenang. Saya Mang Ujang.”
Ferry masih memegang pisau. Dadanya naik turun cepat. Ia menatap wajah itu beberapa detik sebelum akhirnya mengenalinya. “Mang?”
Mang Ujang mengangguk kecil.
Ferry menurunkan pisaunya. Tangannya masih gemetar.
Mang Ujang menatap Ferry dari kepala sampai kaki—jaket basah, celana penuh lumpur, napas tidak beraturan. Lalu, matanya menyapu sekitar. “Mana teman kamu?”
“Teman saya,” Ferry menelan ludah, “dibunuh.”
Mang Ujang tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah hutan yang gelap di belakang Ferry.
“Ada banyak orang di sana,” lanjut Ferry. “Ladang ganja.”
Mang Ujang menatap Ferry. “Ladang ganja?”
Ferry merogoh saku jaketnya. “Saya sempat foto—”
“Kita ke mobil sekarang.” Mang Ujang melirik ke arah hutan di belakang Ferry sebentar, lalu berbalik.
Ia melangkah. Ferry berjalan di belakangnya.
Mereka melewati semak belukar. Sesekali Mang Ujang menyingkirkan cabang rendah dengan tangannya agar Ferry bisa lewat.